Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Doa Buka Puasa dan Jadwal Adzan Maghrib Bandung 15 Maret 2026

Minggu, 15 Maret 2026 17:00 WIB

Alwi Farhan dan Putri KW Tembus Final Swiss Open 2026, Indonesia Bidik Dua Gelar

Minggu, 15 Maret 2026 15:02 WIB

Selisih 4 Poin di Klasemen, Persib vs Borneo FC Jadi Laga Krusial Perebutan Gelar

Minggu, 15 Maret 2026 14:45 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Doa Buka Puasa dan Jadwal Adzan Maghrib Bandung 15 Maret 2026
  • Alwi Farhan dan Putri KW Tembus Final Swiss Open 2026, Indonesia Bidik Dua Gelar
  • Selisih 4 Poin di Klasemen, Persib vs Borneo FC Jadi Laga Krusial Perebutan Gelar
  • Video ‘Ibu Tiri vs Anak Tiri’ Jadi Viral, Part 2 Paling Dicari Warganet
  • Mobil Dinas Tak Boleh untuk Mudik, ASN Bandung Diminta Patuhi Aturan
  • Pertarungan Dua Raksasa! Persib vs Borneo FC, Siapa yang akan Kuasai Puncak?
  • Gadis 22 Tahun Dinikahi Kakek 65 Tahun: Seserahan Sultan, Mobil hingga Saham Bumi!
  • Catat Lokasinya! 21 Titik Wi-Fi Gratis Siap Temani Pemudik di Kabupaten Bandung
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Minggu, 15 Maret 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Opini

Krisis Ekologi dan Tantangan Baru Dakwah

By SusanaMinggu, 25 Januari 2026 18:38 WIB3 Mins Read
Ilustrasi Krisis lingkungan Nusantara menuntut dakwah Islam berbasis ekoteologi. Foto: Chatgpt.
ADVERTISEMENT

Nusantara kini menghadapi krisis lingkungan yang semakin serius. Banjir, kekeringan ekstrem, deforestasi, dan polusi berulang serta berdampak langsung pada keberlangsungan hidup manusia (Astuti et al., 2024; Thamrin, 2017). Ironisnya, di tengah situasi ini, orientasi dakwah kelembagaan masih dominan ritual dan individualistik (Pardi, 2020).

Dakwah kerap berhenti pada penguatan ibadah personal tanpa dikaitkan dengan tanggung jawab ekologis. Padahal Al-Qur’an telah mengingatkan bahwa kerusakan di darat dan laut merupakan akibat perbuatan manusia sendiri (QS. Ar-Rum: 41). Tanpa perubahan orientasi, dakwah berisiko kehilangan daya jawab sosial di era krisis iklim.

Ekoteologi menawarkan koreksi penting atas situasi ini. Ibadah tidak hanya dimaknai sebagai relasi transenden dengan Tuhan, tetapi juga sebagai tanggung jawab moral menjaga bumi ciptaan-Nya (Hidayat, 2023). Kesalehan tidak cukup diukur dari intensitas ritual, melainkan dari dampaknya bagi keberlanjutan kehidupan (Runtuwene, 2025).

Dalam perspektif ini, kerusakan lingkungan bukan sekadar persoalan teknis, tetapi cermin kegagalan etika dan spiritual. Dakwah yang abai terhadap dimensi ekologis akan terputus dari realitas penderitaan umat yang hidup di wilayah rawan bencana.

Paradigma manusia sebagai khalifah fil ardh juga belum terinternalisasi secara kelembagaan (Julaeha & Kurniawan, 2018). Konsep kekhalifahan sering hadir sebagai wacana normatif, tetapi jarang menjadi dasar strategis program dakwah. Padahal Al-Qur’an menegaskan kekhalifahan sebagai amanah besar untuk menjaga dan melindungi kehidupan (QS. Al-Baqarah: 30). Konsep ini menuntut tanggung jawab etis menjaga keseimbangan kosmos, bukan pembenaran eksploitasi sumber daya alam tanpa batas (Darwis et al., 2023).

Persoalan lain terletak pada rendahnya literasi lingkungan di kalangan dai dan pengelola lembaga dakwah. Isu perubahan iklim, krisis air, dan degradasi lahan belum terintegrasi dalam narasi dakwah. Akibatnya, pesan keagamaan kerap terasa jauh dari tantangan nyata umat. Padahal Nabi Muhammad SAW secara tegas melarang perusakan lingkungan dan menganjurkan penanaman pohon sebagai amal berkelanjutan (HR. Bukhari No. 2320; Muslim No. 1553). Dakwah yang relevan menuntut penguasaan dasar ekologi yang berpadu dengan teks keagamaan.

Di ruang publik, lembaga dakwah juga belum tampil sebagai kekuatan advokasi ekologis yang konsisten. Keterlibatan dalam isu perusakan hutan, pertambangan destruktif, dan pencemaran lingkungan masih terbatas. Padahal Islam menempatkan keadilan sebagai prinsip utama, termasuk keadilan terhadap alam.

Ibn Taymiyyah menegaskan bahwa segala bentuk kezaliman, termasuk terhadap lingkungan, merupakan pelanggaran amanah manusia sebagai khalifah (Hasnawati, 2020). Ekoteologi mendorong dakwah hadir sebagai kekuatan moral publik yang berpihak pada keselamatan bersama.

Dalam program pemberdayaan umat, dimensi keberlanjutan lingkungan juga sering terabaikan. Tidak sedikit program ekonomi bertumpu pada eksploitasi sumber daya alam tanpa pertimbangan dampak jangka panjang. Al-Qur’an melarang penggunaan sumber daya secara berlebihan dan melampaui batas (QS. Al-A’raf: 31).

Kajian ekonomi lingkungan menegaskan bahwa pembangunan yang melampaui daya dukung ekologis akan merusak fondasi peradaban manusia (Humaida et al., 2020). Ekoteologi mengarahkan pemberdayaan umat menuju ekonomi yang adil, etis, dan berkelanjutan.

Masjid dan lembaga dakwah sejatinya dapat menjadi teladan institusi ramah lingkungan. Namun, praktik pengelolaan sampah, efisiensi energi, dan konservasi air masih minim diterapkan. Padahal masjid memiliki fungsi edukatif dan simbolik yang kuat di tengah masyarakat. Al-Ghazali menekankan bahwa kebersihan dan tanggung jawab moral merupakan bagian dari iman (Arijulmanan et al., 2020).

Pada akhirnya, krisis ekologis bukan sekadar persoalan teknis, melainkan krisis etika dan spiritual. Seyyed Hossein Nasr menyebut krisis ekologi modern sebagai krisis spiritualitas manusia (Sururi et al., 2020). Karena itu, pelestarian bumi harus ditempatkan sebagai bagian integral dari misi dakwah dan penghambaan kepada Tuhan.

Penulis: Herman, Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

dakwah ramah lingkungan ekoteologi Islam khalifah fil ardh konservasi masjid krisis lingkungan Nusantara literasi ekologi dai pendidikan lingkungan dakwah peran lembaga dakwah sustainability Islam
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

MBG

Makan Bergizi Gratis: Antara Angka Nutrisi dan Realitas “Perut Kenyang” di Mata Masyarakat

Materialisme Media Sosial

Pers Bukan Sekadar Industri Klik, Kita Adalah Penjaga Nalar Publik

AI dalam Perencanaan Karier, Ancaman atau Bantuan?

Menjaga Pilkada Sebagai Ruang Partisipasi Warga

Potensi Defisit APBD Jabar 2026 Rp4,3 Triliun: Alarm Manajemen Fiskal atau Sekadar Drama Anggaran?

Terpopuler
  • Viral Video Kebun Sawit Ibu Tiri vs Anak Tiri, Apa Isinya? Hati-hati Jebakan Batman!
  • Video Aksi Ibu Tiri vs Anak Tiri di Kebun Sawit Viral, Link Diburu Netizen
  • Video Viral Ukhti Mukena Pink
    Heboh di Media Sosial, Video Ukhti Mukena Pink Bersensor Putih Bikin Netizen Penasaran
  • Video Viral Ukhti Mukena Pink
    Waspada Klaim Full Durasi Video Ukhti Mukena Pink ‘No Sensor’, Ini Faktanya
  • Viral video ukhti mukena pink.
    Hati-hati! Link Video Viral Mukena Pink ‘No Sensor’ Bisa Sebarkan Malware
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.