bukamata.id – Kekhawatiran publik di berbagai wilayah Jawa Barat kini tengah meningkat menyusul laporan lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan. Di tengah situasi tersebut, ancaman virus Influenza A kembali menjadi sorotan utama tenaga medis karena karakteristiknya yang jauh lebih agresif dibandingkan flu musiman biasa.
Lantas, sejauh apa bahaya infeksi virus ini dan bagaimana cara orang tua mengenali tanda darurat pada anak?
Mengenal Karakteristik dan Bahaya Influenza A
Secara medis, Influenza A adalah penyakit menular yang menyerang saluran pernapasan mulai dari hidung, tenggorokan, hingga organ vital paru-paru. Berbeda dengan common cold atau batuk pilek ringan yang gejalanya timbul secara perlahan, infeksi jenis ini datang secara mendadak dengan intensitas tinggi. Penderitanya kerap langsung dihantam demam tinggi (mencapai 38 hingga 40 derajat Celsius), batuk kering persisten, nyeri sekujur tubuh, tenggorokan sakit, serta rasa lemas yang luar biasa.
Komunitas medis menempatkan Influenza A di tingkat ancaman tertinggi dibanding tipe B atau C karena didasari sejumlah alasan krusial:
- Daya Mutasi Tinggi: Kemampuan virus bermutasi (antigenic drift dan shift) sangat cepat, membuat antibodi dari vaksin atau infeksi lampau sering kali gagal mengenali varian baru.
- Sifat Zoonosis (Lintas Spesies): Tidak hanya bersirkulasi pada manusia, virus ini mampu menginfeksi hewan seperti babi dan unggas. Kombinasi genetik antarspesies ini kerap menjadi pemicu wabah berskala besar.
- Pemicu Pandemi: Sejarah mencatat bahwa pandemi global kerap berakar dari keganasan mutasi virus jenis ini.
- Komplikasi Mematikan: Bagi kelompok rentan—mulai dari balita, lansia, hingga penderita penyakit penyerta (komorbid)—infeksi ini berisiko memicu pneumonia berat, gangguan saraf, hingga kegagalan organ fatal.
Tiga “Petunjuk Emas” dari IDAI untuk Orang Tua
Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jawa Barat, Prof. Dr. dr. Anggraini Alam, Sp.A, Subsp.IPT(K), memberikan peringatan keras agar para orang tua tidak meremehkan gejala flu pada anak kecil yang kerap kesulitan mendeskripsikan kondisi tubuhnya.
Menurut Prof. Anggraini, tinggi rendahnya angka termometer demam bukanlah satu-satunya tolok ukur utama. Ia memaparkan tiga indikator atau “petunjuk emas” yang wajib dicermati secara berkala oleh ayah dan bunda, yaitu tingkat aktivitas anak, asupan cairan (intake), serta frekuensi buang air kecil (output).
“Kalau anak sedang demam, pasti loyo. Tetapi begitu demamnya turun, apakah turun dengan sendirinya atau karena minum antipiretik seperti parasetamol, dia beraktivitas seperti biasa, celotehannya seperti biasa, aman aktivitas,” ungkap Prof. Anggraini memandu para orang tua.
Selain itu, pastikan anak tetap mendapatkan pasokan cairan yang cukup serta amati volume urinenya agar tidak mengalami dehidrasi. Buang air kecil setidaknya minimal sekali dalam rentang waktu empat jam menjadi salah satu indikator fungsi tubuh berjalan normal.
Kenali Tanda Bahaya, Segera Bawa ke IGD
Orang tua diminta untuk tidak menunda membawa buah hati ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit terdekat apabila mendapati gejala klinis yang mengarah pada kondisi gawat darurat. Beberapa tanda bahaya tersebut meliputi anak menjadi sangat sulit dibangunkan, rewel gelisah di luar kebiasaan, mengalami kejang, pola napas menjadi sangat cepat, bibir atau kulit tampak kebiruan, hingga tidak buang air kecil selama enam jam penuh.
“Segeralah ke IGD jika anak sulit dibangunkan atau justru gelisah tidak seperti biasa, ada kejang, ada napas cepat, tampak kebiruan, ada bleeding. Bahkan juga bila enam jam anak belum kencing,” tegasnya.
Guna menekan laju penularan sekaligus menghindari risiko perburukan kondisi kesehatan, masyarakat diimbau untuk disiplin menjaga kebersihan diri, memastikan sirkulasi udara atau ventilasi rumah berjalan baik, mengisolasi anak yang sakit agar tidak bersekolah hingga sepuluh hari ke depan, serta melengkapi perlindungan kesehatan melalui vaksinasi influenza tahunan.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










