Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Fakta Baru Skandal Video KKN Lombok: Penelusuran Link Masih Melejit

Kamis, 19 Februari 2026 02:00 WIB

Rekomendasi Tempat Sahur 24 Jam di Jakarta: Dari Legendaris Hingga Kekinian

Kamis, 19 Februari 2026 01:00 WIB

Persib Menang Tapi Merana: 7 Keputusan ‘Aneh’ Wasit Majed Al-Shamrani yang Bikin Bobotoh Berang di GBLA!

Rabu, 18 Februari 2026 22:42 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Fakta Baru Skandal Video KKN Lombok: Penelusuran Link Masih Melejit
  • Rekomendasi Tempat Sahur 24 Jam di Jakarta: Dari Legendaris Hingga Kekinian
  • Persib Menang Tapi Merana: 7 Keputusan ‘Aneh’ Wasit Majed Al-Shamrani yang Bikin Bobotoh Berang di GBLA!
  • Link Video Viral Chindo Adidas Ada yang Durasi Panjang, Apa Isinya?
  • Sudah Bebas Penjara, Anak Nia Daniaty Masih Terjerat Kewajiban Ganti Rugi Rp8,1 Miliar, Ini Alasannya!
  • Gol Andrew Jung Tak Cukup, Persib Gagal Lanjut ke Babak 16 Besar ACL Two!
  • Tarawih dan Witir Sendirian atau Berjamaah? Simak Panduan Praktis Ramadan 2026
  • Drama Babak Pertama: Persib Ungguli Ratchaburi 1-0, Barros Malah Kartu Merah!
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Kamis, 19 Februari 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Mahasiswi Unpad Ciptakan Biostay, Solusi Biopackaging Ramah Lingkungan

By SusanaSenin, 30 Juni 2025 22:25 WIB3 Mins Read
Dua Mahasiswi Unpad Ciptakan Biostay, Inovasi Biopackaging dari Limbah Organik Kulit Singkong dan Sekam Padi. Foto: Agi MPI.
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Dua mahasiswi Program Studi D4 Teknologi Industri Kimia, Fakultas MIPA Universitas Padjadjaran, Diah Nur Oktavia dan Hasya Zafira, menciptakan inovasi kemasan ramah lingkungan berbasis limbah organik.

Produk inovatif tersebut mereka beri nama Biostay, sebuah biopackaging berbahan dasar selulosa dari kulit singkong dan sekam padi yang diformulasi dengan antioksidan alami dari kulit jeruk.

“Inovasi ini kami beri nama Biostay. Tujuannya adalah menggantikan peran sterofoam yang selama ini sulit terurai di alam,” kata Hasya saat ditemui di sela kegiatan Annual Indonesia Green Industry (AIGIS) 2025, di Kampus UNPAD Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Senin (30/6/2025).

Keduanya memanfaatkan bahan-bahan limbah organik lokal yang berlimpah di Indonesia, terutama di daerah seperti Sumedang yang dikenal sebagai penghasil singkong.

Mereka menyebutkan bahwa limbah kulit singkong dari produksi peyeum dan sekam padi yang pemanfaatannya masih rendah, dapat menjadi solusi untuk green economy.

“Kami ingin memanfaatkan bahan-bahan yang ada di sekitar kita, sekaligus melibatkan warga sekitar agar bisa ikut serta dalam prosesnya,” ujar Diah.

Produk Biostay bukan hanya sekadar ramah lingkungan, tapi juga memiliki nilai tambah. Salah satunya adalah formulasi dengan antioksidan dari kulit jeruk yang dapat memperpanjang masa simpan makanan, serta memberi aroma segar alami.

“Waktu kami buat, satu ruangan jadi wangi kulit jeruk,” kata Hasya

Saat ini, produksi Biostay masih dilakukan secara manual dengan proses pengeringan alami selama 3 hingga 4 hari.

Namun, jika menggunakan bantuan mesin, proses tersebut dapat dipersingkat menjadi satu hingga dua hari. Dalam satu kali produksi, 50 gram bahan dapat menghasilkan satu wadah, sehingga satu kilogram bahan bisa menghasilkan sekitar 20 wadah.

“Kami belum menetapkan target produksi harian karena semuanya masih berbasis kebutuhan. Tapi untuk bahan baku, insya Allah cukup karena Indonesia penghasil sekam padi dan singkong terbesar,” jelas Diah.

Inovasi ini awalnya muncul dari keinginan mereka untuk mengikuti lomba. Namun, seiring berjalannya waktu, mereka melihat potensi besar dari produk ini dan memutuskan untuk mengembangkan lebih lanjut.

“Kami awalnya hanya ingin ikut lomba. Tapi setelah tahu masalah lingkungan seperti sampah plastik dan sterofoam, akhirnya kami terus kembangkan. Saat ini memang masih di laboratorium, tapi ke depannya kami ingin mengenalkan lebih luas, termasuk ke masyarakat dan stakeholder,” ujar Hasya.

Inovasi Biostay pun mendapat perhatian dalam rangkaian kegiatan AIGIS Goes to Campus yang digelar Kementerian Perindustrian (Kemenperin). Bahkan inovasi ciptaan mereka menjadi Juara Pertama dalam Green Scientific Competition.

Sementara itu, Wakil Menteri Perindustrian, Faisol Reza, dalam kesempatan tersebut mengatakan bahwa pihaknya terus mendorong penerapan industri hijau oleh perusahaan maupun generasi muda melalui pendekatan akademik.

“Kesadaran dan keterlibatan kampus dalam industri hijau harus diperluas. Mahasiswa seperti dari Unpad ini bisa memberikan kontribusi nyata lewat inovasi seperti Biostay,” ujarnya.

Faisol menyebut, AIGIS 2025 kali ini sudah digelar di dua kampus besar yakni Universitas Indonesia dan Universitas Padjadjaran.

“Alhamdulillah kegiatan didukung baik oleh Unpad maupun Toyota. Kita sedang memilih tiga karya inovasi mahasiswa, termasuk Biostay, sebagai pemenang. Ini menunjukkan bahwa kesadaran atas green industry di kalangan mahasiswa sudah tumbuh,” pungkasnya.

Foto Agi MPI – Dua Mahasiswi Unpad Ciptakan Biostay, Inovasi Biopackaging dari Limbah Organik Kulit Singkong dan Sekam Padi

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Biopackaging ramah lingkungan Biostay Limbah organik kulit singkong Sekam padi
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Perang Sarung

Ramadhan Aman, Polisi Tegaskan Perang Sarung dan Balap Liar di Jabar

Anggaran Ekonomi Jabar Minim, DPRD Dorong Program Pemberdayaan Masyarakat Lebih Kuat

Tangis Pecah Usai 43 Tahun! Pertemuan Dua Sahabat SD Ini Bikin Netizen Ikut Mewek

Anggaran Pendidikan Jabar Dinilai Cukup, Rafael Situmorang Soroti Daya Tampung dan Beasiswa

Siapkan Rp8 Triliun, bank bjb Mudahkan Warga Tukar Uang Baru Jelang Lebaran 2026

Lari di Bawah Langit Malam: Kemeriahan Coast to Coast Night Trail Ultra dan Peran Strategis bank bjb

Terpopuler
  • Apa Isi Video Teh Pucuk 17 Menit? Link No Sensor Bikin Penasaran
  • Beredar! Link Video Teh Pucuk 17 Menit, Full Durasi No Sensor
  • Link Video Teh Pucuk 17 Menit vs 1 Menit 50 Detik: Benarkah Ada Dua Versi atau Sekadar Jebakan?
  • Viral No Sensor Video Teh Pucuk Durasi Panjang 17 Menit, Cek Faktanya!
  • Link Video Viral Teh Pucuk 17 Menit Bisa Jadi Malware, Jangan Asal Klik!
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.