Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Rincian Harga BBM Pertamina Terbaru per 5 November 2026 di Seluruh Wilayah Indonesia

Kamis, 5 November 2026 08:00 WIB

Satu Poin Lagi! Begini Syarat Persib Bandung Kunci Takhta Puncak Klasemen Grup E ACL 2

Kamis, 5 November 2026 07:20 WIB

Wacana Baru BPJS Kesehatan: Iuran Gratis PBI JK Bakal Diperluas Hingga Desil 8, Cek Syaratnya!

Kamis, 5 November 2026 07:02 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Rincian Harga BBM Pertamina Terbaru per 5 November 2026 di Seluruh Wilayah Indonesia
  • Satu Poin Lagi! Begini Syarat Persib Bandung Kunci Takhta Puncak Klasemen Grup E ACL 2
  • Wacana Baru BPJS Kesehatan: Iuran Gratis PBI JK Bakal Diperluas Hingga Desil 8, Cek Syaratnya!
  • Cair Mulai November! Simak Daftar Lengkap Kriteria Penerima BSU 2026 Beserta Cara Cek Statusnya
  • Igor Tolic Ungkap Kunci Persib Bandung Kalahkan Melbourne Victory
  • Aturan Baru BGN Mencekik, Dapur SPPG di Priangan Timur Terancam Defisit Hingga Berujung PHK Relawan
  • Supersub Persib! Luka Menalo Butuh 11 Menit untuk Ubah Nasib Laga di Melbourne
  • Herri Pras Diserbu Laporan! Belasan Ormas Datangi Polda Jabar Usai Konten soal UAS dan UAH
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Kamis, 5 November 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Gaya Hidup

Bikin Takjub! Aksi ‘Orator Cilik’ Asal Cilacap Bikin Satu Kelas Terpukau, Bakat Alaminya Luar Biasa

By Aga GustianaJumat, 18 September 2026 14:57 WIB5 Mins Read
Aksi bocah SD di Cilacap baca geguritan bikin netizen takjub. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Suasana ruang kelas di sebuah sekolah dasar tampak tenang namun sarat akan antusiasme. Di hadapan papan tulis hitam yang masih menyisakan catatan materi pelajaran bahasa, seorang bocah laki-laki berbadan mungil melangkah mantap. Seragam putih merah yang dikeluarkannya tampak begitu rapi, lengkap dengan atribut sekolah dan dasi yang terpasang pas di dadanya.

Bocah itu adalah Sandi, seorang siswa sekolah dasar asal Karangrena, Maos, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Hari itu, Sandi bukan sekadar hendak mengikuti jam pelajaran biasa, melainkan bersiap untuk menampilkan sebuah karya sastra tradisional yang membutuhkan penghayatan tinggi: geguritan atau puisi berbahasa Jawa.

Video penampilannya yang diabadikan dan diunggah melalui akun TikTok @iin.aminah77 seketika menjadi sorotan publik. Bukan sekadar membaca bait demi bait puisi dengan suara datar, Sandi menjelma menjadi sosok yang sama sekali berbeda begitu ia mulai membuka penampilannya. Dengan gaya yang teramat ekspresif, gestur tangan yang dinamis, hingga pose bertolak pinggang yang khas, Sandi berhasil membius siapa saja yang melihatnya. Tidak heran jika banyak warganet dan pemerhati pendidikan kemudian menyematkan julukan “Orator Cilik” kepadanya.

Sentuhan Magis Budaya Lokal Lewat Ekspresi Tanpa Beban

Geguritan, sebagai salah satu bentuk puisi tradisional masyarakat Jawa, seringkali dianggap sebagai seni yang kaku atau sulit bagi anak-anak seusia sekolah dasar. Banyak anak mengalami kesulitan dalam hal pelafalan (logat), intonasi, hingga penjiwaan makna yang terkandung di dalamnya. Namun, hambatan semacam itu seolah tidak berlaku bagi Sandi.

Begitu ia mengawali penampilannya dengan salam pembuka yang lantang, aura panggung langsung terpancar dari tubuhnya yang kecil. Sandi berdiri tegak di depan kelas, menghadap sang guru yang duduk di meja pengajar dengan senyuman penuh bangga. Guru tersebut tampak menyimak setiap gerak-gerik muridnya, sesekali tersenyum melihat totalitas luar biasa yang ditunjukkan oleh sang anak. Lembaran kertas berisi teks geguritan yang ia pegang di tangan kiri tampak lebih sering menjadi properti pelengkap ketimbang alat baca, sebab sebagian besar penghayatan itu telah merasuk ke dalam memori dan ekspresi wajahnya.

Baca Juga:  Intip Profil Wiwin Komalasari, Kades Glamor dengan Koleksi Tas Mewahnya

Gaya bertolak pinggang menjadi salah satu senjata utama Sandi dalam membangun karakter penampilannya. Tangannya diletakkan di pinggang dengan mantap, sementara dagunya sedikit diangkat, memperlihatkan ketegasan sekaligus keluguan khas anak-anak yang berpadu secara harmonis. Ketika bait-bait puisi mulai dilisankan, intonasi suaranya naik turun secara dramatis. Ada saat di mana suaranya melengking tinggi menirukan kritik sosial dalam puisi, namun ada pula saat di mana ia merendahkan nada bicaranya untuk membangun suasana yang syahdu dan penuh perenungan.

Menghidupkan Bait demi Bait: Antara Seni, Retorika, dan Bakat Alami

Menonton aksi Sandi di dalam kelas ibarat menyaksikan seorang aktor teater cilik profesional yang tengah mementaskan monolog perjuangan. Setiap perpindahan bait dalam geguritan tersebut direspons oleh Sandi dengan perubahan bahasa tubuh yang spontan namun terarah. Tangannya menunjuk ke berbagai arah, matanya berbinar-binar mengikuti alur emosi puisi, dan tubuhnya bergerak lincah ke kiri dan ke kanan tanpa sedikitpun rasa canggung di hadapan kamera.

Baca Juga:  Didampingi Putrinya, Dedi Mulyadi Terekam Akrab dengan Perempuan Cantik: Siapa Dia?

Karisma yang ia pancarkan membuat suasana kelas terasa hidup. Kombinasi antara dialek lokal Banyumasan yang kental dan gaya berpidato ala orator ulung menciptakan sebuah tontonan yang menyegarkan. Publik di dunia maya pun merespons positif video tersebut. Banyak yang memuji keberanian Sandi, sementara sebagian lainnya mengagumi bagaimana sekolah dan guru di daerah mampu merawat tradisi budaya lokal seperti geguritan melalui metode pembelajaran yang menyenangkan dan memotivasi keberanian mental anak.

Apresiasi Hangat Warganet: Dari Ruang Kelas hingga Panggung Budaya

Aksi memukau Sandi di ruang kelas tidak hanya berhasil mencuri perhatian sang guru di sekolah, tetapi juga memantik gelombang apresiasi yang luar biasa dari warganet di media sosial. Berbagai tanggapan positif, pujian atas bakat alaminya, hingga pembelaan terhadap gaya penampilannya membanjiri kolom komentar.

Berikut adalah beberapa komentar pilihan dari warganet yang merefleksikan kekaguman mereka terhadap penampilan sang “Orator Cilik”:

  • “Aneh banget yang ngetawain, aku Pernah nonton teater wayang orang di Solo emang begini bentukannya dan ini bagus banget!!” — Komentar ini datang dari warganet yang memahami esensi seni pertunjukan tradisional, menegaskan bahwa gaya ekspresif dan teatrikal yang dibawakan Sandi sebenarnya sudah sejalan dengan standar pementasan seni panggung profesional seperti wayang orang.
  • “Koq bisa sih? Ini ortunya seniman teater kali ya. Mantap dek,” — Ungkapan rasa takjub atas totalitas akting dan penghayatan karakter yang begitu matang di usia yang masih sangat belia, membuat warganet menduga bahwa bakat seni tersebut mungkin juga mengalir dari lingkungan keluarga terdekatnya.
  • “Keren….temen2nya juga gak ngetawain. Mengapresiasi si anak berekspresi. Adeknya juga keren sedari kecil sudah keliatan bakatnya 👏 sungguh circle yang keren,” — Sorotan positif juga diberikan kepada suasana kelas tempat Sandi tampil. Dukungan moral dari teman-teman sekelas yang tidak menertawakan melainkan menghargai proses kreativitasnya dinilai sebagai bentuk lingkungan pertemanan (circle) yang sangat positif dan suportif bagi tumbuh kembang anak.
Baca Juga:  Plot Twist Terbaik! Dulu Ditinggal Narik Ojol, Sekarang Anak Kecil Ini Bawa Ayahnya ke Tempat Terindah

Merawat Tradisi di Tengah Arus Modernisasi

Fenomena yang ditampilkan oleh Sandi memberikan secercah harapan bagi pelestarian seni budaya daerah, khususnya sastra Jawa. Di era digital saat ini, di mana anak-anak lebih sering terpapar oleh konten hiburan instan dari gawai pintar, keberadaan anak-anak seperti Sandi yang masih bersemangat mendalami dan membawakan geguritan patut diapresiasi tinggi.

Apa yang dilakukan oleh Sandi di ruang kelas sederhana itu membuktikan bahwa bakat seni tidak mengenal batas geografis maupun fasilitas mewah. Dengan bimbingan guru yang suportif dan ruang berekspresi yang diberikan di sekolah, potensi seorang anak dapat berkembang secara optimal. Sandi dari Karangrena, Cilacap, telah mengingatkan kita semua bahwa seni tradisional akan tetap hidup selama masih ada generasi muda yang membawakannya dengan sepenuh hati, keberanian, dan kecintaan yang mendalam.

Bagaimana tanggapan Anda melihat aksi percaya diri dan totalitas tanpa batas dari bocah asal Cilacap ini saat membawakan puisi tradisional di depan kelas?

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

cilacap geguritan SD viral
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Rincian Harga BBM Pertamina Terbaru per 5 November 2026 di Seluruh Wilayah Indonesia

Wacana Baru BPJS Kesehatan: Iuran Gratis PBI JK Bakal Diperluas Hingga Desil 8, Cek Syaratnya!

Pekerja menerima BSU 2025 dari pemerintah

Cair Mulai November! Simak Daftar Lengkap Kriteria Penerima BSU 2026 Beserta Cara Cek Statusnya

Heboh! Video 6 Menit Karyawan HWI Jepara Viral di TikTok, Benarkah Ada Rekaman Rahasia?

Lagi Dicari Netizen, Terungkap Isi Sebenarnya di Balik Video Viral Egar dan Fina Asal Banyuwangi

Jangan Klik! Tautan Isu Video Egar dan Fina Dijual Rp30 Ribu, Ini Modus Penipuannya

Terpopuler
  • Link Video Viral Egar dan Fina Banyuwangi Part 1 Sampai 4 Full Durasi Dicari Netizen, Ini Fakta Sebenarnya!
  • Ilustrasi video syur
    Link Video Egar dan Fina Banyuwangi Viral di TikTok, Ini Fakta Sebenarnya!
  • Perang Estetika Kota: Utopia Art Deco vs Megalomania Kerajaan di Saat Kas Pemprov Jabar Sekarat
  • Geger Link Video Viral Karyawan HWI Durasi 6 Menit, Ini Fakta Sebenarnya!
  • Heboh! Video 6 Menit Karyawan HWI Jepara Viral di TikTok, Benarkah Ada Rekaman Rahasia?
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.