bukamata.id – Kasus infeksi saluran pernapasan kembali menjadi sorotan setelah Organisasi Kesehatan Dunia mencatat adanya lonjakan aktivitas virus influenza di kawasan Western Pacific Region (WPRO) sepanjang September 2026. Meski skala nasional belum menunjukkan grafik darurat, dinamika di lapangan mulai dirasakan oleh para tenaga medis, terutama di kawasan perkotaan Jawa Barat.
Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jawa Barat, Prof. Dr. dr. Anggraini Alam, Sp.A, Subsp.I.P.T.(K), memaparkan bahwa laporan per 10 September 2026 menunjukkan subtipe tertentu mendominasi penyebaran global.
“Yang paling tinggi memang secara keseluruhan adalah influenza A. Kondisi Indonesia masih berbeda dengan sejumlah negara tetangga. Data Indonesia yang dilaporkan ke WPRO hingga 10 September 2026 belum menunjukkan peningkatan setinggi beberapa negara di kawasan tersebut. Namun, bukan berarti influenza tidak meningkat di lapangan,” ujar Prof. Anggraini.
Sebagai guru besar ilmu kesehatan anak dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran yang bertugas di RS Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, ia mengonfirmasi adanya tren kenaikan kunjungan pasien.
“Kalau di rumah sakit-rumah sakit itu sebetulnya data rumah sakit seperti saya memang ada peningkatan,” tambahnya.
Meski demikian, lonjakan di fasilitas kesehatan rujukan utama tidak otomatis merepresentasikan peta sebaran secara menyeluruh mengingat karakteristik pasien yang spesifik.
Mengenal Karakteristik dan Bahaya Influenza A
Berbeda dari selesma biasa (common cold), infeksi virus influenza—khususnya tipe A—memiliki daya mutasi yang sangat tinggi serta mampu menginfeksi hewan maupun manusia. Subtipe seperti H1N1 dan H3N2 tercatat aktif bersirkulasi dan punya sejarah memicu pandemi besar di masa lalu.
Prof. Anggraini menekankan pentingnya mengenali perbedaan mendasar antara flu biasa dan selesma agar penanganan tidak keliru.
“Gejala influenza dapat berupa demam, sakit kepala, nyeri tubuh, batuk kering, nyeri tenggorokan, kelelahan, hingga hilangnya nafsu makan. Kalau flu itu lebih berat. Nyeri badannya, sakit kepalanya, demam tingginya, hilang nafsu makan. Dan gejala semua ini munculnya cepat dibandingkan dengan selesma,” jelasnya.
Proses pemulihan dari infeksi ini juga kerap memakan waktu lebih panjang. Rasa lelah serta batuk kering bisa bertahan hingga dua minggu lamanya kendati fase demam telah mereda.
Kelompok Rentan dan Faktor Pemicu di Perkotaan
Meski bisa menyerang siapa saja, kelompok usia tertentu seperti balita, lansia, ibu hamil, serta penyandang penyakit penyerta (komorbid) memiliki risiko komplikasi yang jauh lebih berat. Pada anak-anak, ancamannya perlu mendapat perhatian ekstra karena sistem imun mereka masih dalam tahap matang.
“Sekitar 5 persen anak yang mengalami influenza dapat membutuhkan rawat inap. Dari anak yang dirawat tersebut, sekitar 80 persen berusia di bawah dua tahun dan sekitar separuhnya merupakan bayi berusia kurang dari enam bulan,” bebernya.
Selain faktor usia, peningkatan kasus di kota-kota besar turut dipengaruhi oleh kebiasaan masyarakat saat cuaca panas. Alih-alih beraktivitas di luar ruangan, warga cenderung memilih berteduh di dalam ruangan tertutup berpemberat udara buatan.
“Karena kita itu merasa gerah kalau keluar. Jadi malah berkumpul di dalam. Ditutup ventilasi semuanya,” kata Prof. Anggraini. Sirkulasi udara yang buruk di ruang ber-AC semacam ini mempermudah transmisi virus antarindividu.
Langkah Pencegahan Efektif
Guna menekan laju penularan, masyarakat diimbau untuk kembali disiplin menerapkan protokol kesehatan mendasar, mulai dari rutin mencuci tangan, menerapkan etika bersin yang benar, hingga mengenakan masker saat kondisi tubuh tidak fit. Penderita juga disarankan untuk beristirahat di rumah guna memutus rantai penularan, mengingat anak-anak berpotensi menularkan virus hingga sepuluh hari. Perlindungan tambahan juga bisa diperoleh melalui vaksinasi influenza yang aman diberikan sejak usia enam bulan.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










