bukamata.id – Suara dentuman keras memecah keheningan di sudut ruangan kamp Samba Kick Boxing MMA Surabaya. Samsak hitam berukuran besar bergoyang hebat setiap kali hantaman telapak tangan, siku, hingga sabetan tulang kering mendarat presisi di permukaannya. Di atas matras, tetesan keringat membahasahi lantai, meninggalkan jejak dari jam-jam latihan yang tak kenal ampun.
Di tengah riuhnya arena latihan itu, berdiri seorang remaja berumur 13 tahun dengan tatapan mata yang tajam. Namanya Dominic Gabriel Vincentio, atau yang lebih dikenal di arena pertarungan dengan julukan Dominic Lion. Di luar ring, ia adalah siswa kelas 8 di SMP Kristen Petra 1 Surabaya yang tampak sopan dan pemalu. Namun, begitu melangkah melewati tali ring atau memasuki sangkar Octagon, sosoknya bertransformasi menjadi petarung pemangsa yang siap merobohkan lawan.
Awal Agustus 2026 menjadi saksi bisu bagaimana mental baja remaja ini diuji di panggung internasional. Bertanding dalam ajang bergengsi GAMMA Asian Championships 2026 di Putrajaya, Malaysia, Dominic harus bertarung di kelas kelompok umur 14 tahun dengan bobot 46 kilogram.
Pertarungan puncaknya di partai final bukanlah sebuah jalan tol yang mudah. Di hadapannya berdiri petarung muda asal Uzbekistan—sebuah negara yang terkenal melahirkan petarung-petarung MMA dengan fisik monster dan teknik gulat yang dingin. Lawannya berpostur jauh lebih tinggi, berotot tebal, dengan pertahanan yang sangat rapat.
Momen mencekam terjadi di ronde pertarungan saat satu pukulan keras dari lawan mendarat telak di kepala Dominic.
Dampak benturan itu begitu dahsyat. Pandangan mata Dominic langsung berputar. Ruangan arena yang dipenuhi ratusan penonton mendadak terasa gelap seketika. Tubuhnya ambruk ke matras, sempoyongan hebat. Sistem sarafnya memaksa tubuh itu untuk menyerah dan tetap berbaring. Namun, di dalam kesadarannya yang tersisa, ada bisikan kecil yang melarangnya untuk tetap terkapar.
Dengan sisa tenaga dan keseimbangan yang goyah, Dominic memaksakan dirinya untuk bangkit berdiri. Ia merangkak, memegang tali arena, dan kembali memasang kuda-kuda bertarung meski kakinya masih gemetar.
“Aku kira kalau tidur terus nanti takutnya kena diskualifikasi dan kalah,” kenang Dominic polos saat menceritakan kembali momen dramatis pada 2 Agustus 2026 tersebut.
Kegigihan pantang menyerah itu berbuah manis. Dominic berhasil membalikkan keadaan lewat kombinasi serangan balik yang cermat dan stamina yang tak habis-habis. Ketika wasit mengangkat tangannya di akhir ronde, sabuk dan medali emas resmi menjadi miliknya. Capaian ini menjadi satu dari lima medali emas yang disabet oleh kontingen Indonesia di ajang yang berlangsung sejak 29 Juli 2026 tersebut.
Disiplin Spartan: 5 Jam Latihan Setiap Hari
Prestasi tingkat Asia yang diraih Dominic tidak jatuh dari langit begitu saja. Di balik kilau medali emas yang melingkar di lehernya, ada harga mahal yang harus dibayar setiap hari. Ketika anak-anak sebayanya menghabiskan waktu sore untuk bermain game di gawai, nongkrong di kafe, atau sekadar bersantai setelah pulang sekolah, dunia Dominic dipenuhi oleh jadwal latihan spartan.
Sejak duduk di kelas 3 Sekolah Dasar (SD), perjalanannya di dunia beladiri dimulai. Sang ayah, Niko Haneka Putra, adalah orang pertama yang mengenalkannya pada olahraga tinju untuk melatih ketahanan fisik dan kepercayaan diri. Merasa menemukan jiwa dan passion-nya di atas arena, Dominic kemudian mengeksplorasi cabang kickboxing.
Seiring berjalannya waktu selama lima tahun terakhir, spektrum beladiri yang dikuasai Dominic meluas secara drastis. Ia tidak hanya menguasai satu disiplin, melainkan enam cabang beladiri sekaligus: Mixed Martial Arts (MMA), kickboxing, Muay Thai, taekwondo, karate, hingga Brazilian Jiu-Jitsu (BJJ).
Uniknya, tempat tinggal Dominic dan keluarganya menyatu langsung dengan tempat ia menempa diri, yakni kamp Samba Kick Boxing MMA Surabaya. Fasilitas ini menjadi kawah candradimuka di mana rutinitas ekstrem dijalani setiap hari.
“Dalam sehari, porsi latihan Dominic bisa mencapai lima jam. Latihan dibagi menjadi dua sesi, yaitu pagi dan sore,” ungkap Niko Haneka Putra, sang ayah.
Sesi pagi dimulai sangat awal, sering kali ketika matahari belum terbit sepenuhnya, sekitar pukul 05.00 hingga 08.00 WIB. Pada sesi pertama ini, fokus utama adalah latihan striking (pukulan dan tendangan), pembentukan fisik, pembakaran kalori, serta menjaga target berat badan agar tetap ideal (weight management).
Setelah sesi pagi yang menguras fisik selesai, Dominic langsung bersiap berangkat ke sekolah untuk menjalankan kewajibannya sebagai pelajar. Usai menuntaskan jam pelajaran dan tugas-tugas di sekolah, Dominic tidak pulang untuk beristirahat lama. Sesi sore menunggunya kembali hingga menjelang malam. Di sesi kedua ini, materi latihan bergeser pada pengasahan teknik grappling (kuncian dan gulat), sparing, serta evaluasi strategi bertarung.
Meskipun porsi latihannya menyerupai atlet profesional dewasa, pendidikan akademis Dominic tetap menjadi prioritas utama keluarga. Saat jadwal pameran atau pertandingan sedang tidak padat, fokus belajar ditingkatkan. Tugas sekolah harus selesai tepat waktu, bahkan jadwal les privat tetap dijalani di sela-sela waktu senggangnya.
Cinta Ibu dalam Doa dan Jarak
Dibalik sosok Dominic yang garang di atas matras, ada dinamika keluarga yang penuh dengan kehangatan dan keharuan. Peran kedua orang tuanya menjadi pilar utama dalam menyokong perjalanan karier sang anak. Namun, sang ibu, Nella Kartikasari, memiliki cara tersendiri dalam memberikan dukungan.
Sebagai cabang olahraga full contact, MMA dan Muay Thai menyajikan pertarungan riil yang penuh risiko cidera fisik, mulai dari memar, luka robek, hingga patah tulang. Hal inilah yang sering kali membuat hati seorang ibu tak sanggup menyaksikan langsung anaknya bertarung di dalam sangkar.
Setiap kali Dominic bertanding, Nella lebih memilih mengambil posisi jauh dari arena, atau bahkan mengurung diri di luar stadion. Ia menyimak jalannya pertandingan hanya melalui pesan singkat atau laporan dari suaminya.
“Ibu kadang-kadang tidak mau nonton langsung. Bukan karena tidak bangga, justru karena terlalu khawatir melihat anaknya dipukul atau dijatuhkan lawan,” tutur Niko sambil tersenyum.
Tradisi unik juga selalu dilakukan keluarga ini sebelum Dominic melangkah ke arena pendaratan. Keluarga selalu mengundang pendeta ke rumah atau hotel tempat mereka menginap untuk memimpin doa bersama. Dalam doa-doa yang dipanjatkan, mereka tidak hanya meminta kemenangan atau trofi juara. Hal yang paling utama dan selalu diulang dalam doa mereka adalah keselamatan: agar Dominic dapat menyelesaikan pertandingan dan pulang ke rumah tanpa cedera serius.
Menempa Mental di Kelas Beda Bobot
Pengalaman bertarung Dominic tidak selalu berjalan mulus dengan lawan yang seimbang secara ukuran fisik. Proses pembentukan mental bajanya justru banyak ditempa ketika ia harus berhadapan dengan lawan-lawan yang secara postur jauh lebih bongsor.
Salah satu momen berharga terjadi pada ajang GAMMA World Championship 2024 yang berlangsung di Jakarta. Kala itu, panitia penyelenggara tidak memiliki lawan yang pas di kelas bobot Dominic. Demi tetap bisa bertanding dan mencari pengalaman, Dominic terpaksa diikutsertakan ke kelas yang lebih tinggi (catchweight).
Lawan yang dihadapinya di babak utama adalah petarung muda asal Ukraina yang memiliki postur jauh lebih tinggi dengan bobot badan yang lebih berat.
“Saat itu beda ukurannya lumayan jauh. Kadang kalau aku memukul, justru aku yang terpental karena ketahanan fisiknya keras sekali. Waktu aku coba membanting dia, malah aku yang ikut kena banting ke matras,” kenang Dominic sambil tertawa mengingat masa-masa sulit itu.
Namun, kekalahan dan benturan fisik dengan lawan yang lebih besar tidak membuat mentalnya ciut. Pengalaman-pengalaman pahit di masa lalu justru membentuk kematangan emosionalnya. Dominic belajar bagaimana cara mengontrol napas, mengelola rasa takut, serta membaca pergerakan lawan dengan kepala dingin di bawah tekanan penonton.
Rentetan pengorbanan, darah, dan keringat itu pada akhirnya terbayar tuntas dengan lemari piala yang kini dipenuhi puluhan medali. Selain emas GAMMA Asian Championships 2026, daftar prestasi Dominic tercatat sangat impresif:
- Juara 1 Pertacami National MMA 2026
- Juara 1 Kejurprov Kickboxing Jawa Timur selama tiga tahun berturut-turut (2024, 2025, dan 2026)
- Runner-up Kejuaraan Nasional (Kejarnas) Kickboxing 2024
- Juara 2 Kejuaraan Taekwondo Pelajar Jawa Timur 2025
Mimpi Menuju Panggung Dunia dan Dukungan Publik
Dominic Lion kini berada di persimpangan jalan menuju jenjang yang lebih tinggi. Keberhasilannya menaklukkan Asia di usia 13 tahun hanyalah batu loncatan awal dari cita-cita besarnya untuk menjadi petarung profesional yang disegani di tingkat global.
Target besar berikutnya sudah membayang di depan mata. Dominic diproyeksikan untuk tampil pada kejuaraan dunia (World Championship) tingkat remaja yang rencananya akan digelar pada akhir tahun 2026, dengan Spanyol atau Turki sebagai kandidat kuat tuan rumah.
Perjuangan dan dedikasi luar biasa yang ditunjukkan Dominic pun memantik gelombang apresiasi dari publik serta warganet di media sosial. Banyak masyarakat yang menaruh harapan besar pada masa depan sang petarung muda agar terus konsisten membela tanah air di kancah internasional.
“Kerennn lanjutkan perjalananmu dom berlatihlah terus sampai tidak ada lagi yg bisa mengalahkanmu,” ujar netizen memberikan dorongan moral.
Sanjungan senada juga datang dari warganet lain yang menyoroti potensi jangka panjang Dominic hingga ke panggung bertarung paling bergengsi di dunia. “Belajar terus ya dek dengan beladiri banyak 🔥🔥sampai usia mu matang bisa ke ufc semangat,” ujar netizen.
Dukungan publik ini kian mempertegas bahwa kehadiran Dominic bukan hanya sekadar fenomena atlet cilik, melainkan tumpuan asa bagi kemajuan olahraga bela diri di Indonesia. “Semangat berjuang adik, dukung terus kemajuan olahraga prestasi individual Indonesia!,” ujar netizen.
Di bawah bimbingan tim pelatih dan ayahnya, persiapan khusus sudah mulai dirancang. Latihan fisik untuk meningkatkan daya ledak (explosive power), penyempurnaan teknik kuncian bawah (ground game), serta pemantauan nutrisi harian diperketat demi memastikan kondisinya berada di puncak performa saat berlaga di panggung dunia nanti.
Namun, di balik semua gemerlap piala, pujian media, dan dukungan hangat warganet, Dominic tetaplah seorang remaja yang membumi. Ia paham betul bahwa panggung kemenangan hanya berlangsung beberapa menit di atas podium, sementara proses belajar berlangsung seumur hidup.
Bagi Dominic, setiap kali ia turun dari podium juara dan melepaskan medalinya, perayaan telah usai. Karena ia tahu persis, keesokan harinya, alarm jam 5 pagi akan kembali berbunyi, samsak hitam di sudut ruangan kamp Surabaya sudah menunggunya, dan jadwal latihan keras akan dimulai kembali dari nol.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









