bukamata.id – Bagi masyarakat yang sering beraktivitas di sekitar kawasan ekowisata Danau Situ Gede, Cifor, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, sosok pemuda ini sudah tidak asing lagi. Setiap kali matahari mulai beranjak naik atau saat permukaan air danau beriak tenang, sebuah perahu kano tampak membelah keheningan. Di atas perahu tersebut, seorang pria muda dengan tekad baja tampak menyusuri setiap sudut perairan. Ia mengambil sampah-sampah yang mencemari ekosistem air menggunakan alat capit khusus yang tersampir di punggungnya.
Pria itu adalah Giri Marhara, atau yang lebih akrab disapa Hara. Di kalangan pegiat konservasi, ia dikenal luas dengan julukan “Marhara The Sanitizer”. Sejak tahun 2013, jauh sebelum isu lingkungan menjadi tren populer di media sosial, Hara telah mendedikasikan sebagian besar hidupnya untuk merawat bumi. Namun, dedikasinya di atas perairan terbuka baru ia geluti secara intensif sejak beberapa tahun terakhir.
“Kalau kegiatan di danau itu dari tahun 2021 dan di air dari tahun 2023. Kalau untuk pegiat lingkungan sejak tahun 2013 atau sejak saya SMP,” ujar Hara mengenang awal mula perjalanannya.
Panggilan Jiwa dari Masa Remaja
Ketertarikan Hara pada isu lingkungan bukanlah sesuatu yang instan. Benih-benih kepedulian itu tumbuh ketika ia masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Saat itu, ia merasa gelisah dan tidak nyaman melihat sampah berserak di lingkungan sekitarnya. Alih-alih hanya mengeluh seperti kebanyakan orang seusianya kala itu, Hara memilih untuk mengambil tindakan nyata.
Sebagai warga asli yang lahir dan besar di kawasan Bogor Barat, Hara merasa memiliki tanggung jawab moral yang jauh lebih besar dibandingkan pendatang. Baginya, menjaga kebersihan lingkungan harus dimulai dari tempat di mana ia berpijak sebelum bermimpi mengubah dunia luar.
“Baru ketika kita ingin mencari inspirasi, jejaring, kita main ke luar. Tapi, tanggung jawab lingkungan ya kita lingkungan sekitar dulu. Apalagi saya asli sini,” tegasnya.
Pikiran kritis ini pula yang membuatnya prihatin melihat kondisi Danau Situ Gede. Sebagai salah satu paru-paru hijau dan daerah tangkapan air penting di Kota Bogor, danau tersebut kerap menghadapi tekanan ekologis yang berat. Saat musim hujan tiba, volume sampah kiriman dan domestik yang masuk ke badan air meningkat drastis. Sebaliknya, ketika musim kemarau dan debit air surut, tumpukan lumut serta endapan sampah yang tersembunyi mulai mendominasi permukaan. Kondisi ini tentu menjadi ancaman serius bagi kelangsungan flora dan fauna air di sana.
Menyusuri Danau dengan Kano dan Alat Capit Buatan Sendiri
Aksi lapangan yang dilakukan Hara tergolong unik dan mandiri. Ia tidak hanya datang membawa kantong sampah dan menyapu pinggiran daratan. Menggunakan perahu kano, ia secara konsisten mendayung ke tengah danau, menjangkau area-area yang sulit diakses oleh petugas kebersihan biasa.
Peralatan yang ia gunakan pun sangat khas. Sebuah alat capit ergonomis yang dirancangnya sendiri disematkan di punggungnya. Sampah-sampah plastik, botol, hingga limbah rumah tangga yang berhasil dijangkau langsung dimasukkan ke dalam keranjang plastik yang diletakkan rapi di ujung kano.
Aksi konsisten ini membuahkan hasil yang signifikan. Dalam catatan operasional bersama tim kecil yang ia bentuk, Hara pernah mengumpulkan hingga 468 kilogram sampah hanya dalam kurun waktu 20 hari di perairan. Mayoritas dari sampah tersebut merupakan material organik dan plastik sekali pakai yang langsung dipilah untuk penanganan lebih lanjut.
Meski bekerja secara sukarela tanpa pamrih, Hara menyadari bahwa tantangan terbesar penanganan sampah terletak pada mata rantai pembuangan akhir dan sinergi dengan instansi terkait. Dari total sampah yang terkumpul, sebagian besar dikelola secara mandiri, sementara sekitar 30 persen sisanya dikoordinasikan dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) untuk diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Menetasnya Alcedo Sanitizing Force dan Misi 10 Ton Sampah
Seiring berjalannya waktu, gerakan yang dirintis Hara berkembang dari sekadar aksi individu menjadi sebuah gerakan kolektif yang lebih terstruktur. Ia mendirikan organisasi kebersihan nonprofit bernama Alcedo Sanitizing Force (ASF). Melalui wadah ini, Hara memperluas pengaruhnya, mengajak anak-anak muda, relawan, dan masyarakat umum untuk turun tangan langsung membersihkan perairan.
Rekam jejaknya sebagai pejuang lingkungan kian mengagumkan. Dalam tiga tahun terakhir saja, ia bersama jejaringnya telah membersihkan lebih dari 1,7 ton sampah—sebuah angka fantastis yang jika dikalkulasikan secara kumulatif sejak masa remaja, total sampah air yang berhasil ia angkat hampir menyentuh angka 3 ton. Bahkan, pria yang aktif menggunakan akun Instagram @haramarhara ini mematok target ambisius: mengangkat total 10 ton sampah plastik dari perairan Indonesia demi memulihkan ekosistem akuatik tanah air.
Gaya hidup dan metode pembersihannya pun sangat terukur. Sampah yang berhasil dievakuasi dari sungai dan danau tidak dibuang sembarangan atau menumpuk begitu saja. Semuanya melalui proses sorting atau pemilahan yang ketat:
- Sampah Residu: Dikirim secara berkala ke TPA.
- Plastik HDPE: Dikumpulkan dan diolah kembali menjadi produk kerajinan bernilai seni.
- Sampah Organik: Dikelola melalui metode penguburan yang ramah lingkungan.
- Botol Plastik PET & PP: Disalurkan langsung kepada para pemulung lokal agar memiliki nilai ekonomi dan masuk dalam siklus daur ulang industri.
Edukasi Digital dan Apresiasi Publik
Sebagai figur publik di era modern, Hara paham betul bahwa kekuatan narasi digital sangat penting untuk memperluas gaung pelestarian lingkungan. Melalui persona digitalnya sebagai content creator lingkungan, ia mendokumentasikan setiap aksi pembersihan sungai dan danau. Videonya bukan sekadar pamer aksi heroik, melainkan sarana edukasi visual yang menyadarkan warganet betapa rapuhnya ekosistem air kita jika terus dikotori oleh sampah plastik.
Konsistensi dan ketulusan hati yang ditunjukkan oleh Giri Marhara tidak luput dari perhatian publik dunia maya. Berbagai apresiasi dan komentar penuh haru serta kagum membanjiri ruang digital atas aksi senyap yang ia lakukan selama bertahun-tahun.
“Jauh dari sorot media, ternyata sudah dari 2013. Angkat topi,” puji salah seorang netizen yang terkesan dengan rekam jejak panjang sang aktivis.
Banyak warganet yang juga menyoroti betapa beratnya beban seorang diri melawan arus kebiasaan buruk masyarakat yang masih gemar mengotori lingkungan.
“Abangnya sendiri melawan jutaan orang yang tidak sadar akan kebersihan 😢 semoga kebaikannya jd amal jariyah untuk menyadarkan orang lain ttg kebersihan,” tulis netizen lainnya.
Tidak sedikit pula yang membandingkan perjuangan ini dengan gerakan-gerakan kolektif populer lainnya, sembari menekankan bahwa akar dari masalah ini adalah perlunya edukasi kesadaran masyarakat yang lebih mendalam.
“Sebelum ada pandawara, abang ini sudah bersinar sendiri🔥 tapi masyarakatnya emang yg harus di didik lagi tentang buang sampah sembarangan,” ujar warganet menyoroti pentingnya perubahan perilaku sosial.
Melalui organisasi ASF, Hara juga rutin mengadakan program edukasi lingkungan bagi warga sekitar dan generasi muda. Ia ingin menanamkan pola pikir bahwa kebersihan sungai bukanlah eksklusif tanggung jawab pemerintah semata, melainkan kewajiban bersama setiap insan yang memanfaatkan sumber daya air tersebut.
“Kalau kita lalai itu merupakan tanggung jawab kita untuk membetulkannya. Karena kalau bicara kegiatan ini adalah kegiatan yang sifatnya relawan. Kalau bukan kita siapa lagi,” pungkas Hara dengan penuh keyakinan.
Kisah Giri Marhara adalah bukti nyata bahwa ketulusan, konsistensi, dan keberanian untuk memulai dari hal kecil dapat menciptakan gelombang perubahan yang besar. Dari atas perahu kano sederhana di Danau Situ Gede, ia mengirimkan pesan kuat kepada Indonesia: bahwa masa depan bumi pertiwi sangat ditentukan oleh seberapa besar kepedulian kita hari ini terhadap setiap jengkal aliran air di sekitar kita.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









