Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Solusi HP Lemot: Cara Membersihkan Penyimpanan Android Tanpa Perlu Uninstal Aplikasi

Jumat, 19 Juni 2026 20:22 WIB

Heboh Arti Warna Kontak WhatsApp, Benarkah Tanda Nomor Kita Dihapus atau Diblokir? Ini Faktanya!

Jumat, 19 Juni 2026 19:56 WIB

Bansos Beras 20 Kg dan Minyak Goreng 4 Liter Cair hingga Akhir Juni, Ini Cara Cek Nama Penerima

Jumat, 19 Juni 2026 19:52 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Solusi HP Lemot: Cara Membersihkan Penyimpanan Android Tanpa Perlu Uninstal Aplikasi
  • Heboh Arti Warna Kontak WhatsApp, Benarkah Tanda Nomor Kita Dihapus atau Diblokir? Ini Faktanya!
  • Bansos Beras 20 Kg dan Minyak Goreng 4 Liter Cair hingga Akhir Juni, Ini Cara Cek Nama Penerima
  • Persib Lepas Federico Barba, Bek Italia Ini Tinggalkan Jejak Penting di Maung Bandung
  • Plot Twist Jule! Hempas Safrie Ramadhan, Kini Sukses Bikin Syahran Dezencly Bertekuk Lutut!
  • Fantastis! Nilai Pasar Beckham Putra Tembus Rp6,95 Miliar, Tertinggi Sepanjang Karier
  • Babak Baru Kasus Ijazah Jokowi! Roy Suryo dan Dr Tifa Resmi Diamankan Polisi
  • Profil Lars Veldwijk, Bomber Jangkung Eks Liga Inggris yang Rumornya Masuk Radar Persib
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Jumat, 19 Juni 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Gaya Hidup

Napak Tilas Lirboyo: Sejarah Panjang Pesantren Pejuang dalam Bayang Polemik

By Aga GustianaRabu, 15 Oktober 2025 16:06 WIB4 Mins Read
Pondok Pesantren Lirboyo Kediri. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Nama Pondok Pesantren Lirboyo Kediri kembali mencuat ke ruang publik setelah kemunculannya dalam program Xpose Uncensored Trans7. Tayangan tersebut menuai reaksi keras karena dinilai tidak menghormati para ulama dan lingkungan pesantren. Gelombang kritik di media sosial pun tak terhindarkan, membuka ruang diskusi tentang batas etika media ketika membahas lembaga keagamaan.

Namun jauh sebelum menjadi sorotan media modern, Lirboyo menyimpan catatan sejarah panjang sebagai salah satu pusat pendidikan Islam terbesar di Nusantara. Lebih dari sekadar pesantren, Lirboyo turut mewarnai perjalanan bangsa, terutama di masa-masa krusial mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Asal Usul dan Perkembangan Pesantren Lirboyo

Pondok Pesantren Lirboyo berdiri pada tahun 1910 M. Pendiri utamanya adalah KH. Abdul Karim, seorang ulama asal Magelang, Jawa Tengah, yang hijrah ke Kediri untuk mengabdikan diri di dunia pendidikan agama. Ia mendirikan pesantren dengan sistem salafiyyah yang menekankan kajian kitab kuning, fiqih, tauhid, dan tasawuf secara mendalam. Metode klasik ini kemudian menjadi ciri khas Lirboyo yang bertahan hingga kini.

Sepeninggal KH. Abdul Karim, kepemimpinan pesantren dilanjutkan oleh dua menantunya: KH. Marzuqi Dahlan dan KH. Mahrus Aly. Keduanya dikenal memiliki pandangan jauh ke depan, bukan hanya dalam penguatan kurikulum agama, tapi juga dalam pengelolaan kelembagaan pesantren yang modern untuk ukuran zamannya.

Baca Juga:  Rumah Zakat Urun Rembuk Kemerdekaan Palestina, Bangun Shelter di Gaza

Perkembangan Lirboyo berlangsung pesat. Saat ini, lembaga ini menaungi 17 unit pesantren, seperti HM Mahrusiyyah, Salafy Terpadu Ar-Risalah, Darussalam, Al-Baqoroh, dan beberapa lainnya.

Santrinya kini mencapai lebih dari 43.000 orang, tidak hanya dari berbagai penjuru Indonesia, tetapi juga dari negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand. Skala ini menempatkan Lirboyo sebagai salah satu pesantren terbesar dan paling berpengaruh di Indonesia.

Peran Strategis Lirboyo dalam Perjuangan Kemerdekaan

Sejarah Lirboyo tidak bisa dilepaskan dari perjuangan fisik mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Setelah proklamasi 17 Agustus 1945, kabar kemerdekaan disampaikan oleh Mayor Mahfud — mantan Sudanco PETA — kepada KH. Mahrus Aly. Kabar itu disambut dengan pertemuan besar di Masjid Pesantren Lirboyo. Dalam forum tersebut diputuskan langkah berani: melakukan pelucutan senjata terhadap tentara Jepang di Markas Kompitai Dai Nippon, sekitar 1,5 km dari pesantren.

Malam itu, sebanyak 440 santri bergerak dengan senjata seadanya. Operasi penyergapan dipimpin oleh KH. Mahrus Aly, Mayor Mahfud, dan Abdul Rakhim Pratalikrama. Taktik cermat dan keberanian luar biasa membuat aksi tersebut berhasil. Satu truk senjata berhasil direbut dan diserahkan kepada Tentara Keamanan Rakyat (TKR), yang kemudian menjadi bagian penting dalam pertahanan Kediri.

Baca Juga:  Isi Tayangan XPOSE Soal Santri Picu Gelombang Boikot Trans7

Tak hanya di Kediri, Lirboyo juga menjadi bagian dari gelombang Resolusi Jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari pada 21–22 Oktober 1945. Resolusi ini mewajibkan kaum Muslimin untuk berjihad mempertahankan kemerdekaan dari ancaman Belanda dan Sekutu. KH. Mahrus Aly turut hadir dalam pertemuan para ulama di gedung HBNO, Bubutan, Surabaya.

Sebagai tindak lanjut resolusi tersebut, 97 santri Lirboyo dikirim ke Surabaya. Di bawah komando langsung KH. Mahrus Aly, mereka bergabung dengan Laskar Hizbullah. Dengan peralatan terbatas, para santri berhasil merebut sembilan senjata dari pasukan lawan dan kembali tanpa korban jiwa. Semangat mereka turut menyulut perlawanan besar yang kemudian meletus pada Pertempuran 10 November 1945, yang kini diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Nama-nama seperti Syafi’i Sulaiman, Agus Jamaludin, Masyhari, dan banyak lainnya tercatat sebagai bagian dari pasukan santri yang bertempur di Surabaya. Mereka datang bukan hanya dari Kediri, tetapi juga dari Salatiga, Nganjuk, Blitar, Jember, hingga Singapura. Doa dan dukungan spiritual dari KH. Abdul Karim dan KH. Marzuqi Dahlan terus mengalir dari pesantren, menjadi “benteng batin” perjuangan para santri di garis depan.

Baca Juga:  Paslon Sering Kunjungi Ponpes, Pengamat: Kampanye di Pondok Pesantren Tidak Efektif

Lirboyo dan Polemik Tayangan Trans7

Dengan sejarah panjang tersebut, tak heran jika Lirboyo dihormati sebagai institusi keagamaan dan kebudayaan yang memiliki pengaruh besar. Karena itu pula, kemunculannya dalam program Xpose Uncensored Trans7 belakangan ini menuai kontroversi. Tayangan tersebut dianggap menampilkan Lirboyo dan ulama dengan cara yang tidak pantas, sehingga memicu gelombang reaksi dari masyarakat pesantren dan kalangan Nahdliyin.

Polemik ini membuka perdebatan penting: bagaimana media seharusnya memperlakukan lembaga keagamaan yang punya kontribusi besar terhadap sejarah bangsa? Di satu sisi, media memiliki fungsi kontrol sosial dan kebebasan berekspresi. Namun di sisi lain, ada batas etika dan sensitivitas kultural yang perlu dijaga, terutama ketika menyangkut tokoh dan lembaga dengan akar sejarah panjang seperti Lirboyo.

Penutup

Pondok Pesantren Lirboyo bukan sekadar lembaga pendidikan Islam, melainkan bagian penting dari denyut sejarah perjuangan Indonesia.

Dari ruang ngaji hingga medan tempur, dari masa kolonial hingga era digital, Lirboyo tetap berdiri sebagai simbol keilmuan, keberanian, dan keteguhan. Polemik dengan media hari ini seharusnya menjadi momentum untuk kembali mengenang dan menghargai jasa besar pesantren dalam perjalanan bangsa.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Kediri kemerdekaan Lirboyo pondok pesantren Resolusi Jihad Santri Pejuang Sejarah Indonesia Trans7
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Solusi HP Lemot: Cara Membersihkan Penyimpanan Android Tanpa Perlu Uninstal Aplikasi

Heboh Arti Warna Kontak WhatsApp, Benarkah Tanda Nomor Kita Dihapus atau Diblokir? Ini Faktanya!

Bansos Beras 20 Kg dan Minyak Goreng 4 Liter Cair hingga Akhir Juni, Ini Cara Cek Nama Penerima

Plot Twist Jule! Hempas Safrie Ramadhan, Kini Sukses Bikin Syahran Dezencly Bertekuk Lutut!

Update OB54C Resmi Hadir! Ini Cara Klaim Kode Redeem FF 19 Juni 2026 Sebelum Hangus

Viral di Media Sosial Video Full Durasi, Siapa Sebenarnya Cut Salwa? Ini Faktanya

Terpopuler
  • Heboh Cut Salwa Viral! Warganet Ramai Cari Link Video ‘No Sensor’, Begini Fakta yang Terungkap
  • Perkuat Edukasi dan Aksi Sosial, Yayasan Jalan Surga Gandeng bukamata.id Sebarkan Nilai Kebaikan
  • Hilang 3 Tahun, Wanita Bandung Ditemukan dengan Wajah Hancur! Diduga Disekap Kekasih Sendiri
  • Heboh Video Cut Salwa Viral! Warganet Penasaran, Sebenarnya Isinya Apa?
  • Merasa Ditipu Janji Manis Asuransi, Mantan Pangdam Ngamuk Saldo Rp520 Juta Terjun Bebas Jadi Rp263 Juta
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.