bukamata.id – Nasywa Nayla Fitriani, atau akrab disapa Awa, adalah sosok mojang Cimahi yang tak hanya aktif sebagai mahasiswa Fakultas Psikologi, tetapi juga giat berkegiatan di berbagai forum kepemudaan. Ia diwawancarai pada Selasa (23/9/2025), membagikan cerita tentang keseharian, prestasi, hingga kepeduliannya terhadap isu sosial.
Dalam kesehariannya, Awa membagi waktu antara kuliah dan aktivitas organisasi. Ia rutin pulang-pergi ke kampus, sekaligus aktif di Forum Genre Cimahi dan Forum Genre Jawa Barat.
“Besok pun aku ada on duty ke Sumedang. Jadi ya gitu lah keseharian aku, kuliah sambil tetap aktif di forum,” ujarnya.
Soal manajemen waktu, Awa punya cara unik. Ia tak mengandalkan to do list, melainkan menyusun skala prioritas.
“Aku selalu mengatur skala prioritas. Mana hal-hal yang membutuhkan energi lebih banyak dan butuh spare waktu. Jadi misalnya kuliah lebih utama dibandingkan tugas Genre. Kalau kita bisa save our energy, kita bisa ngatur track produktivitas kita juga setiap harinya,” jelasnya.
Meski sibuk, Awa tetap menyimpan ruang untuk hobi. Ada dua kegiatan yang paling ia gemari: bernyanyi dan hiking.
“Kalau hiking, yang paling berkesan itu ke Gunung Prau. Selain itu juga pernah ke Papandayan, Malabar, sama Pangradinan,” ceritanya.
Sebagai anak Cimahi, ia juga sering mendaki Gunung Bohong, meski lebih tepat disebut bukit. “Udah hampir tujuh kali aku ke sana, jadi semacam latihan skill hiking juga,” katanya sambil tersenyum.
Kiprah Awa di dunia kepemudaan sudah tak diragukan lagi. Pada tahun 2024, ia meraih juara 3 Duta Genre Indonesia tingkat nasional di Bali. Sebelumnya, ia juga menyabet juara 1 Duta Genre di Jawa Barat dan Kota Cimahi.
Tak hanya itu, Awa aktif di ajang seni FLS2N, dengan prestasi di bidang baca puisi dan solo vokal. “Alhamdulillah, waktu baca puisi juara 1 di Cimahi. Solo vokal nembang pupuh juga juara 1. Terus aku sempat masuk top 10 pertukaran pemuda antar provinsi dari Dispora Jawa Barat,” tuturnya bangga.
Bagi Awa, semua itu bukanlah perjalanan mudah.
“So happy bisa menjadi diri aku yang sekarang. Komitmen aku ke depan pengen terus nambah prestasi, biar bukan cuma aku yang bangga sama kampus, tapi kampus juga bangga sama aku,” katanya.
Salah satu hal yang membuat Awa menonjol adalah kepeduliannya pada isu sosial. Lewat program Ratu Bening (Remaja Tangguh Bersinergi Tekan Angka Stunting), ia berhasil meraih juara 3 Duta Genre Indonesia.
“Stunting itu susah banget diturunkan. Target nasional 2029 harus di angka 14%. Sementara Jawa Barat masih di 15,9%. Masih jauh walaupun tipis bedanya,” jelasnya.
Selain isu stunting, Awa juga fokus pada kesehatan mental. Hal itu berkaitan erat dengan latar belakangnya sebagai mahasiswa psikologi.
“Kemarin Alhamdulillah aku jadi fasilitator tingkat nasional bersama Kemendukbangga dan UNICEF, memfasilitasi modul kesehatan mental bagi remaja,” ucapnya.
Menurutnya, banyak cara sederhana untuk mengatasi kecemasan dan tekanan mental. “Misalnya sekecil coret-coret di kertas kosong atau merobek kertas, itu bisa jadi metode coping. Pikiran sehat itu berarti fisik sehat juga. Kalau kita overthinking, tubuh pun merespons negatif,” terangnya.
Ia percaya kesehatan mental menjadi tantangan besar generasi muda saat ini.“Kita harus sama-sama bergerak karena tahun 2030 ada bonus demografi, 2045 ada Indonesia Emas, bukan Indonesia Cemas,” tegasnya.
Di akhir perbincangan, Awa menitipkan pesan penuh semangat untuk generasi muda. “Jangan ragu untuk melangkah, jangan ragu membuka pintu pertama. Kalau gagal, bukan berarti pintu tertutup. Masih banyak pintu lain yang terbuka,” ujarnya.
Menurutnya, kunci menghadapi masalah adalah menyiapkan banyak solusi. “Setiap masalah, siapkan solusi dari A sampai Z. Kita nggak pernah tahu solusi mana yang terpakai. Intinya, ketika teman-teman siap, maka bisa melewati semuanya. Semangat terus dan jangan berhenti untuk melangkah dan bermimpi,” pungkasnya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











