bukamata.id – Rentetan gempa bumi di Kabupaten Bandung, khususnya wilayah Kertasari dan Pangalengan, menjadi perhatian dalam beberapa hari terakhir. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sedikitnya 42 gempa terjadi di kawasan tersebut sejak Rabu (16/9/2026) hingga Kamis (17/9/2026) pukul 05.30 WIB.
Rangkaian gempa tersebut bukan dipicu oleh Sesar Garsela yang selama ini dikenal sebagai salah satu sumber aktivitas seismik di wilayah Jawa Barat.
Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, Swaidi Ahadi, mengatakan aktivitas gempa di kawasan Kertasari dan Pangalengan berkaitan dengan keberadaan sesar aktif yang hingga kini belum terpetakan.
“Aktivitas gempa yang terjadi berkali-kali di wilayah Kabupaten Bandung hari ini berkaitan dengan keberadaan sesar aktif yang hingga kini belum terpetakan,” kata Swaidi Ahadi.
Aktivitas Gempa Kabupaten Bandung Meningkat
Stasiun Geofisika Kelas I Bandung mencatat peningkatan aktivitas seismik di wilayah Kabupaten Bandung dalam beberapa pekan terakhir.
Berdasarkan data periode 11 Agustus hingga 16 September 2026, tercatat sebanyak 96 kejadian gempa di kawasan tersebut. Dari jumlah itu, sebanyak 10 gempa dilaporkan dirasakan oleh masyarakat.
Swaidi menjelaskan, rangkaian gempa yang terjadi di Kertasari dan Pangalengan berbeda dengan gempa besar yang terjadi pada 2024. Sumber aktivitas kali ini juga bukan berasal dari Sesar Garsela.
Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah II, Ana Octavia Setiowati, turut mengonfirmasi adanya rangkaian aktivitas seismik di wilayah Kabupaten Bandung.
Salah satu gempa tercatat pada Kamis (17/9/2026) pukul 04.59 WIB dengan magnitudo 2,6. Episenter gempa berada di darat pada koordinat 7,22 Lintang Selatan dan 107,60 Bujur Timur atau sekitar 23 kilometer sebelah selatan Kabupaten Bandung.
Gempa tersebut tergolong dangkal dengan kedalaman sekitar 3 kilometer.
Gempa Kabupaten Bandung Termasuk Fenomena Swarm
Rangkaian gempa yang terjadi berulang dalam satu kawasan dengan magnitudo relatif kecil dan tanpa satu gempa utama yang dominan dikenal sebagai earthquake swarm atau gempa swarm.
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Dr. Daryono, menjelaskan bahwa fenomena tersebut menunjukkan adanya dinamika pelepasan energi dan deformasi di dalam kerak bumi.
“Kejadian itu masuk ke fenomena gempa swarm lantaran gempa terjadi berulang di suatu kawasan dengan magnitudo umumnya kecil dan tanpa satu gempa utama yang dominan,” ujar Daryono.
Menurutnya, kemunculan gempa swarm dapat berkaitan dengan proses pergeseran sesar. Selain itu, fenomena tersebut juga dapat berhubungan dengan dinamika lingkungan vulkanik maupun hidrotermal, tergantung kondisi tektonik di wilayah yang mengalami aktivitas.
Meski demikian, Daryono menegaskan bahwa kemunculan gempa swarm tidak secara otomatis berarti akan terjadi gempa besar.
Fenomena tersebut dapat mereda secara bertahap. Karena itu, pola aktivitas gempa perlu dipantau berdasarkan data seismologi secara berkelanjutan dan tidak hanya dilihat dari jumlah kejadian gempa.
“Fenomena gempa swarm tidak selalu berarti aktivitas gempa akan terus membesar. Sebagian dari rangkaian pada fenomena gempa swarm dapat mereda secara bertahap,” katanya.
Daryono menambahkan, pemantauan secara terus-menerus diperlukan untuk mengetahui perkembangan aktivitas seismik di wilayah Kabupaten Bandung.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










