bukamata.id – Di sebuah gang sempit di Gg. Abid, tepatnya di Masjid Jami Madrasah Riyadlul Jannah, Kecamatan Bojongloa Kaler, Kota Bandung, suara anak-anak mengaji terdengar hampir setiap sore. Di balik lantunan ayat suci itu, ada sosok Ustadz Deni Firmansyah, guru ngaji yang mengabdikan diri untuk puluhan anak lingkungan sekitar, meski kehidupan pribadinya jauh dari kata mudah.
Tanpa penghasilan tetap, Ustadz Deni tetap setia mengajar. Ia menjalani hari dengan kerja serabutan demi mencukupi kebutuhan keluarga, lalu kembali ke masjid untuk mengajar Al-Qur’an.
Saat ditanya tentang harapannya ke depan, Ustadz Deni tak berbicara muluk. Ia hanya ingin hidup lebih tertata dan tenang.
“Harapan saya, pertama, saya punya usaha yang bisa berjalan dan diandalkan hasilnya. Kedua, saya punya penghasilan yang cukup. Ketiga, saya bisa menyediakan tempat yang layak untuk anak-anak,” ujarnya, Selasa (2/2/2026).
Ia juga berharap semakin banyak anak-anak di lingkungannya yang mau mengaji. Namun di balik pengabdian itu, ada beban hidup yang terus ia pikul.
“Karena pekerjaan tidak tentu dan punya utang, harapan saya ingin membereskan utang-utang. Karena yang membuat sakit dan banyak pikiran itu sebenarnya utang,” tuturnya jujur.
Baginya, hidup tenang adalah bisa mengajar tanpa dibayangi kecemasan. “Saya ingin hidup lebih tenang. Tenang mengajar, tempatnya enak, dan kalau memungkinkan bisa menambah guru ngaji,” katanya.
Di tengah keterbatasan, Ustadz Deni masih menyimpan mimpi besar: memiliki madrasah atau pesantren yang layak. Meski ia sendiri menyadari, cita-cita itu terasa sangat jauh dari jangkauan. “Iya, itu memang cita-cita saya. Walaupun menurut saya, rasanya mustahil,” ucapnya lirih.
Keinginan itu bukan tanpa dasar. Kurikulum mengaji yang ia terapkan saat ini sudah mengikuti pola yayasan lengkap dengan ujian, rapor, dan sistem kelas.
“Makanya kurikulum yang saya pakai sekarang mengikuti pola yayasan. Ada ujian, ada rapor, ada daftar ulang. Awalnya seperti itu. Saya ingin punya madrasah yang tertata,” jelasnya.
Namun realitas hidup berkata lain. Keterbatasan ekonomi membuat langkahnya sering terhenti di tengah jalan. Meski begitu, ia tak sepenuhnya menyerah.
“Alhamdulillah, mudah-mudahan dengan izin Allah Ta’ala, dengan kemampuan saya yang seperti ini, cita-cita itu bisa tercapai. Saya berharap kepada Allah SWT,” ucapnya.
Di masjid sederhana itu, Ustadz Deni terus mengajar, merawat harapan, dan menanamkan nilai agama kepada anak-anak—dengan keyakinan bahwa keikhlasan, sekecil apa pun, tak pernah sia-sia.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










