bukamata.id – Media sosial kembali digemparkan oleh kisah tragis seorang warga Pekalongan, Jawa Tengah, yang menjadi korban dugaan penipuan dengan modus “jalur khusus masuk Akpol”.
Korban, bernama Dwi Purwanto, mengalami kerugian yang tidak main-main — mencapai Rp2,6 miliar. Demi memenuhi permintaan para pelaku, ia bahkan rela menjual dua mobil mewahnya: Rubicon dan Mini Cooper.
“Katanya ini kuota khusus, tinggal bayar Rp3,5 miliar. Uang itu hasil kerja keras saya. Demi anak, saya percaya. Tapi ternyata saya ditipu,” ujar Dwi Purwanto, dikutip dari akun Instagram @fakta.indo, Senin (27/10/2025).
Dijanjikan Jalur “Internal” ke Akpol, Korban Terpedaya
Kasus ini bermula dari tawaran empat orang yang mengaku bisa membantu meloloskan anak Dwi ke Akademi Kepolisian (Akpol). Dua di antara mereka ternyata adalah anggota aktif Polri yang bertugas di Polres Pekalongan, masing-masing berinisial Aipda F dan Bripka AUK.
Keduanya meyakinkan korban bahwa mereka memiliki “jalur internal” dan kuota khusus bagi calon taruna yang siap “berpartisipasi” dalam bentuk dana miliaran rupiah.
Dwi yang percaya dengan status pelaku sebagai polisi aktif pun luluh. Demi masa depan sang anak, ia menjual mobil Rubicon, melepas Mini Cooper kesayangannya, dan bahkan meminjam uang dari kerabat.
Namun, harapan itu hancur ketika sang anak dinyatakan gagal dalam tes kesehatan seleksi Akpol. Padahal, seluruh uang yang dijanjikan sudah diserahkan secara bertahap, termasuk uang muka sebesar Rp500 juta. Saat Dwi mencoba menagih penjelasan, komunikasi dengan para pelaku mulai terputus.
Dilaporkan ke Polda Jateng, Polisi Pastikan Proses Transparan
Merasa menjadi korban, Dwi melapor ke Polda Jawa Tengah pada Agustus 2025. Laporan tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan penyidikan mendalam. Selain dua anggota polisi aktif, penyidik juga menetapkan dua warga sipil lainnya sebagai tersangka, yang berperan sebagai perantara dan penghubung antara korban dengan pelaku utama.
Kabid Humas Polda Jawa Tengah, Kombes Pol Artanto, memastikan proses hukum berjalan secara profesional dan terbuka.
“Kasus ini melibatkan empat pelaku, dua oknum Polri dan dua warga sipil. Penanganan dilakukan secara transparan dan akuntabel. Bila terbukti bersalah, tentu akan ada tindakan tegas,” ujarnya kepada wartawan.
Menurut Artanto, pihaknya juga mendalami kemungkinan keterlibatan jaringan yang lebih luas di balik modus serupa.
“Kami tidak menutup kemungkinan adanya pihak lain yang terlibat. Ini menjadi peringatan bagi masyarakat agar tidak mudah percaya pada pihak yang mengaku bisa ‘meloloskan’ seseorang ke Akpol,” tambahnya.
Seleksi Akpol Tidak Bisa Dibeli
Pihak kepolisian juga menegaskan bahwa penerimaan taruna Akpol dilakukan secara terbuka dan ketat, tanpa pungutan biaya apa pun di luar ketentuan resmi. Setiap tahapan seleksi, mulai dari administrasi, akademik, kesehatan, hingga psikotes, diawasi langsung oleh panitia pusat dan lembaga eksternal.
Menurut situs resmi Penerimaan Polri, seluruh proses seleksi Akpol tidak dapat dipengaruhi oleh siapa pun, bahkan oleh anggota Polri sendiri. Jalur “internal” atau “kuota khusus” yang sering digunakan pelaku penipuan hanyalah tipu muslihat.
Modus seperti ini memang kerap muncul setiap tahun menjelang seleksi Akpol maupun Bintara. Para pelaku biasanya memanfaatkan keinginan orang tua agar anaknya bisa menjadi polisi dengan cara instan. Padahal, yang dijanjikan hanyalah ilusi mahal yang berujung kerugian besar, seperti yang dialami Dwi Purwanto.
Netizen Geram: “Jangan Percaya Jalur Dalam!”
Kisah Dwi sontak viral di media sosial. Banyak netizen yang ikut bersimpati, sekaligus marah terhadap para pelaku. Beberapa komentar di kolom unggahan berita ini menggambarkan amarah dan keprihatinan warganet.
“Kasihan banget Pak Dwi. Udah kerja keras, malah ditipu sama yang seharusnya melindungi rakyat. Gila, sampai jual Rubicon!” jawab netizen.
“Modus kayak gini tiap tahun ada aja. Tolong banget, masyarakat jangan percaya kalau ada yang janjiin bisa masuk Akpol lewat bayar-bayaran,” komentar netizen.
“Rp2,6 miliar bukan uang kecil. Ini bukti masih banyak yang tergiur jalur instan. Padahal kalau lolos beneran, harusnya lewat perjuangan, bukan amplop,” kata netizen.
Ada juga yang menyoroti pentingnya pengawasan internal di tubuh kepolisian.
“Kalau benar ada oknum Polri terlibat, harus dihukum berat. Nama institusi jadi rusak gara-gara segelintir orang,” ujar netizen.
Sementara itu, sebagian netizen menilai kasus ini bisa jadi pelajaran berharga bagi orang tua lain.
“Biar jadi pembelajaran, jangan sampai percaya jalur belakang. Kalau mau masuk Akpol ya belajar, latihan, bukan bayar,” tulis netizen.
Pelajaran Mahal dari Mimpi Jadi Polisi
Bagi Dwi Purwanto, keinginan sederhana agar anaknya bisa menjadi abdi negara berakhir dengan mimpi buruk. Uang hasil kerja keras bertahun-tahun melayang begitu saja. Kini, ia hanya berharap kasus ini bisa diusut tuntas dan menjadi pelajaran bagi orang lain.
“Saya cuma ingin keadilan. Semoga nggak ada lagi orang tua yang ketipu kayak saya,” ungkapnya dengan nada sedih.
Kasus ini kembali menegaskan bahwa jalan pintas menuju cita-cita besar sering kali berujung bencana. Proses seleksi Akpol sejatinya dirancang untuk menjaring calon perwira yang berintegritas, bukan mereka yang membeli status dengan uang.
Edukasi untuk Masyarakat
Kepolisian mengimbau agar masyarakat waspada terhadap pihak mana pun yang menjanjikan jalur khusus masuk institusi kepolisian. Jika menemukan tawaran mencurigakan, segera laporkan ke kantor polisi terdekat atau melalui situs resmi https://penerimaan.polri.go.id.
Proses rekrutmen Akpol sepenuhnya gratis dan transparan. Semua calon taruna memiliki kesempatan yang sama, tanpa perlu “jalur belakang”. Masyarakat juga diharapkan berani menolak segala bentuk pungli dan melaporkan bila menemukan dugaan penipuan seperti yang menimpa Dwi.
Kasus warga Pekalongan ini bukan hanya tentang kerugian materi yang fantastis, miliaran rupiah dan dua mobil mewah yang melayang, tetapi juga tentang harapan seorang ayah yang dikorbankan demi cinta kepada anaknya.
Di tengah maraknya praktik serupa, kisah ini menjadi alarm keras: mimpi tidak seharusnya dibeli dengan uang, tapi diperjuangkan dengan usaha dan kejujuran.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











