bukamata.id – Di sudut kawasan Ciledug, Kota Tangerang, di mana deru kendaraan tak pernah benar-benar berhenti, ada sebuah narasi yang tenang namun menyentuh hati. Narasi itu datang dari seorang bocah perempuan berusia 10 tahun bernama Agis Tasya Putri. Namanya mendadak menjadi perbincangan hangat di jagat maya setelah sebuah video di Instagram memperlihatkan dirinya tengah tekun menggambar dan menjajarkan hasil karyanya untuk dijual di pinggir jalan.
Namun, di balik viralnya sosok Agis, terdapat realitas yang jauh lebih dalam tentang perjuangan, kemandirian, dan mimpi-mimpi besar yang coba ia lukis di atas kertas-kertas sederhana.
Ruang Sempit, Mimpi Besar
Rumah Agis bukanlah bangunan megah dengan pagar tinggi. Ia tinggal di bawah lapak sederhana di kawasan Ciledug, Kota Tangerang. Tempat tinggalnya hanya berupa satu ruangan sempit yang disekat menjadi dua bagian. Sekat itu membagi ruang untuk tempat tidur dan ruang tamu seadanya. Di tempat itulah Agis menghabiskan hari-harinya, tumbuh bersama keterbatasan yang tidak pernah melunturkan binar di matanya.
Meski hidup dalam keterbatasan, Agis tetap tampak ceria seperti anak-anak seusianya. Jika sore tiba, ia sering terlihat bermain sepeda dan bercanda bersama teman-teman sebayanya di depan rumah, melupakan sejenak beban yang mungkin terlalu berat untuk pundak kecilnya.
Dinding lapak itu sendiri bercerita. Terbuat dari triplek, dinding tersebut menjadi galeri seni darurat. Di sana, terpajang sejumlah gambar karyanya yang belum terjual. Lembar-lembar kertas bergambar rumah, pantai, dan pepohonan tertata rapi menghiasi ruang sederhana itu. Sementara di lantai, krayon dan buku gambar berserakan—menjadi saksi bisu kreativitas yang lahir di tengah himpitan ekonomi. Di dalamnya terdapat karya-karya Agis, ada yang sudah selesai diwarnai, ada pula yang masih berupa sketsa menunggu sentuhan warna berikutnya.
Di balik gambar-gambar itu, berdirilah Agis, bocah yang berani menjual hasil karyanya sendiri demi membantu orang tua. Ia tidak mengeluh. Baginya, menggambar bukan sekadar hobi, melainkan jembatan untuk membantu perekonomian keluarganya.
Benih Kreativitas yang Tumbuh Sendiri
Keinginan Agis untuk memegang krayon dan kertas dimulai sejak lama. Saat ditanya kapan ia mulai mengenal dunia seni, jawabannya singkat namun penuh kepastian. “Dari 4 tahun,” ujar Agis.
Uniknya, motif awal ia menggambar sangatlah jujur dan polos. Gambar pertamanya masih ia ingat betul, yaitu menggambar rumah. Alasannya ternyata sederhana. “Karena pas sudah gede pengen punya rumah,” ujarnya. Kalimat itu mungkin terdengar seperti harapan biasa dari seorang anak, namun bagi Agis, itu adalah doa dan target yang ia usahakan melalui goresan tangannya.
Yang membuat bakat Agis semakin istimewa adalah fakta bahwa ia tumbuh secara otodidak. Ia tidak pernah mengikuti kursus lukis mahal ataupun belajar dari guru seni ternama. Kemampuannya mengalir begitu saja, murni dari imajinasi dan ketekunannya sendiri. Ketika ditanya apakah ia meniru atau melihat contoh dari orang lain, Agis menjawab tegas. “Enggak pernah,” ucap Agis.
Inspirasi gambarnya datang begitu saja. Tanpa perlu berlama-lama merenung, ia mampu menuangkan idenya ke atas kertas dengan kecepatan yang mengagumkan. Bahkan, untuk menyelesaikan satu gambar, ia hanya membutuhkan waktu sekitar lima menit. Ini adalah bakat alami yang jarang ditemukan, terutama pada anak seusianya.
Kemandirian di Pinggir Jalan
Keberanian Agis tak hanya terlihat dari kreativitasnya, tetapi juga dari kemandiriannya yang luar biasa. Jika anak-anak lain mungkin akan menunggu diantar atau ditemani orang tua saat berjualan, Agis memilih untuk melangkah sendiri. Ia berjualan sendiri di kawasan Puri Kartika, Ciledug, memajang hasil gambarnya tanpa ditemani orang tua.
“Enggak, aku sendiri nyari,” tuturnya. Ia memiliki rutinitas yang disiplin. Ia mulai berjualan sejak pagi. Jika sore, ia membuka lapak sekitar pukul tiga hingga setengah enam.
Harga yang ditawarkan pun sangat terjangkau. Gambar kecil ia jual seharga Rp5.000, sementara yang lebih besar Rp10.000. Untuk lukisan di kanvas yang lebih menantang, harganya bisa mencapai Rp20.000. Semua itu ia lakukan dengan inisiatif sendiri. Awalnya, ia mengaku hanya iseng membawa karyanya keluar. “Pertamanya sih bawa-bawa doang, terus dipajang-pajangin, aku kepikiran mau jual,” ujarnya.
Ide berjualan itu murni dari dirinya sendiri. Tak jarang, ada pembeli yang memesan gambar sesuai keinginan mereka. Ia pernah diminta menggambar pantai hingga berbagai bentuk lainnya. Agis melayani setiap permintaan dengan sepenuh hati, menunjukkan bahwa ia bukan hanya seorang seniman, tetapi juga seorang pedagang cilik yang bertanggung jawab.
Tanggung Jawab dan Impian Menuju Makkah
Meski masih kecil, Agis sudah memahami arti tanggung jawab. Ia tidak menggunakan uang hasil penjualannya untuk kesenangan pribadi semata. Uang hasil penjualannya tak ia habiskan sendiri. “Buat beli beras,” katanya pelan.
Sebagian besar ia serahkan kepada sang ibu untuk kebutuhan pokok keluarga. Namun, ia tetap menyisihkan sedikit untuk tabungan pribadi. “Nabung juga,” ujarnya. Biasanya, sekitar Rp2.000 hingga Rp5.000 ia simpan. Langkah kecil ini menjadi bukti kedewasaan Agis di usianya yang masih sangat belia.
Di balik kesederhanaannya, Agis menyimpan mimpi besar yang mungkin akan membuat siapa pun tersentuh. Ia ingin menjadi pelukis dan suatu hari pergi ke Makkah bersama orang tua dan kakaknya. “Kalau sudah sukses, pengen ke Makkah, ajak orang tua sama kakak,” pungkasnya.
Viral dan Dukungan Publik
Kisah Agis kemudian menyentuh hati banyak orang setelah akun TikTok @viero_art mengunggah video yang menampilkan Agis tengah melukis di parkiran minimarket. Terlihat Agis begitu fokus melukis di sebuah kertas, tidak peduli dengan hiruk pikuk suasana di sekitarnya.
Video berdurasi 1 menit itu diunggah pada 5 Februari 2026, dan hingga kini telah ditonton 2,7 juta penonton, dengan 1195 komentar, 176,7 ribu likes, dan 6398 shares. Netizen pun merasa kagum atas hasil karya Agis. Komentar-komentar dukungan pun membanjiri unggahan tersebut.
“pliss mas ajarin dia digitalisasi, bakatnya terlalu sayang untuk disiasiakan,” ujar seorang netizen yang melihat potensi besar dalam diri Agis.
Banyak pula yang merasa iba dan ingin memberikan apresiasi secara langsung. “inii aku suka ketemu adenyaa ramah bgttt aku suka salingg senyum sapa , biasanya di puri kartika depam TK sambil gambarr sambil di temenin kucing hehehe , dee aku jrg ketemu kamuu skrg , pdhl mau kasih pensil warna dll , kamu dimanaa ga ketemu ketemuu,” tulis netizen lain yang rindu dengan sosok ramah Agis.
Harapan publik sangat besar agar bakat Agis tidak terhenti di pinggir jalan saja. “semoga ada yang memberi ruang buat dd nya bisa mengembangkan bakat nya soalnya aku yakin dd ini punya bakat yang bagus,” tulis netizen lainnya.
Kisah Agis adalah pengingat bagi kita semua. Bahwa di tengah keterbatasan, semangat untuk berkarya dan berbakti kepada orang tua bisa melahirkan keajaiban. Agis bukan hanya melukis di atas kertas, ia sedang melukis masa depannya sendiri dengan warna-warna harapan
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









