Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Ujian Maraton Maung Bandung: 7 Laga Berat di 3 Kompetisi Mengintai Persib Sepanjang November 2026

Minggu, 1 November 2026 01:00 WIB
Semangkuk cuanki hangat di Cuanki Serayu

Hangatkan Tubuh di Tengah Cuaca Dingin Kota Kembang: 7 Rekomendasi Kuliner Berkuah Khas Bandung yang Wajib Dicoba

Sabtu, 31 Oktober 2026 21:29 WIB

Mengenang 7 Hari Wafatnya Fathan Subchi, PKB dan Masura Kabupaten Bandung Gelar Doa Bersama

Sabtu, 31 Oktober 2026 20:36 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Ujian Maraton Maung Bandung: 7 Laga Berat di 3 Kompetisi Mengintai Persib Sepanjang November 2026
  • Hangatkan Tubuh di Tengah Cuaca Dingin Kota Kembang: 7 Rekomendasi Kuliner Berkuah Khas Bandung yang Wajib Dicoba
  • Mengenang 7 Hari Wafatnya Fathan Subchi, PKB dan Masura Kabupaten Bandung Gelar Doa Bersama
  • Viral Foto AI Presiden Prabowo di Padalarang, Petinggi KCIC Diserbu Netizen
  • Persib Dapat Angin Segar Jelang Jamu Isenmulang FC, Teja Paku Alam Comeback?
  • Aksi Nekat Pemuda Bandung Berujung Maut, Lansia 64 Tahun Gugur Pertahankan Ayam Kesayangan
  • Jatuhnya Sultan Andara! Kena Boikot Parah, Saham Ambruk, Raffi Ahmad Diambang Kehancuran?
  • Sapa Ribuan Warga di Jalak Harupat, Rajiv NasDem Buktikan Janji Kampanye Bukan Sekadar Pemanis
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Minggu, 1 November 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Soroti Penanganan Lambat, WALHI Jabar Ungkap Ancaman Tersembunyi di Balik Tumpahan Batu Bara Pangandaran

By Aga GustianaSelasa, 15 September 2026 13:37 WIB3 Mins Read
Tumpahan Batu Bara di Pangandaran. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Kasus kandasnya tongkang pengangkut batu bara di perairan Pangandaran kembali memicu perdebatan publik. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Barat melayangkan kritik tajam terhadap lambannya penanganan darurat yang berujung pada masifnya aktivitas pengambilan material oleh warga sekitar.

Insiden yang bermula pada pertengahan Juni 2026 lalu ini melibatkan tongkang Nautica 22 yang ditarik oleh kapal tunda KM Titan 33. Sebelum akhirnya terdampar di pesisir Cibenda, dekat kawasan wisata Batu Hiu, nakhoda sempat berencana merapat ke Pantai Batu Karas. Rencana tersebut batal lantaran mendapat penolakan keras dari komunitas nelayan dan warga setempat.

Respons Lambat Picu Aksi Warga

Dalam sebuah diskusi publik yang digelar di Sagati Kopi, Parigi, Kabupaten Pangandaran, pada Rabu (9/9), perwakilan Tim Advokasi WALHI Jabar, Ajeng Pramudya, membeberkan kronologi penanganan yang dinilai lamban. Fokus evakuasi yang kala itu hanya tertuju pada keselamatan 10 awak kapal membuat pengamanan material batu bara terabaikan. Akibatnya, warga berbondong-bondong memungut serpihan batu bara yang berserakan untuk dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif pengolahan hasil laut.

“Respons yang lambat membuat pengambilan batu bara oleh masyarakat tidak dapat dihindari,” ujar Ajeng dalam rilis, Selasa (15/9/2026).

Baca Juga:  Jelajah Rasa di Pangandaran: 7 Kuliner Wajib Coba untuk Wisatawan

Situasi ini sempat memicu reaksi lanjutan dari berbagai pihak, termasuk audiensi yang dimotori oleh Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Pangandaran di bawah kepemimpinan Jeje Wiradinata di gedung DPRD setempat pada 22 Juni 2026. Sehari berselang, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) turun tangan meninjau lokasi, meski proses pembongkaran bangkai tongkang saat itu masih terkendala izin dari pihak Syahbandar.

Baca Juga:  Tak Hanya Seafood, Ini Dia 4 Kuliner Khas Pangandaran yang Wajib Dicoba

Bahaya Laten Pencemaran Ekosistem Laut

Lebih lanjut, WALHI mengingatkan bahwa ancaman ekologis dari tumpahan material tambang ini tidak boleh dinilai sekadar dari kasat mata. Partikel berbahaya yang terlepas ke perairan berisiko merusak rantai makanan dalam jangka panjang.

“Mengacu pada sejumlah penelitian, batu bara yang tidak terbakar dapat menjadi sumber keasaman, salinitas, logam jejak, hidrokarbon, chemical oxygen demand (COD), serta senyawa lain yang berpotensi memengaruhi organisme perairan,” jelasnya.

Potensi paparan zat toksik seperti logam berat, metaloid, hingga polycyclic aromatic hydrocarbons (PAH) dikhawatirkan mengancam kualitas air, sedimen, serta keselamatan biota laut dan kesehatan manusia. Kendati demikian, WALHI mengakui bahwa komposisi kimiawi pasti dari muatan Nautica 22 masih memerlukan uji laboratorium lebih lanjut guna memastikan karakteristik spesifiknya.

Baca Juga:  Hanya Demi Pajak Pembangunan, Pemerintah Acuhkan Kerusakan Lingkungan di KBU

“Tumpahan batu bara di laut perlu dilihat dan ditangani dari berbagai perspektif, tidak hanya dari apa yang terlihat di permukaan,” ucap Ajeng.

Sebagai langkah mitigasi, organisasi pemerhati lingkungan ini mendesak pemerintah agar segera menerjunkan tim independen guna melakukan audit lingkungan komprehensif, meliputi uji laboratorium air, sedimen, serta organisme akuatik di zona terdampak.

Sebagai catatan pembanding, WALHI merujuk pada insiden serupa di Teluk Salamanca, Kolombia, pada 2013 silam. Berdasarkan riset ilmiah tersebut, sisa partikel batu bara terbukti masih memberikan dampak destruktif terhadap populasi fitoplankton hingga lebih dari dua bulan pascakejadian.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Batu Bara Pangandaran Walhi Jabar
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Mengenang 7 Hari Wafatnya Fathan Subchi, PKB dan Masura Kabupaten Bandung Gelar Doa Bersama

Viral Foto AI Presiden Prabowo di Padalarang, Petinggi KCIC Diserbu Netizen

Aksi Nekat Pemuda Bandung Berujung Maut, Lansia 64 Tahun Gugur Pertahankan Ayam Kesayangan

Sapa Ribuan Warga di Jalak Harupat, Rajiv NasDem Buktikan Janji Kampanye Bukan Sekadar Pemanis

Cara cek bansos PKH tahap 4 2025 pakai KTP.

Kemensos Proses Data Penerima Bansos Tahap 4, KPM Wajib Cek Hal Ini Sebelum November

Hanya Lemari Ini yang Utuh! Keajaiban Al-Qur’an Selamat dari Kebakaran Madrasah di Garut

Terpopuler
  • Megalomania Arsitektur: Ketika Kota Bandung Dipaksa Berbaju Kerajaan
  • Ruang Bicara Resmi Berdiri di Bandung, Hadir Sebagai Wadah Anak Muda Bertumbuh dan Berdampak
  • Berkas Kasus UU ITE Bambang Soeharto Hampir Rampung, Simalango Law Firm Soroti Langkah Tersangka Lapor Balik Saksi
  • Gelar Tabligh Akbar, Pemuda Pancasila Jabar Usung Semangat Gaya Baru di HUT ke-67
  • Pengurus DPC PKB Kabupaten Bandung Dikukuhkan, Dadang Supriatna Mulai Jaring Caleg 2029
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.