bukamata.id – Suasana ruang kelas di sebuah sekolah dasar tampak tenang namun sarat akan antusiasme. Di hadapan papan tulis hitam yang masih menyisakan catatan materi pelajaran bahasa, seorang bocah laki-laki berbadan mungil melangkah mantap. Seragam putih merah yang dikeluarkannya tampak begitu rapi, lengkap dengan atribut sekolah dan dasi yang terpasang pas di dadanya.
Bocah itu adalah Sandi, seorang siswa sekolah dasar asal Karangrena, Maos, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Hari itu, Sandi bukan sekadar hendak mengikuti jam pelajaran biasa, melainkan bersiap untuk menampilkan sebuah karya sastra tradisional yang membutuhkan penghayatan tinggi: geguritan atau puisi berbahasa Jawa.
Video penampilannya yang diabadikan dan diunggah melalui akun TikTok @iin.aminah77 seketika menjadi sorotan publik. Bukan sekadar membaca bait demi bait puisi dengan suara datar, Sandi menjelma menjadi sosok yang sama sekali berbeda begitu ia mulai membuka penampilannya. Dengan gaya yang teramat ekspresif, gestur tangan yang dinamis, hingga pose bertolak pinggang yang khas, Sandi berhasil membius siapa saja yang melihatnya. Tidak heran jika banyak warganet dan pemerhati pendidikan kemudian menyematkan julukan “Orator Cilik” kepadanya.
Sentuhan Magis Budaya Lokal Lewat Ekspresi Tanpa Beban
Geguritan, sebagai salah satu bentuk puisi tradisional masyarakat Jawa, seringkali dianggap sebagai seni yang kaku atau sulit bagi anak-anak seusia sekolah dasar. Banyak anak mengalami kesulitan dalam hal pelafalan (logat), intonasi, hingga penjiwaan makna yang terkandung di dalamnya. Namun, hambatan semacam itu seolah tidak berlaku bagi Sandi.
Begitu ia mengawali penampilannya dengan salam pembuka yang lantang, aura panggung langsung terpancar dari tubuhnya yang kecil. Sandi berdiri tegak di depan kelas, menghadap sang guru yang duduk di meja pengajar dengan senyuman penuh bangga. Guru tersebut tampak menyimak setiap gerak-gerik muridnya, sesekali tersenyum melihat totalitas luar biasa yang ditunjukkan oleh sang anak. Lembaran kertas berisi teks geguritan yang ia pegang di tangan kiri tampak lebih sering menjadi properti pelengkap ketimbang alat baca, sebab sebagian besar penghayatan itu telah merasuk ke dalam memori dan ekspresi wajahnya.
Gaya bertolak pinggang menjadi salah satu senjata utama Sandi dalam membangun karakter penampilannya. Tangannya diletakkan di pinggang dengan mantap, sementara dagunya sedikit diangkat, memperlihatkan ketegasan sekaligus keluguan khas anak-anak yang berpadu secara harmonis. Ketika bait-bait puisi mulai dilisankan, intonasi suaranya naik turun secara dramatis. Ada saat di mana suaranya melengking tinggi menirukan kritik sosial dalam puisi, namun ada pula saat di mana ia merendahkan nada bicaranya untuk membangun suasana yang syahdu dan penuh perenungan.
Menghidupkan Bait demi Bait: Antara Seni, Retorika, dan Bakat Alami
Menonton aksi Sandi di dalam kelas ibarat menyaksikan seorang aktor teater cilik profesional yang tengah mementaskan monolog perjuangan. Setiap perpindahan bait dalam geguritan tersebut direspons oleh Sandi dengan perubahan bahasa tubuh yang spontan namun terarah. Tangannya menunjuk ke berbagai arah, matanya berbinar-binar mengikuti alur emosi puisi, dan tubuhnya bergerak lincah ke kiri dan ke kanan tanpa sedikitpun rasa canggung di hadapan kamera.
Karisma yang ia pancarkan membuat suasana kelas terasa hidup. Kombinasi antara dialek lokal Banyumasan yang kental dan gaya berpidato ala orator ulung menciptakan sebuah tontonan yang menyegarkan. Publik di dunia maya pun merespons positif video tersebut. Banyak yang memuji keberanian Sandi, sementara sebagian lainnya mengagumi bagaimana sekolah dan guru di daerah mampu merawat tradisi budaya lokal seperti geguritan melalui metode pembelajaran yang menyenangkan dan memotivasi keberanian mental anak.
Apresiasi Hangat Warganet: Dari Ruang Kelas hingga Panggung Budaya
Aksi memukau Sandi di ruang kelas tidak hanya berhasil mencuri perhatian sang guru di sekolah, tetapi juga memantik gelombang apresiasi yang luar biasa dari warganet di media sosial. Berbagai tanggapan positif, pujian atas bakat alaminya, hingga pembelaan terhadap gaya penampilannya membanjiri kolom komentar.
Berikut adalah beberapa komentar pilihan dari warganet yang merefleksikan kekaguman mereka terhadap penampilan sang “Orator Cilik”:
- “Aneh banget yang ngetawain, aku Pernah nonton teater wayang orang di Solo emang begini bentukannya dan ini bagus banget!!” — Komentar ini datang dari warganet yang memahami esensi seni pertunjukan tradisional, menegaskan bahwa gaya ekspresif dan teatrikal yang dibawakan Sandi sebenarnya sudah sejalan dengan standar pementasan seni panggung profesional seperti wayang orang.
- “Koq bisa sih? Ini ortunya seniman teater kali ya. Mantap dek,” — Ungkapan rasa takjub atas totalitas akting dan penghayatan karakter yang begitu matang di usia yang masih sangat belia, membuat warganet menduga bahwa bakat seni tersebut mungkin juga mengalir dari lingkungan keluarga terdekatnya.
- “Keren….temen2nya juga gak ngetawain. Mengapresiasi si anak berekspresi. Adeknya juga keren sedari kecil sudah keliatan bakatnya 👏 sungguh circle yang keren,” — Sorotan positif juga diberikan kepada suasana kelas tempat Sandi tampil. Dukungan moral dari teman-teman sekelas yang tidak menertawakan melainkan menghargai proses kreativitasnya dinilai sebagai bentuk lingkungan pertemanan (circle) yang sangat positif dan suportif bagi tumbuh kembang anak.
Merawat Tradisi di Tengah Arus Modernisasi
Fenomena yang ditampilkan oleh Sandi memberikan secercah harapan bagi pelestarian seni budaya daerah, khususnya sastra Jawa. Di era digital saat ini, di mana anak-anak lebih sering terpapar oleh konten hiburan instan dari gawai pintar, keberadaan anak-anak seperti Sandi yang masih bersemangat mendalami dan membawakan geguritan patut diapresiasi tinggi.
Apa yang dilakukan oleh Sandi di ruang kelas sederhana itu membuktikan bahwa bakat seni tidak mengenal batas geografis maupun fasilitas mewah. Dengan bimbingan guru yang suportif dan ruang berekspresi yang diberikan di sekolah, potensi seorang anak dapat berkembang secara optimal. Sandi dari Karangrena, Cilacap, telah mengingatkan kita semua bahwa seni tradisional akan tetap hidup selama masih ada generasi muda yang membawakannya dengan sepenuh hati, keberanian, dan kecintaan yang mendalam.
Bagaimana tanggapan Anda melihat aksi percaya diri dan totalitas tanpa batas dari bocah asal Cilacap ini saat membawakan puisi tradisional di depan kelas?
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










