Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Warganet Ramai Cari Link Video Chindo Adidas, Ini Isi Sebenarnya

Jumat, 6 Maret 2026 10:00 WIB
Pajak

Beda Perlakuan Pajak THR Swasta dan ASN? Begini Penjelasan Tegas Dirjen Pajak

Jumat, 6 Maret 2026 09:30 WIB

Persib Masih On Fire Meski Ditahan Persebaya, Bhayangkara FC Mulai Mengancam

Jumat, 6 Maret 2026 09:09 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Warganet Ramai Cari Link Video Chindo Adidas, Ini Isi Sebenarnya
  • Beda Perlakuan Pajak THR Swasta dan ASN? Begini Penjelasan Tegas Dirjen Pajak
  • Persib Masih On Fire Meski Ditahan Persebaya, Bhayangkara FC Mulai Mengancam
  • Kecelakaan Maut Tol Cipularang KM 93! Truk Rem Blong Picu Tabrakan Beruntun, 2 Orang Tewas
  • Prediksi PSG vs Monaco: Duel Panas di Parc des Princes, Siapa Lebih Tajam?
  • Karyanya Bikin Takjub! Kisah Agis, Jual Lukisan Demi Bantu Mamah Beli Beras
  • Persib vs Persik: Misi Krusial Maung Bandung Pertahankan Takhta di GBLA
  • Terungkap! Rahasia di Balik Video Chindo Adidas yang Viral di Media Sosial
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Jumat, 6 Maret 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Gaya Hidup

Karyanya Bikin Takjub! Kisah Agis, Jual Lukisan Demi Bantu Mamah Beli Beras

By Aga GustianaJumat, 6 Maret 2026 08:34 WIB6 Mins Read
Agis Tasya Putri. (Foto: TikTok Viero ART)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Di sudut kawasan Ciledug, Kota Tangerang, di mana deru kendaraan tak pernah benar-benar berhenti, ada sebuah narasi yang tenang namun menyentuh hati. Narasi itu datang dari seorang bocah perempuan berusia 10 tahun bernama Agis Tasya Putri. Namanya mendadak menjadi perbincangan hangat di jagat maya setelah sebuah video di Instagram memperlihatkan dirinya tengah tekun menggambar dan menjajarkan hasil karyanya untuk dijual di pinggir jalan.

Namun, di balik viralnya sosok Agis, terdapat realitas yang jauh lebih dalam tentang perjuangan, kemandirian, dan mimpi-mimpi besar yang coba ia lukis di atas kertas-kertas sederhana.

Ruang Sempit, Mimpi Besar

Rumah Agis bukanlah bangunan megah dengan pagar tinggi. Ia tinggal di bawah lapak sederhana di kawasan Ciledug, Kota Tangerang. Tempat tinggalnya hanya berupa satu ruangan sempit yang disekat menjadi dua bagian. Sekat itu membagi ruang untuk tempat tidur dan ruang tamu seadanya. Di tempat itulah Agis menghabiskan hari-harinya, tumbuh bersama keterbatasan yang tidak pernah melunturkan binar di matanya.

Meski hidup dalam keterbatasan, Agis tetap tampak ceria seperti anak-anak seusianya. Jika sore tiba, ia sering terlihat bermain sepeda dan bercanda bersama teman-teman sebayanya di depan rumah, melupakan sejenak beban yang mungkin terlalu berat untuk pundak kecilnya.

Dinding lapak itu sendiri bercerita. Terbuat dari triplek, dinding tersebut menjadi galeri seni darurat. Di sana, terpajang sejumlah gambar karyanya yang belum terjual. Lembar-lembar kertas bergambar rumah, pantai, dan pepohonan tertata rapi menghiasi ruang sederhana itu. Sementara di lantai, krayon dan buku gambar berserakan—menjadi saksi bisu kreativitas yang lahir di tengah himpitan ekonomi. Di dalamnya terdapat karya-karya Agis, ada yang sudah selesai diwarnai, ada pula yang masih berupa sketsa menunggu sentuhan warna berikutnya.

Di balik gambar-gambar itu, berdirilah Agis, bocah yang berani menjual hasil karyanya sendiri demi membantu orang tua. Ia tidak mengeluh. Baginya, menggambar bukan sekadar hobi, melainkan jembatan untuk membantu perekonomian keluarganya.

Baca Juga:  Bikin Nangis! Bocah 9 Tahun Ini Sekolah Sambil Jaga Adik, Sang Ibu Sedang Lawan Kanker

Benih Kreativitas yang Tumbuh Sendiri

Keinginan Agis untuk memegang krayon dan kertas dimulai sejak lama. Saat ditanya kapan ia mulai mengenal dunia seni, jawabannya singkat namun penuh kepastian. “Dari 4 tahun,” ujar Agis.

Uniknya, motif awal ia menggambar sangatlah jujur dan polos. Gambar pertamanya masih ia ingat betul, yaitu menggambar rumah. Alasannya ternyata sederhana. “Karena pas sudah gede pengen punya rumah,” ujarnya. Kalimat itu mungkin terdengar seperti harapan biasa dari seorang anak, namun bagi Agis, itu adalah doa dan target yang ia usahakan melalui goresan tangannya.

Yang membuat bakat Agis semakin istimewa adalah fakta bahwa ia tumbuh secara otodidak. Ia tidak pernah mengikuti kursus lukis mahal ataupun belajar dari guru seni ternama. Kemampuannya mengalir begitu saja, murni dari imajinasi dan ketekunannya sendiri. Ketika ditanya apakah ia meniru atau melihat contoh dari orang lain, Agis menjawab tegas. “Enggak pernah,” ucap Agis.

Inspirasi gambarnya datang begitu saja. Tanpa perlu berlama-lama merenung, ia mampu menuangkan idenya ke atas kertas dengan kecepatan yang mengagumkan. Bahkan, untuk menyelesaikan satu gambar, ia hanya membutuhkan waktu sekitar lima menit. Ini adalah bakat alami yang jarang ditemukan, terutama pada anak seusianya.

Kemandirian di Pinggir Jalan

Keberanian Agis tak hanya terlihat dari kreativitasnya, tetapi juga dari kemandiriannya yang luar biasa. Jika anak-anak lain mungkin akan menunggu diantar atau ditemani orang tua saat berjualan, Agis memilih untuk melangkah sendiri. Ia berjualan sendiri di kawasan Puri Kartika, Ciledug, memajang hasil gambarnya tanpa ditemani orang tua.

Baca Juga:  Ramai Spekulasi Hubungan Ridwan Kamil dan Aura Kasih, Fakta Gugatan Perceraian Terungkap

“Enggak, aku sendiri nyari,” tuturnya. Ia memiliki rutinitas yang disiplin. Ia mulai berjualan sejak pagi. Jika sore, ia membuka lapak sekitar pukul tiga hingga setengah enam.

Harga yang ditawarkan pun sangat terjangkau. Gambar kecil ia jual seharga Rp5.000, sementara yang lebih besar Rp10.000. Untuk lukisan di kanvas yang lebih menantang, harganya bisa mencapai Rp20.000. Semua itu ia lakukan dengan inisiatif sendiri. Awalnya, ia mengaku hanya iseng membawa karyanya keluar. “Pertamanya sih bawa-bawa doang, terus dipajang-pajangin, aku kepikiran mau jual,” ujarnya.

Ide berjualan itu murni dari dirinya sendiri. Tak jarang, ada pembeli yang memesan gambar sesuai keinginan mereka. Ia pernah diminta menggambar pantai hingga berbagai bentuk lainnya. Agis melayani setiap permintaan dengan sepenuh hati, menunjukkan bahwa ia bukan hanya seorang seniman, tetapi juga seorang pedagang cilik yang bertanggung jawab.

Tanggung Jawab dan Impian Menuju Makkah

Meski masih kecil, Agis sudah memahami arti tanggung jawab. Ia tidak menggunakan uang hasil penjualannya untuk kesenangan pribadi semata. Uang hasil penjualannya tak ia habiskan sendiri. “Buat beli beras,” katanya pelan.

Sebagian besar ia serahkan kepada sang ibu untuk kebutuhan pokok keluarga. Namun, ia tetap menyisihkan sedikit untuk tabungan pribadi. “Nabung juga,” ujarnya. Biasanya, sekitar Rp2.000 hingga Rp5.000 ia simpan. Langkah kecil ini menjadi bukti kedewasaan Agis di usianya yang masih sangat belia.

Di balik kesederhanaannya, Agis menyimpan mimpi besar yang mungkin akan membuat siapa pun tersentuh. Ia ingin menjadi pelukis dan suatu hari pergi ke Makkah bersama orang tua dan kakaknya. “Kalau sudah sukses, pengen ke Makkah, ajak orang tua sama kakak,” pungkasnya.

Baca Juga:  Masih Pantaskah Disebut Gaji? Perjuangan Guru NTT Menantang Maut di Jalanan dengan Upah 'Seikhlasnya'

Viral dan Dukungan Publik

Kisah Agis kemudian menyentuh hati banyak orang setelah akun TikTok @viero_art mengunggah video yang menampilkan Agis tengah melukis di parkiran minimarket. Terlihat Agis begitu fokus melukis di sebuah kertas, tidak peduli dengan hiruk pikuk suasana di sekitarnya.

Video berdurasi 1 menit itu diunggah pada 5 Februari 2026, dan hingga kini telah ditonton 2,7 juta penonton, dengan 1195 komentar, 176,7 ribu likes, dan 6398 shares. Netizen pun merasa kagum atas hasil karya Agis. Komentar-komentar dukungan pun membanjiri unggahan tersebut.

“pliss mas ajarin dia digitalisasi, bakatnya terlalu sayang untuk disiasiakan,” ujar seorang netizen yang melihat potensi besar dalam diri Agis.

Banyak pula yang merasa iba dan ingin memberikan apresiasi secara langsung. “inii aku suka ketemu adenyaa ramah bgttt aku suka salingg senyum sapa , biasanya di puri kartika depam TK sambil gambarr sambil di temenin kucing hehehe , dee aku jrg ketemu kamuu skrg , pdhl mau kasih pensil warna dll , kamu dimanaa ga ketemu ketemuu,” tulis netizen lain yang rindu dengan sosok ramah Agis.

Harapan publik sangat besar agar bakat Agis tidak terhenti di pinggir jalan saja. “semoga ada yang memberi ruang buat dd nya bisa mengembangkan bakat nya soalnya aku yakin dd ini punya bakat yang bagus,” tulis netizen lainnya.

Kisah Agis adalah pengingat bagi kita semua. Bahwa di tengah keterbatasan, semangat untuk berkarya dan berbakti kepada orang tua bisa melahirkan keajaiban. Agis bukan hanya melukis di atas kertas, ia sedang melukis masa depannya sendiri dengan warna-warna harapan

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Agis Tasya Putri Anak Berbakat berita viral Ciledug Human Interest Jual Lukisan Kisah Inspiratif Pelukis Cilik Tangerang
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Warganet Ramai Cari Link Video Chindo Adidas, Ini Isi Sebenarnya

Terungkap! Rahasia di Balik Video Chindo Adidas yang Viral di Media Sosial

Orang Tua Wajib Tahu: Ini Jadwal Libur Sekolah dan Cuti Bersama Lebaran 2026

Bacaan Niat Zakat Fitrah Lengkap: Dari Diri Sendiri Hingga Tanggungan

Maaf Tak Cukup! YouTuber Resbob dan Bigmo Resmi Tersangka Kasus Azizah Salsha

Link Video Chindo Adidas 8 Detik Viral, Netizen Ramai Cari Versi Lengkap

Terpopuler
  • Jadwal Penukaran Uang Baru di Bandung 2026 Resmi Dibuka, Ini 4 Lokasi Program SERAMBI BI
  • ‎Jangan Sampai Terlewat! Ini Waktu Adzan Maghrib Bandung Minggu 1 Maret 2026
  • ‘Mukena Pink’ Viral di TikTok: Pencarian Link Video Tanpa Sensor Ramai Jadi Sorotan
  • Link Video Mukena Pink ‘No Sensor’ Viral, Netizen Ramai Cari Versi Asli
  • Link Video No Sensor Ukhti Mukena Pink Viral, Versi Panjang Apa Isinya?
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.