bukamata.id – Media sosial tengah diramaikan oleh perbincangan seputar tagar #BoikotTrans7. Gelombang reaksi ini terutama datang dari komunitas santri dan masyarakat pesantren, yang merasa tersinggung dengan salah satu episode program XPOSE yang disiarkan Trans7.
Episode tersebut menampilkan judul yang dianggap provokatif:
“Santrinya minum susu aja kudu jongkok, emang gini kehidupan di pondok?”
Potongan tayangan itu menyebar cepat di berbagai platform, khususnya TikTok dan Instagram, dan langsung menuai reaksi keras dari publik. Banyak pihak menilai konten tersebut merendahkan martabat kiai, santri, serta lembaga pesantren secara umum.
Meskipun tayangan itu kemungkinan dimaksudkan sebagai bentuk kritik sosial, narasi yang diangkat dinilai tidak seimbang. Penyajiannya dianggap menyudutkan kehidupan santri tanpa memberikan ruang klarifikasi kepada pihak pesantren, sehingga berpotensi menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat.
Selain itu, isi tayangan dianggap menyentuh ranah keagamaan secara sensitif dan menimbulkan stereotip negatif terhadap dunia pesantren. Kritik juga diarahkan pada cara penyajian yang hanya menonjolkan satu sisi, tanpa peliputan yang berimbang.
Isu ini menjadi semakin sensitif karena dalam beberapa waktu terakhir, pemberitaan mengenai kehidupan santri dan pesantren kerap dimunculkan di media sosial dengan nada provokatif dan kurang berlandaskan fakta.
Akibatnya, muncul seruan luas untuk memboikot Trans7. Tagar #BoikotTrans7 kini ramai digunakan dan trending di berbagai platform media sosial. Salah satu akun Instagram bernama “Santri Melawan” bahkan mengunggah video dengan tulisan tegas:
“BOIKOT!!! Trans7 yang telah menghina kiai dan santri.”
Trans7 Sampaikan Permohonan Maaf Resmi
Menanggapi gelombang protes tersebut, Trans7 akhirnya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada pihak Pondok Pesantren Lirboyo terkait tayangan program XPOSE Uncensored yang ditayangkan pada 13 Oktober.
“Kami dari Trans7 dengan segala kerendahan hati menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada segenap Kyai dan Keluarga, para Pengasuh, Santri, serta Alumni Pondok Pesantren Lirboyo, khususnya di bawah naungan PP. Putri Hidayatul Mubtadiaat,” ujar Renny Andhita, Kepala Departemen Programming Trans7, melalui surat resmi yang dikirimkan kepada PP. Putri Hidayatul Mubtadiaat.
Dalam surat tersebut, Trans7 mengakui bahwa tayangan tersebut telah menimbulkan ketidaknyamanan bagi keluarga besar pesantren. Mereka menyatakan bahwa insiden ini menjadi pembelajaran penting agar ke depan tidak lagi menayangkan konten yang berkaitan dengan ulama, kiai, dan kehidupan pesantren dalam program yang tidak relevan.
Trans7 juga menegaskan komitmennya untuk menampilkan program yang mengangkat nilai-nilai positif dan keteladanan kehidupan pesantren di Indonesia, khususnya yang berkaitan dengan Pondok Pesantren Lirboyo.
“Kami berharap surat ini dapat diterima sebagai bentuk itikad baik dan komitmen kami untuk menjaga marwah lembaga pendidikan keagamaan, khususnya pesantren. Sekali lagi kami memohon maaf atas kekeliruan Trans7,” kata Renny dalam surat tersebut.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











