Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Bukan Sekadar Adu Urat, Bahar bin Smith vs GRIB Jaya: Dua Nama Kontroversial Bertemu di Tengah Kasus Maut

Minggu, 30 Agustus 2026 20:03 WIB

Dion Markx Tinggalkan Persib Sementara, Ada Misi Khusus di Balik Keputusan Mengejutkan Ini

Minggu, 30 Agustus 2026 19:29 WIB

Bansos Lansia Dicoret karena Terindikasi Judol, Faktanya Dayat-Darmi Tak Punya HP

Minggu, 30 Agustus 2026 18:32 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Bukan Sekadar Adu Urat, Bahar bin Smith vs GRIB Jaya: Dua Nama Kontroversial Bertemu di Tengah Kasus Maut
  • Dion Markx Tinggalkan Persib Sementara, Ada Misi Khusus di Balik Keputusan Mengejutkan Ini
  • Bansos Lansia Dicoret karena Terindikasi Judol, Faktanya Dayat-Darmi Tak Punya HP
  • 143 Karhutla Terjadi di Jabar, Aktivitas Pendakian Gunung Terancam Dihentikan
  • Marc Klok Tak Mau Banyak Basa-basi, Target Persib vs Manila Digger Cuma Satu
  • LEBIH NGERI DARI JEKA SARAGIH?! Bilal Hasan ‘The Indo Ninja’ Bantai Lawan di UFC Shanghai!
  • Link Dana Kaget 30 Agustus 2026: Ada Saldo Rp100 Ribu, Cek dan Coba Klaim!
  • Sandy Walsh dan 2 Pemain Persib Resmi Absen, Begini Siasat Igor Tolic Lawan Manila Digger
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Minggu, 30 Agustus 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Kritik Klasifikasi Desa di LKPj Jabar 2024, A Yamin: Jangan Tutupi Realita!

By SusanaSenin, 23 Juni 2025 09:30 WIB2 Mins Read
Anggota Komisi I DPRD Jawa Barat, A Yamin. Foto: Ist.
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Anggota Komisi I DPRD Jawa Barat, A Yamin, melayangkan kritik tajam terhadap laporan klasifikasi desa yang tercantum dalam Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPj) Gubernur Jabar Tahun 2024.

Dalam LKPj tersebut, yang disampaikan oleh Gubernur Dedi Mulyadi berdasarkan kinerja saat provinsi masih dipimpin Penjabat Gubernur Bey Machmudin, disebutkan bahwa desa di Jabar dikelompokkan menjadi tiga kategori: Desa Mandiri, Desa Maju, dan Desa Berkembang.

Namun, menurut A Yamin, klasifikasi itu tidak mencerminkan kondisi nyata di lapangan, terutama di wilayah-wilayah pelosok seperti Kabupaten Sukabumi.

“Itu LKPj periode sebelumnya, memang bukan Gubernur saat ini. Tapi pemerintahan tetap satu. Yang jadi sorotan saya, klasifikasinya terlalu optimistis. Banyak desa masih di bawah standar,” ujar Yamin.

Fakta Lapangan Tak Sesuai Laporan

Yamin menilai, klasifikasi seperti Desa Mandiri hanya terlihat di wilayah perkotaan dengan akses dan jangkauan terbatas. Sementara di daerah luas seperti Kabupaten Sukabumi yang memiliki 47 kecamatan dan lebih dari 380 desa, banyak desa yang infrastrukturnya masih jauh dari layak.

“Bangunan balai desa saja masih banyak yang tidak memenuhi standar. Saya khawatir klaim ‘Desa Mandiri’ justru menyesatkan jika tidak berdasarkan data riil,” tambahnya.

Ia juga menegaskan bahwa saat melakukan kunjungan kerja ke desa-desa di Sukabumi, ia mendapati fasilitas pelayanan masyarakat masih sangat memprihatinkan.

Desa Tertinggal Masih Ada di Sukabumi

Dalam laporan resmi, tak disebut adanya Desa Tertinggal, padahal menurut Yamin, kondisi tersebut nyata di banyak lokasi. Ia mencontohkan aula pertemuan desa yang ia kunjungi masih seperti rumah biasa, jauh dari kata layak sebagai pusat pelayanan warga.

“Saya hadir rapat, dan tempatnya tidak representatif sama sekali. Balai desa itu pusat pelayanan, seharusnya tertata dan layak,” tegas politisi Partai Demokrat ini.

Sukabumi Perlu Perhatian Khusus dari Pemprov Jabar

Sebagai wakil rakyat dari Daerah Pemilihan V Kota dan Kabupaten Sukabumi, Yamin meminta Pemprov Jabar lebih serius memperhatikan pemerataan pembangunan, terutama infrastruktur dasar.

Ia juga menyebut bahwa wilayah seperti Garut dan daerah perbukitan lainnya mengalami hal serupa, tapi Sukabumi justru seperti luput dari prioritas fiskal.

“Bantuan ke desa-desa Sukabumi sangat kecil, terutama yang sifatnya pembangunan fisik. Jika hanya mengandalkan ADD dan bantuan normatif, jelas tidak cukup,” ungkapnya.

Dorongan untuk Pemerataan dan Revisi Data Klasifikasi

A Yamin mendesak Pemprov Jabar untuk turun langsung mengevaluasi kondisi desa di daerah-daerah terpencil, bukan hanya mengandalkan data administratif.

“Klasifikasi itu harus disesuaikan dengan kenyataan. Jangan disebut ‘Desa Berkembang’ padahal kondisinya masih jauh tertinggal,” pungkasnya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Bukan Sekadar Adu Urat, Bahar bin Smith vs GRIB Jaya: Dua Nama Kontroversial Bertemu di Tengah Kasus Maut

Bansos Lansia Dicoret karena Terindikasi Judol, Faktanya Dayat-Darmi Tak Punya HP

143 Karhutla Terjadi di Jabar, Aktivitas Pendakian Gunung Terancam Dihentikan

Kabar Gembira Guru PPPK! 231 Ribu Lebih PPPK Paruh Waktu Disebut Naik Status 2027

Update Banjir Nepal-Tibet: 691 Orang Tewas, Lebih dari 3.000 Masih Hilang

Bansos

Desil Bansos 2026 Terbaru: Cek Pakai NIK, Jangan Kaget Jika Masuk Desil Ini

Terpopuler
  • Janji Penguatan UMKM Dipertanyakan di Tengah Masifnya Penertiban PKL Kota Bandung
  • Lepas Saat Dijemur, Pitbull Ngamuk Serang Anak 9 Tahun di Arjasari Bandung
  • Loyalis Fanatik Mulai Tergerus, Warga Makin Berani Kritik Dedi Mulyadi!
  • Benarkah Azab? Di Balik Narasi Bencana Nepal dan Isu Perusakan Masjid yang Viral
  • Musda VI Demokrat Jabar Digelar, AHY Dorong Konsolidasi dan Kebangkitan Partai Menuju Pemilu 2029
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.