bukamata.id – Kabar duka menyelimuti Kota Bandung. Pada Selasa malam pukul 22.22 WIB, Raden Darmawan Dajat Hardjakusumah atau yang lebih dikenal dengan nama Acil Bimbo, berpulang di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Almarhum menghembuskan napas terakhir pada usia 82 tahun.
Pesan singkat yang tersebar melalui grup WhatsApp keluarga dan sahabat langsung mengabarkan kepergian sosok yang akrab disapa Kang Acil itu. Jenazah kemudian disemayamkan di rumah duka, Jalan Biologi Nomor 4, Kota Bandung, Jawa Barat.
Perjalanan Musikal: Pentolan Grup Bimbo
Nama Acil Bimbo lekat dengan dunia musik Indonesia. Bersama kakak-adiknya—Sam, Jaka, dan Iin Parlina—ia membentuk grup legendaris Bimbo pada era 1960-an. Lagu-lagu mereka kental dengan tema cinta, religi, hingga sosial kemasyarakatan.
Beberapa karya Bimbo yang abadi di telinga masyarakat antara lain Sajadah Panjang, Melati dari Jayagiri, Ada Anak Bertanya pada Bapaknya, Flamboyan, hingga Rindu Rosul. Lagu mereka berjudul Tuhan bahkan masih rutin diputar di televisi setiap bulan Ramadan.
Di tengah pandemi COVID-19, Bimbo kembali menarik perhatian publik lewat lagu Corona yang ditulis Syam, Acil, dan Jaka. Lagu itu sempat viral lantaran dianggap sudah dinyanyikan sejak puluhan tahun silam.
Profil dan Latar Belakang
Acil lahir di Bandung pada 20 Agustus 1943. Ia merupakan anak kedua dari tujuh bersaudara pasangan Raden Dajat Hadjakusumah dan Uken Kenran. Sang ayah pernah menjabat sebagai Kepala Biro LKBN ANTARA Jawa Barat.
Pendidikan formalnya ditempuh di Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran, lulus tahun 1974, kemudian melanjutkan studi kenotariatan di kampus yang sama pada 1994.
Dalam bermusik, Acil banyak dipengaruhi musisi internasional pada masanya, seperti Cliff Richard, Everly Brothers, Paul Anka, hingga The Mills Brothers.
Ia menikah dengan Ernawati dan dikaruniai empat anak serta beberapa cucu, di antaranya Hasyakyla Utami dan Adhisty Zara, yang sempat populer sebagai anggota grup JKT48.
Kiprah Budaya dan Lingkungan
Selain bermusik, Acil dikenal sebagai budayawan dan pegiat lingkungan. Pada tahun 2000, ia sempat menjabat Ketua LSM Bandung Spirit. Melalui berbagai forum diskusi, ia kerap menyuarakan pentingnya menjaga identitas budaya Sunda.
Dalam sebuah pertemuan seniman di Tasikmalaya tahun 2009, ia menyoroti minimnya literatur tentang kesundaan. Menurutnya, masyarakat Sunda lebih mengandalkan tradisi lisan sehingga sulit memiliki referensi tertulis. Ia juga menilai kebiasaan membaca yang kurang membuat masyarakat sulit mengikuti perkembangan zaman.
Pada kesempatan lain, saat menjadi pembicara seminar di Garut, ia menyinggung kondisi bangsa yang menurutnya mengalami “sakit keras” akibat kemunduran budaya daerah. Acil menekankan bahwa nilai luhur Sunda seperti someah (ramah) dan gotong royong mulai terkikis oleh sikap individualistis.
Ia selalu mengajak masyarakat untuk menjaga kampung halaman, mempererat persaudaraan, serta patuh pada nilai dan etika lokal.
Suara Lantang untuk Alam
Kepedulian Acil terhadap lingkungan juga tercermin dari kritiknya terhadap kerusakan hutan di Jawa Barat, terutama di kawasan Tangkubanparahu. Ia menegaskan bahwa daerah tersebut merupakan hutan lindung yang tidak boleh sembarangan dijadikan area pembangunan.
Baginya, kelestarian lingkungan dan kearifan lokal harus selalu menjadi pertimbangan utama dalam setiap kebijakan pembangunan.
Kepergian Acil Bimbo meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi dunia musik, tetapi juga bagi masyarakat yang peduli pada budaya dan lingkungan. Karya dan gagasannya akan selalu dikenang sebagai warisan berharga untuk generasi berikutnya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









