Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Aturan Baru BGN Mencekik, Dapur SPPG di Priangan Timur Terancam Defisit Hingga Berujung PHK Relawan

Rabu, 4 November 2026 20:21 WIB

Supersub Persib! Luka Menalo Butuh 11 Menit untuk Ubah Nasib Laga di Melbourne

Rabu, 4 November 2026 19:42 WIB

Herri Pras Diserbu Laporan! Belasan Ormas Datangi Polda Jabar Usai Konten soal UAS dan UAH

Rabu, 4 November 2026 19:37 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Aturan Baru BGN Mencekik, Dapur SPPG di Priangan Timur Terancam Defisit Hingga Berujung PHK Relawan
  • Supersub Persib! Luka Menalo Butuh 11 Menit untuk Ubah Nasib Laga di Melbourne
  • Herri Pras Diserbu Laporan! Belasan Ormas Datangi Polda Jabar Usai Konten soal UAS dan UAH
  • Heboh! Video 6 Menit Karyawan HWI Jepara Viral di TikTok, Benarkah Ada Rekaman Rahasia?
  • Persib Menang Lagi di ACL 2! Ini Hitung-hitungan Poin Koefisien Liga Indonesia Terbaru di Ranking AFC
  • Peringatan Darurat Sanitasi Kota Bandung, 90 Persen Sungai Tercemar Bakteri E. Coli
  • Ukir Sejarah! Bek Timnas Indonesia Terpilih Jadi Pemain Terbaik Liga Champions
  • Terungkap Motif Pembunuhan Sadis Hj Komariyah di Indramayu: Sakit Hati Sering Disindir Utang
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Kamis, 5 November 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Gaya Hidup

Kenapa Bandung Terasa Sangat Dingin Akhir-akhir Ini? Simak Penjelasan Lengkap BMKG

By Aga GustianaSelasa, 28 Juli 2026 13:36 WIB2 Mins Read
cuaca dingin
Ilustrasi cuaca terasa lebih dingin. (Foto: Pixabay/RosZie)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Warga Bandung Raya dan sekitarnya kini harus bersiap menghadapi cuaca yang jauh lebih menusuk tulang. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara resmi mengeluarkan peringatan dini terkait fenomena suhu dingin ekstrem yang tengah melanda wilayah tersebut, terutama pada rentang malam hingga pagi hari.

Plt Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, Edi Wibowo, menjelaskan bahwa bulan Juli ini menandai fase awal periode musim kemarau di kawasan datangan tinggi Priangan.

Fenomena suhu yang terasa jauh lebih dingin dari biasanya ini bukan tanpa alasan. Menurut Edi, minimnya tutupan awan di langit membuat terik matahari pada siang hari terserap secara maksimal oleh permukaan bumi. Akibat tidak adanya “selimut awan” tersebut, panas yang tersimpan justru terpancar bebas ke angkasa tanpa hambatan saat malam menjelang.

“Kondisi inilah yang kemudian menyebabkan permukaan bumi mendingin dengan cepat karena kehilangan energi secara maksimal. Dampaknya adalah suhu minimum atau udara dingin yang ekstrem di malam hingga dini hari,” terang Edi, Selasa (28/7/2026).

Baca Juga:  Musim Kemarau, Sumedang Mulai Diserang Diare

Peran Angin Monsun Australia

Selain faktor pelepasan radiasi bumi, ada pemicu global lain di balik fenomena cuaca membeku ini. Wilayah Australia saat ini sedang berada dalam periode musim dingin, yang memicu terbentuknya pusat tekanan udara tinggi.

Baca Juga:  Simak Tips Mudik Lebaran Aman dan Nyaman di Tengah Cuaca Ekstrem

Dinamika atmosfer tersebut mendesak massa udara dingin dan kering untuk bergerak masif melintasi garis khatulistiwa menuju kawasan Belahan Bumi Selatan (BBS), termasuk Indonesia. Pergerakan yang dikenal sebagai angin monsun Australia ini sekaligus menjadi motor utama yang memperkuat karakteristik musim kemarau di Tanah Air.

Sebagai catatan, titik terendah temperatur udara di Kota Bandung sempat menyentuh angka 16,6 derajat Celsius pada tanggal 26 Juli 2026 lalu.

Imbauan Resmi untuk Warga

Menghadapi puncak musim kemarau yang disertai anomali suhu dingin ini, pihak BMKG mendesak masyarakat serta instansi terkait untuk meningkatkan kewaspadaan dini terhadap berbagai potensi risiko, di antaranya:

  • Krisis Air Bersih: Menipisnya cadangan air akibat minimnya curah hujan.
  • Sektor Pertanian: Ancaman kekeringan pada lahan-lahan produktif petani.
  • Risiko Kebakaran: Lonjakan titik panas (hotspot) yang berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Baca Juga:  13 Bangunan Rusak Akibat Angin Puting Beliung di Soreang, 3 Warga Luka-Luka

Masyarakat diimbau agar lebih hemat dalam memanfaatkan air bersih, menghindari kebiasaan membakar sampah atau membuka lahan secara sembarangan, serta memperkuat proteksi kesehatan tubuh guna mengantisipasi dampak fluktuasi cuaca ekstrem.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Cuaca Ekstrem musim kemarau
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Heboh! Video 6 Menit Karyawan HWI Jepara Viral di TikTok, Benarkah Ada Rekaman Rahasia?

Lagi Dicari Netizen, Terungkap Isi Sebenarnya di Balik Video Viral Egar dan Fina Asal Banyuwangi

Jangan Klik! Tautan Isu Video Egar dan Fina Dijual Rp30 Ribu, Ini Modus Penipuannya

Definisi Jilat Ludah Sendiri? Perubahan Drastis Vicky Prasetyo ke Raffi Ahmad Bikin Publik Curiga!

6 Tempat Makan Ramah Vegan dan Vegetarian di Bandung yang Wajib Dicoba Saat Liburan

Cerai Tanpa Drama! Demian Aditya Kudeta Ultah DMS, Reuni Bareng Sara Wijayanto Diserbu Netizen!

Terpopuler
  • Link Video Viral Egar dan Fina Banyuwangi Part 1 Sampai 4 Full Durasi Dicari Netizen, Ini Fakta Sebenarnya!
  • Ilustrasi video syur
    Link Video Egar dan Fina Banyuwangi Viral di TikTok, Ini Fakta Sebenarnya!
  • Perang Estetika Kota: Utopia Art Deco vs Megalomania Kerajaan di Saat Kas Pemprov Jabar Sekarat
  • Geger Link Video Viral Karyawan HWI Durasi 6 Menit, Ini Fakta Sebenarnya!
  • Heboh! Video 6 Menit Karyawan HWI Jepara Viral di TikTok, Benarkah Ada Rekaman Rahasia?
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.