Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Beckham Putra Warning Persib! Borneo FC Disebut Lawan Berat Usai Menang 3-0

Rabu, 11 Maret 2026 11:31 WIB

25 Tahun Mengabdi Gaji 500 Ribu, Penjaga Sekolah Ini Jalan Kaki 9KM dan Tinggal di Rumah Reyot

Rabu, 11 Maret 2026 10:26 WIB

Big Match Liga Champions! Prediksi Real Madrid vs Man City, Siapa Menang di Bernabeu?

Rabu, 11 Maret 2026 09:50 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Beckham Putra Warning Persib! Borneo FC Disebut Lawan Berat Usai Menang 3-0
  • 25 Tahun Mengabdi Gaji 500 Ribu, Penjaga Sekolah Ini Jalan Kaki 9KM dan Tinggal di Rumah Reyot
  • Big Match Liga Champions! Prediksi Real Madrid vs Man City, Siapa Menang di Bernabeu?
  • 50 Ucapan Idul Fitri 2026 Terlengkap: Dari yang Paling Menyentuh Hingga Lucu untuk Status WA!
  • Chopper Akhirnya Muncul! Inilah Momen Paling Haru di Ending One Piece Live Action Season 2 yang Bikin Fans Mewek
  • BI Kucurkan Rp185,6 Triliun untuk Lebaran 2026: Cek Cara Tukar Uang Baru Via PINTAR
  • Viral ‘Ukhti Mukena Pink’ di TikTok, Warganet Diingatkan Waspada Link Berbahaya
  • Rekor Bersih Persib di Kandang dan Tantangan Zona Juara Menuju Laga Selanjutnya
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Rabu, 11 Maret 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Masih Pantaskah Disebut Gaji? Perjuangan Guru NTT Menantang Maut di Jalanan dengan Upah ‘Seikhlasnya’

By Aga GustianaSabtu, 28 Februari 2026 14:12 WIB5 Mins Read
Cerita guru honorer di NTT mendapatkan gaji Rp223.000 per bulan. (Foto: Instagram/withsulii)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Matahari belum sepenuhnya gagah menampakkan diri di langit Kupang Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). Namun, di tepian jalan setapak menuju Desa Batu Esa, seorang pria dengan pakaian rapi sudah berdiri tegap. Namanya Agusthinus Nitbani. Ia bukan sedang menunggu bus kota yang nyaman atau jemputan daring yang canggih. Ia sedang menunggu “keberuntungan” berupa truk pengangkut material yang lewat, demi satu tujuan: sampai di ruang kelas tepat waktu.

Agusthinus adalah potret nyata dari anomali pendidikan di negeri ini. Ia adalah guru honorer di SD Negeri Batu Esa. Sosoknya mendadak menjadi perbincangan hangat setelah sebuah video yang diunggah akun Instagram @withsulii viral, menembus lebih dari 9 juta pasang mata. Bukan karena prestasi mewah, melainkan karena angka di atas kertas slip gajinya yang mengiris hati: Rp223.000.

Paradoks Pengabdian: Turun Harga di Tengah Beban Kerja

Angka dua ratus dua puluh tiga ribu rupiah bukanlah angka awal. Sebelumnya, Agusthinus menerima honor sebesar Rp600.000 per bulan. Namun, kebijakan “efisiensi” anggaran memaksa pendapatan yang sudah minim itu terjun bebas. Bagi sebagian orang di kota besar, angka tersebut mungkin hanya cukup untuk sekali makan siang di mal. Namun bagi Agusthinus, itu adalah “napas” untuk satu bulan penuh.

Ironinya, meski nominalnya kecil, hak tersebut tidak datang setiap bulan. Agusthinus harus memupuk kesabaran ekstra karena gaji tersebut seringkali dirapel dalam waktu yang lama.

Baca Juga:  Link Video Ibu Kos Viral di Halmahera Tengah, Dugaan Aksi Paksa Penghuni Indekos Mencuat

“Ada keluarga juga, jadi Rp600.000 itu juga untuk kebutuhan keluarga tidak cukup. Sedangkan gaji Rp600.000 itu 6 bulan baru dikasih,” ucap Agusthinus dengan nada getir namun penuh penerimaan.

Kalimat itu meluncur dari bibirnya tanpa ada gurat amarah. Ada sebuah ketabahan yang sulit dinalar oleh logika ekonomi modern. Di tengah himpitan itu, ia masih mampu berucap syukur.

“Kita sudah mengabdi, walaupun gaji begitu, kita menerima,” sambungnya.

Bertahan di Antara Kebun dan Papan Tulis

Agusthinus bukan sekadar seorang guru; ia adalah seorang ayah dengan satu istri dan dua orang anak yang menggantungkan hidup padanya. Menyadari bahwa dedikasinya di sekolah tak mampu menutup dapur rumah, Agusthinus harus membagi raga. Sepulang mengajar, ia menanggalkan seragam gurunya dan menggantinya dengan pakaian kerja kasar untuk turun ke kebun.

Di sana, ia mencangkul, menanam, dan merawat tanah. Kebun menjadi penyelamat terakhir saat dompetnya mulai kosong sebelum pertengahan bulan. Pendapatan tambahan dari hasil bumi itulah yang menyambung nyawa keluarganya.

“Berkebun karena untuk kebutuhan hidup ini, gaji tidak mencukupi,” akunya jujur.

Pilihan ini bukan tentang ambisi menjadi kaya, melainkan murni tentang kelangsungan hidup. Ia harus memastikan anak-anaknya tetap bisa makan, meski ayahnya harus bekerja dua kali lebih keras dari rata-rata orang dewasa lainnya.

Perjuangan di Atas Truk: Mengejar Jam Setengah Tujuh Pagi

Setiap pagi adalah perlombaan dengan waktu. Standar kedisiplinan di SD Negeri Batu Esa mengharuskan guru sudah hadir sebelum lonceng berbunyi pada pukul 06.30 WITA. Tanpa kendaraan pribadi dan akses transportasi umum yang memadai, Agusthinus mengandalkan kemurahan hati para sopir truk.

Baca Juga:  Siapa Amalia Mutya Zain? Sosok Viral yang Jadi Buruan di TikTok & Instagram

Ia berdiri di pinggir jalan, mengangkat tangan, berharap ada bak truk yang kosong untuk ia tumpangi. Debu jalanan dan panas terik menjadi kawan setianya setiap hari.

“Masuknya jam setengah 7 pagi. Numpang truk, lalu keluar nunggu truk lagi di depan numpang ke Batu Esa,” paparnya menggambarkan rutinitas harian yang jauh dari kata layak bagi seorang pendidik.

Pemandangan seorang guru yang bertaruh nyawa menumpang truk material demi mengajar anak bangsa adalah tamparan keras bagi sistem distribusi kesejahteraan guru di Indonesia.

Gelombang Empati dari Ruang Digital

Kisah Agusthinus memicu badai simpati di jagat maya. Lebih dari 28 ribu komentar membanjiri unggahan tentangnya. Netizen seolah diingatkan kembali bahwa di pelosok NTT, masih ada “pahlawan” yang bekerja tanpa pamrih meski dihargai dengan sangat rendah.

Seorang warganet dengan akun @lin*****n mengungkapkan kesedihannya, “Ya Allah sedih banget lihatnya, semangat Bapak Guru!”

Sementara itu, akun @aze*****o melihat sisi spiritual dari pengabdian ini, “Hatinya mulia sekali, sehat dan berkah selalu untuk bapak sekeluarga.”

Ada pula analisis mendalam dari akun @fis****x yang menyentuh esensi profesi guru: “Kalau tujuan bapaknya bekerja, mungkin sudah keluar dan cari kerja lain. Tapi si bapak bukan tentang bekerja, tapi mengajarkan ilmu-ilmunya kepada para murid.”

Komentar ini merangkum realitas bahwa bagi orang-orang seperti Agusthinus, mengajar bukan lagi soal profesi mencari uang (job), melainkan sebuah panggilan jiwa (calling). Jika ia hanya mengejar materi, mungkin bangku-bangku di SD Negeri Batu Esa sudah lama kosong.

Baca Juga:  Krisis Kemanusiaan di Cianjur? Perjuangan Ibu Lansia Rawat Suami dan Anak yang Lumpuh Sendirian

Menanti Perubahan, Bukan Sekadar Viral

Kisah Agusthinus Nitbani adalah satu dari ribuan potret guru honorer di wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) yang nasibnya masih terkatung-katung. Viralitas di media sosial memang memberikan bantuan jangka pendek berupa donasi atau perhatian publik, namun masalah sistemik tentang upah layak masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah.

Gaji Rp223.000 per bulan adalah sebuah angka yang menantang akal sehat di tahun 2026. Di balik setiap angka tersebut, ada keringat seorang ayah, ada harapan dua orang anak, dan ada masa depan murid-murid di Kupang Barat yang bergantung pada semangat Agusthinus yang tak pernah padam.

Agusthinus telah membuktikan bahwa kemuliaan seorang guru tidak diukur dari angka di dalam amplop, melainkan dari seberapa jauh ia bersedia berjalan—atau menumpang truk—demi mencerdaskan generasi penerus bangsa. Namun pertanyaannya tetap sama: sampai kapan pengabdian tulus ini dibiarkan berjalan tanpa penghargaan yang manusiawi?

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Agusthinus Nitbani berita viral Gaji Guru Rendah Guru Honorer NTT Kupang Barat SD Negeri Batu Esa
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

25 Tahun Mengabdi Gaji 500 Ribu, Penjaga Sekolah Ini Jalan Kaki 9KM dan Tinggal di Rumah Reyot

Masuk 21 Ramadhan! Cek Jadwal Imsakiyah Bandung Raya Hari Ini

H-3 Lebaran Jadi Puncak Arus Mudik, 8,9 Juta Warga Jabar Diperkirakan Berangkat

The Ultimate10K Series Powered by bank bjb

Jelajahi Jawa Lewat Lari! bank bjb Hadirkan “The Ultimate10K Series” di 4 Kota Besar Sepanjang 2026

Investor Serbu Sustainability Bond bank bjb, Permintaan Tembus Rp932,4 Miliar

bank bjb Dorong Gaya Hidup Sehat Lewat Lomba Lari Trail Semarang Mountain Race 2026

Terpopuler
  • Video Viral Ukhti Mukena Pink
    Viral ‘Ukhti Mukena Pink’ Tanpa Sensor, Begini Fakta yang Perlu Kamu Tahu!
  • Video Viral Ukhti Mukena Pink
    Heboh di Media Sosial, Video Ukhti Mukena Pink Bersensor Putih Bikin Netizen Penasaran
  • Video Viral Ukhti Mukena Pink
    Viral Link Video Ukhti Mukena Pink No Sensor, Waspada Jebakan Batman!
  • Viral Video ‘Chindo Adidas’, Ada Link Full 17 Menit?
  • Video Viral Ukhti Mukena Pink
    Ukhti Mukena Pink No Sensor Jadi Trending, Tapi Ini Risiko Serius di Balik Klik Link
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.