Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Lagi Dicari Netizen, Terungkap Isi Sebenarnya di Balik Video Viral Egar dan Fina Asal Banyuwangi

Rabu, 4 November 2026 15:32 WIB

Jangan Klik! Tautan Isu Video Egar dan Fina Dijual Rp30 Ribu, Ini Modus Penipuannya

Rabu, 4 November 2026 15:05 WIB

Definisi Jilat Ludah Sendiri? Perubahan Drastis Vicky Prasetyo ke Raffi Ahmad Bikin Publik Curiga!

Rabu, 4 November 2026 13:53 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Lagi Dicari Netizen, Terungkap Isi Sebenarnya di Balik Video Viral Egar dan Fina Asal Banyuwangi
  • Jangan Klik! Tautan Isu Video Egar dan Fina Dijual Rp30 Ribu, Ini Modus Penipuannya
  • Definisi Jilat Ludah Sendiri? Perubahan Drastis Vicky Prasetyo ke Raffi Ahmad Bikin Publik Curiga!
  • 6 Tempat Makan Ramah Vegan dan Vegetarian di Bandung yang Wajib Dicoba Saat Liburan
  • 3 Jenderal Polisi Ditangkap, SBY Surati Prabowo: Kok Jadi Begini Negara Kita
  • Awal Mula Terbongkarnya Operasi Penyadapan Ilegal yang Sasar Komunikasi Presiden dan Menteri
  • Cerai Tanpa Drama! Demian Aditya Kudeta Ultah DMS, Reuni Bareng Sara Wijayanto Diserbu Netizen!
  • BSU Kemnaker 2026 Cair Rp 900 Ribu! Cek Syarat dan Jadwal Transfernya
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Rabu, 4 November 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Masih Pantaskah Disebut Gaji? Perjuangan Guru NTT Menantang Maut di Jalanan dengan Upah ‘Seikhlasnya’

By Aga GustianaSabtu, 28 Februari 2026 14:12 WIB5 Mins Read
Cerita guru honorer di NTT mendapatkan gaji Rp223.000 per bulan. (Foto: Instagram/withsulii)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Matahari belum sepenuhnya gagah menampakkan diri di langit Kupang Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). Namun, di tepian jalan setapak menuju Desa Batu Esa, seorang pria dengan pakaian rapi sudah berdiri tegap. Namanya Agusthinus Nitbani. Ia bukan sedang menunggu bus kota yang nyaman atau jemputan daring yang canggih. Ia sedang menunggu “keberuntungan” berupa truk pengangkut material yang lewat, demi satu tujuan: sampai di ruang kelas tepat waktu.

Agusthinus adalah potret nyata dari anomali pendidikan di negeri ini. Ia adalah guru honorer di SD Negeri Batu Esa. Sosoknya mendadak menjadi perbincangan hangat setelah sebuah video yang diunggah akun Instagram @withsulii viral, menembus lebih dari 9 juta pasang mata. Bukan karena prestasi mewah, melainkan karena angka di atas kertas slip gajinya yang mengiris hati: Rp223.000.

Paradoks Pengabdian: Turun Harga di Tengah Beban Kerja

Angka dua ratus dua puluh tiga ribu rupiah bukanlah angka awal. Sebelumnya, Agusthinus menerima honor sebesar Rp600.000 per bulan. Namun, kebijakan “efisiensi” anggaran memaksa pendapatan yang sudah minim itu terjun bebas. Bagi sebagian orang di kota besar, angka tersebut mungkin hanya cukup untuk sekali makan siang di mal. Namun bagi Agusthinus, itu adalah “napas” untuk satu bulan penuh.

Ironinya, meski nominalnya kecil, hak tersebut tidak datang setiap bulan. Agusthinus harus memupuk kesabaran ekstra karena gaji tersebut seringkali dirapel dalam waktu yang lama.

Baca Juga:  VIRAL! Ajudan Bupati Purwakarta Digerebek Istri di Rumah Perempuan Lain

“Ada keluarga juga, jadi Rp600.000 itu juga untuk kebutuhan keluarga tidak cukup. Sedangkan gaji Rp600.000 itu 6 bulan baru dikasih,” ucap Agusthinus dengan nada getir namun penuh penerimaan.

Kalimat itu meluncur dari bibirnya tanpa ada gurat amarah. Ada sebuah ketabahan yang sulit dinalar oleh logika ekonomi modern. Di tengah himpitan itu, ia masih mampu berucap syukur.

“Kita sudah mengabdi, walaupun gaji begitu, kita menerima,” sambungnya.

Bertahan di Antara Kebun dan Papan Tulis

Agusthinus bukan sekadar seorang guru; ia adalah seorang ayah dengan satu istri dan dua orang anak yang menggantungkan hidup padanya. Menyadari bahwa dedikasinya di sekolah tak mampu menutup dapur rumah, Agusthinus harus membagi raga. Sepulang mengajar, ia menanggalkan seragam gurunya dan menggantinya dengan pakaian kerja kasar untuk turun ke kebun.

Di sana, ia mencangkul, menanam, dan merawat tanah. Kebun menjadi penyelamat terakhir saat dompetnya mulai kosong sebelum pertengahan bulan. Pendapatan tambahan dari hasil bumi itulah yang menyambung nyawa keluarganya.

“Berkebun karena untuk kebutuhan hidup ini, gaji tidak mencukupi,” akunya jujur.

Pilihan ini bukan tentang ambisi menjadi kaya, melainkan murni tentang kelangsungan hidup. Ia harus memastikan anak-anaknya tetap bisa makan, meski ayahnya harus bekerja dua kali lebih keras dari rata-rata orang dewasa lainnya.

Perjuangan di Atas Truk: Mengejar Jam Setengah Tujuh Pagi

Setiap pagi adalah perlombaan dengan waktu. Standar kedisiplinan di SD Negeri Batu Esa mengharuskan guru sudah hadir sebelum lonceng berbunyi pada pukul 06.30 WITA. Tanpa kendaraan pribadi dan akses transportasi umum yang memadai, Agusthinus mengandalkan kemurahan hati para sopir truk.

Baca Juga:  Link Video Viral TKW Taiwan: Jangan Asal Klik Jika Tak Ingin Data Dijarah!

Ia berdiri di pinggir jalan, mengangkat tangan, berharap ada bak truk yang kosong untuk ia tumpangi. Debu jalanan dan panas terik menjadi kawan setianya setiap hari.

“Masuknya jam setengah 7 pagi. Numpang truk, lalu keluar nunggu truk lagi di depan numpang ke Batu Esa,” paparnya menggambarkan rutinitas harian yang jauh dari kata layak bagi seorang pendidik.

Pemandangan seorang guru yang bertaruh nyawa menumpang truk material demi mengajar anak bangsa adalah tamparan keras bagi sistem distribusi kesejahteraan guru di Indonesia.

Gelombang Empati dari Ruang Digital

Kisah Agusthinus memicu badai simpati di jagat maya. Lebih dari 28 ribu komentar membanjiri unggahan tentangnya. Netizen seolah diingatkan kembali bahwa di pelosok NTT, masih ada “pahlawan” yang bekerja tanpa pamrih meski dihargai dengan sangat rendah.

Seorang warganet dengan akun @lin*****n mengungkapkan kesedihannya, “Ya Allah sedih banget lihatnya, semangat Bapak Guru!”

Sementara itu, akun @aze*****o melihat sisi spiritual dari pengabdian ini, “Hatinya mulia sekali, sehat dan berkah selalu untuk bapak sekeluarga.”

Ada pula analisis mendalam dari akun @fis****x yang menyentuh esensi profesi guru: “Kalau tujuan bapaknya bekerja, mungkin sudah keluar dan cari kerja lain. Tapi si bapak bukan tentang bekerja, tapi mengajarkan ilmu-ilmunya kepada para murid.”

Komentar ini merangkum realitas bahwa bagi orang-orang seperti Agusthinus, mengajar bukan lagi soal profesi mencari uang (job), melainkan sebuah panggilan jiwa (calling). Jika ia hanya mengejar materi, mungkin bangku-bangku di SD Negeri Batu Esa sudah lama kosong.

Baca Juga:  Viral Aksi Penganiayaan saat Konvoi Persib, Viking Persib Club: Sanksi Berat, Kartu Anggota Dicabut!

Menanti Perubahan, Bukan Sekadar Viral

Kisah Agusthinus Nitbani adalah satu dari ribuan potret guru honorer di wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) yang nasibnya masih terkatung-katung. Viralitas di media sosial memang memberikan bantuan jangka pendek berupa donasi atau perhatian publik, namun masalah sistemik tentang upah layak masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah.

Gaji Rp223.000 per bulan adalah sebuah angka yang menantang akal sehat di tahun 2026. Di balik setiap angka tersebut, ada keringat seorang ayah, ada harapan dua orang anak, dan ada masa depan murid-murid di Kupang Barat yang bergantung pada semangat Agusthinus yang tak pernah padam.

Agusthinus telah membuktikan bahwa kemuliaan seorang guru tidak diukur dari angka di dalam amplop, melainkan dari seberapa jauh ia bersedia berjalan—atau menumpang truk—demi mencerdaskan generasi penerus bangsa. Namun pertanyaannya tetap sama: sampai kapan pengabdian tulus ini dibiarkan berjalan tanpa penghargaan yang manusiawi?

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

berita viral
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

3 Jenderal Polisi Ditangkap, SBY Surati Prabowo: Kok Jadi Begini Negara Kita

Presiden Prabowo Subianto.

Awal Mula Terbongkarnya Operasi Penyadapan Ilegal yang Sasar Komunikasi Presiden dan Menteri

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo

Bareskrim Amankan Barang Bukti Digital, Listyo Sigit Cs Ditahan di Rutan Mabes Polri

Skandal Penyadapan Ilegal, Mabes Polri Tetapkan KSP Jenderal Listyo Sigit Tersangka!

Siapa Sebenarnya Herri Pras? Guru Besar Silat Kena Mental Diserbu Rombongan MMA Usai Hina UAS dan UAH!

Pelecehan Seksual

Aksi Bejat Predator Anak di Karawang Terbongkar, 9 Bocah Jadi Korban Kekerasan Seksual

Terpopuler
  • Link Video Viral Egar dan Fina Banyuwangi Part 1 Sampai 4 Full Durasi Dicari Netizen, Ini Fakta Sebenarnya!
  • Ilustrasi video syur
    Link Video Egar dan Fina Banyuwangi Viral di TikTok, Ini Fakta Sebenarnya!
  • Perang Estetika Kota: Utopia Art Deco vs Megalomania Kerajaan di Saat Kas Pemprov Jabar Sekarat
  • Geger Link Video Viral Karyawan HWI Durasi 6 Menit, Ini Fakta Sebenarnya!
  • Ruang Bicara Resmi Berdiri di Bandung, Hadir Sebagai Wadah Anak Muda Bertumbuh dan Berdampak
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.