bukamata.id – Maudy Ayunda akhirnya buka suara setelah kontennya mengenai mindfulness di tengah derasnya kabar buruk memicu perdebatan di media sosial.
Aktris sekaligus penyanyi itu mengakui ada satu hal penting yang belum cukup ia refleksikan ketika membuat konten tersebut, yakni soal privilese untuk bisa mengambil jarak dari berita.
Pernyataan itu disampaikan Maudy melalui komentar yang disematkan pada video YouTube berjudul Mindfulness in the Age of Bad News – Maudy Ayunda. Video yang diunggah pada 21 Agustus 2026 tersebut telah ditonton lebih dari 180 ribu kali.
Dalam klarifikasinya, Maudy mengaku membaca berbagai komentar dan perspektif yang disampaikan publik. Dari sana, ia menyadari bahwa pengalaman setiap orang dalam menghadapi berita buruk tidaklah sama.
“Bisa mengambil jarak dari berita itu sendiri merupakan sebuah privilese. Tidak semua orang punya pilihan itu, terutama ketika apa yang terjadi berdampak langsung pada kehidupan, keluarga, pekerjaan, atau komunitasnya. Aku minta maaf karena bagian ini belum cukup aku refleksikan di videonya,” tulis Maudy, dikutip Selasa (15/9/2026).
Pengakuan tersebut menjadi titik penting dalam polemik konten mindfulness Maudy Ayunda. Sebab, perdebatan yang muncul bukan semata soal boleh atau tidaknya seseorang menjaga kesehatan mental, tetapi juga mengenai posisi seseorang ketika berbicara tentang cara menghadapi realitas sosial yang sedang sulit.
Konten Mindfulness Maudy Ayunda Picu Perdebatan
Dalam video tersebut, Maudy sebenarnya berangkat dari pengalaman pribadinya menghadapi derasnya arus informasi.
Ia membahas berbagai kabar buruk yang muncul hampir setiap hari, mulai dari persoalan politik, bencana alam hingga tekanan ekonomi. Menurut Maudy, terlalu banyak mengonsumsi informasi negatif dalam waktu yang bersamaan dapat memengaruhi kondisi emosional dan kemampuan seseorang menjalani aktivitas sehari-hari.
Maudy pun membagikan salah satu cara yang ia lakukan, yakni mengatur paparan informasi yang masuk.
Ia tidak ingin terus-menerus terpapar kabar buruk sepanjang hari karena kondisi tersebut menurutnya dapat membuat seseorang kehilangan semangat bahkan kesulitan menjalankan aktivitas.
“Jadi aku enggak seharian mengekspos diri aku terhadap bad news ini karena ya sekali lagi, itu bisa bikin patah semangat, itu bisa benar-benar bikin disfungsional,” kata Maudy dalam videonya.
Namun, pernyataan tersebut kemudian mendapatkan respons beragam dari warganet.
Sebagian publik mempertanyakan apakah konsep mengambil jarak dari berita bisa diterapkan oleh semua orang. Sebab, bagi sebagian masyarakat, persoalan yang diberitakan bukan sekadar informasi yang muncul di layar ponsel, melainkan realitas yang mereka alami secara langsung.
Bencana, kebijakan pemerintah, persoalan ekonomi hingga kondisi lingkungan dapat berdampak terhadap pekerjaan, keluarga, tempat tinggal, bahkan keselamatan seseorang.
Di titik inilah istilah privilese kemudian menjadi bagian penting dalam perdebatan.
Maudy Akui Kemampuan Menjauh dari Berita adalah Privilese
Maudy kemudian mengakui bahwa kemampuan untuk mengambil jarak dari pemberitaan memang tidak dimiliki semua orang.
Ia menjelaskan, video tersebut dibuat berdasarkan pergulatan pribadi tentang bagaimana tetap peduli terhadap berbagai persoalan yang terjadi, tetapi pada saat bersamaan tetap menjaga diri agar bisa hadir dan terlibat secara berarti.
“Waktu membuat video ini, aku sebenarnya sedang berbagi refleksi tentang suatu struggle pribadi: bagaimana tetap peduli dan mengikuti apa yang terjadi, sambil menjaga diri supaya kita tetap bisa hadir dan engage dengan lebih berarti,” tulisnya.
Dalam penjelasan lanjutan, Maudy menyadari bahwa situasi yang terjadi saat ini begitu berat bagi masyarakat yang terdampak secara langsung.
Ia menyebut sejumlah persoalan seperti kebakaran hutan dan lahan atau karhutla, gempa bumi, hingga kebijakan dan program yang dinilai tidak tepat sasaran serta berdampak kepada masyarakat.
“Situasi yang sedang kita hadapi sekarang begitu membuat frustrasi dan memilukan. Ada karhutla, bencana gempa, berbagai kebijakan dan program yang tidak tepat sasaran dan berdampak langsung pada masyarakat, maupun berbagai isu lain yang juga sama pentingnya,” katanya.
Maudy menegaskan bahwa pembahasan mengenai mindfulness tidak dimaksudkan untuk mengajak seseorang mengabaikan realitas sosial.
“Aku sama sekali tidak ingin mindfulness menjadi alasan untuk tidak peduli atau menjauh dari realita yang ada. Apalagi ajakan untuk berdiam diri, ataupun melihat seolah keadaan baik-baik saja,” ujarnya.
Menurut Maudy, mindfulness justru membantunya memahami hubungan sebab-akibat dengan lebih jernih, sekaligus tetap menjaga kepedulian terhadap orang-orang yang terdampak.
“Malah, mindfulness ini membuat aku bisa melihat sebab akibat secara jelas, membantu kita tetap peduli dan hadir, dan tetap peka terhadap apa yang dirasakan mereka yang terdampak,” lanjutnya.
Permintaan Maaf Maudy Belum Menghentikan Kritik
Alih-alih langsung mengakhiri polemik, klarifikasi Maudy justru tetap menjadi bahan pembicaraan di media sosial.
Sejumlah warganet menilai penjelasan tersebut belum sepenuhnya menjawab persoalan yang mereka soroti. Kritik terutama diarahkan pada kesan bahwa pengalaman pribadi Maudy dalam menghadapi kabar buruk berbeda jauh dengan masyarakat yang harus berhadapan langsung dengan dampak dari persoalan tersebut.
Sudah Minta Maaf, Warganet Masih Sebut “Pick Me”
Permintaan maaf dan klarifikasi Maudy ternyata belum membuat seluruh warganet merasa puas.
Komentar-komentar publik yang dikutip dari kolom komentar Instagram @lambegosiip menunjukkan masih adanya kritik terhadap konten maupun cara Maudy menjelaskan posisinya.
Salah satu warganet menyoroti perbedaan pengalaman antara Maudy dan masyarakat yang harus berhadapan langsung dengan persoalan lingkungan maupun ekonomi.
“Dia terlalu biasa hidup nyaman mana bisa ikut merasakan kita yang rasakan. Panas-panasan, keringetan cari uang, sesak napas karena asap atau polusi,” tulis akun @zub***.
Komentar lain bahkan menggunakan istilah “pick me” untuk mengkritik konten Maudy. Warganet tersebut menilai pesan mindfulness yang disampaikan Maudy belum menunjukkan empati yang cukup terhadap masyarakat yang mengalami bencana.
“Pick me berkedok mindfulness. Tulisan panjang lebar begitu tapi terlihat empati ke masyarakat yang tertimpa bencana sangatlah minim. Iya deh yang paling mindfulness hidup lo,” tulis akun @mar***.
Sementara itu, akun @rea*** memberikan pandangan berbeda. Ia mengaku memahami bahwa seseorang bisa merasa lelah dengan pemberitaan negatif, tetapi menurutnya ada perbedaan antara lelah melihat berita dengan masyarakat yang harus menghadapi langsung dampak dari persoalan tersebut.
“Setuju sama yang bilang mindful sih mindful, tapi cukup simpan buat diri sendiri aja. Kalau enggak bisa membantu setidaknya cukup mendoakan,” tulisnya.
Ia kemudian menambahkan bahwa seseorang yang merasa lelah melihat berita negatif masih memiliki pilihan untuk mengatur informasi yang dikonsumsi. Sementara itu, masyarakat yang terdampak langsung tidak memiliki pilihan yang sama.
“Loe capek lihat story, tapi mereka dan banyak orang di luar sana yang lebih lelah menghadapi reality,” lanjut akun tersebut.
Beragam komentar itu memperlihatkan bahwa persoalan yang berkembang bukan hanya mengenai mindfulness, melainkan juga soal jarak pengalaman antara figur publik dengan masyarakat yang terdampak langsung oleh berbagai persoalan sosial.
Kritik-kritik tersebut menunjukkan bahwa persoalan yang berkembang tidak lagi sebatas tentang mindfulness, tetapi telah masuk ke pembahasan mengenai empati dan posisi figur publik ketika berbicara di tengah situasi sosial yang sensitif.
Privilese, Pendidikan, dan Tanggung Jawab Figur Publik
Polemik Maudy Ayunda kemudian berkembang ke isu yang lebih luas mengenai privilese.
Latar belakang pendidikan Maudy kembali menjadi sorotan. Ia diketahui menempuh pendidikan sarjana di University of Oxford, Inggris, melalui program Philosophy, Politics, and Economics (PPE). Setelah itu, Maudy melanjutkan pendidikan pascasarjana di Stanford University, Amerika Serikat.
Statusnya sebagai penerima beasiswa LPDP juga ikut diseret dalam perdebatan di media sosial.
Sejumlah warganet menilai seseorang yang memperoleh kesempatan pendidikan melalui pembiayaan negara memiliki tanggung jawab moral untuk turut menyuarakan persoalan yang dihadapi masyarakat.
Namun, tuntutan tersebut juga menjadi bagian dari perdebatan yang lebih besar: apakah pencapaian pendidikan, status sebagai penerima beasiswa, atau posisi sebagai figur publik secara otomatis menciptakan kewajiban tertentu untuk menyuarakan persoalan sosial?
Pertanyaan tersebut tidak memiliki jawaban sederhana.
Di satu sisi, figur publik memiliki jangkauan komunikasi yang jauh lebih besar dibandingkan masyarakat biasa. Apa yang mereka sampaikan dapat membentuk opini dan memengaruhi cara publik melihat suatu persoalan.
Di sisi lain, pengalaman personal seseorang tetap berbeda. Konten yang dibuat berdasarkan pengalaman pribadi tidak selalu dimaksudkan sebagai panduan universal bagi seluruh masyarakat.
Persoalan kemudian muncul ketika pengalaman pribadi tersebut dibicarakan dalam konteks masalah sosial yang dampaknya tidak dirasakan secara merata.
Maudy Memilih Mendengarkan dan Terus Belajar
Di tengah kritik yang terus muncul, Maudy memilih mengakui kekurangan dalam kontennya.
Ia tidak hanya menyampaikan permintaan maaf, tetapi juga berterima kasih kepada publik yang memberikan perspektif berbeda.
“Terima kasih untuk teman-teman yang sudah meluangkan waktunya untuk mengingatkanku dan menambahkan perspektif menjadi lebih luas dan lebih dalam. Aku dengar dan aku hargai feedback-nya. Aku mendengarkan dan terus belajar,” tulisnya.
Sikap tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa polemik konten mindfulness Maudy Ayunda telah berkembang menjadi percakapan yang lebih luas mengenai bagaimana figur publik seharusnya berkomunikasi di tengah situasi sosial yang penuh tekanan.
Mindfulness, pada dasarnya, berbicara mengenai kesadaran terhadap apa yang sedang dialami. Namun, perdebatan yang muncul dari konten Maudy menunjukkan bahwa kesadaran tersebut juga dipertanyakan ketika berhadapan dengan realitas orang lain.
Bagi sebagian orang, mengambil jeda dari berita buruk mungkin menjadi cara untuk menjaga kesehatan mental. Tetapi bagi mereka yang berada tepat di tengah persoalan, mengambil jarak bukan selalu pilihan.
Di situlah permintaan maaf Maudy menjadi penting. Bukan karena kontroversi tersebut otomatis selesai, melainkan karena ia mengakui adanya perspektif yang sebelumnya luput dari refleksinya.
Dan pada akhirnya, polemik ini bukan hanya tentang Maudy Ayunda dan konten mindfulness. Lebih jauh, perdebatan tersebut memperlihatkan tantangan yang dihadapi figur publik ketika pengalaman pribadi bertemu dengan realitas sosial yang jauh lebih kompleks.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









