bukamata.id – Di Subang, pada sebuah siang yang teduh di kediaman Lembur Pakuan, hadir pemandangan yang tak lazim bagi Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Bukan pejabat, bukan artis, bukan pula aktivis yang datang berkunjung. Melainkan seorang bocah berusia sepuluh tahun yang datang membawa sesuatu yang membuat bulu kuduk siapa pun menegang: keberanian menghadapi ular dengan tangan kosong.
Namanya Muhamad Nandika Sapulloh, atau yang lebih akrab dipanggil Dika, bocah asal Banjaran, Kabupaten Bandung, yang dalam beberapa minggu terakhir menjadi buah bibir di media sosial.
Dedi Mulyadi menyambutnya hangat, senyum lebar khas meleburkan jarak usia dan status. Namun, sambutan hangat itu hanya bertahan sampai Dika membuka sebuah wadah dan mengangkat tubuh lentur reptil melata dengan genggaman mantap. tangan kecil itu menahan gerak gesit seekor ular yang tubuhnya berlapis sisik, membuat sang tuan rumah spontan mundur beberapa langkah. Bukan pura-pura, bukan juga drama kamera. Ketakutan itu nyata, jujur, dan mengalir begitu manusiawi.
Pertemuan tersebut direkam dan diunggah di kanal Youtube Kang Dedi Mulyadi Channel, menjadi penanda awal bahwa kisah Dika bukan hanya soal hobi unik atau keberanian tanpa batas. Ada sesuatu yang jauh lebih dalam—sebuah cerita yang akhirnya menyeruak ke permukaan berkat dialog hangat, tatap mata penasaran, dan empati yang muncul dari rasa ingin tahu seorang pemimpin daerah.
Bagi kebanyakan orang, ular adalah bayangan buruk dalam mimpi. Namun bagi Dika, reptil itu adalah panggung untuk menyalurkan keberanian yang tak pernah ia sebut sebagai keberanian—karena baginya, itu hanyalah hal biasa. Sejak pertama kali menemukan ular saat ngurek—mencari belut di lubang-lubang sawah—Dika justru terpikat oleh gerakannya yang melingkar anggun. Tak seperti anak lain yang akan menjerit dan lari, ia memilih menghadapi ketakutannya, bahkan sebelum ia benar-benar tahu apa itu takut.
Keberaniannya itu bukan tanpa luka. Tubuh Dika menjadi saksi: telinga, kaki, dan tangan pernah ditegori taring reptil. Namun, yang aneh, tak pernah ada dampak berarti pada tubuhnya. “Pernah digigit di telinga, kaki, tangan. Tapi tidak sakit,” kata Dika tenang, seolah menceritakan pengalaman jatuh dari sepeda. Ibunya, Reka Noviyanti, mengangguk membenarkan. Baginya, melihat anaknya pulang membawa ular sanca sepanjang tiga meter adalah perpaduan antara kekhawatiran, heran, dan—entah bagaimana—kebanggaan.
Namun keberanian itu punya sisi gelap yang tak banyak orang tahu. Di balik tubuh kecil yang lekat dengan sisik reptil, tersimpan luka lain yang tidak terlihat mata. Luka yang membuatnya sempat berhenti bersekolah sejak kelas tiga.
“Harusnya sudah naik kelas 5, tapi sekarang masih kelas 4. Sempat putus sekolah sejak kelas 3. Katanya ada yang merundung, tapi dia tidak pernah bercerita kepada saya,” ungkap sang ibu, bersuara lirih, getirnya sulit ditutup-tutupi.
Momen inilah yang kemudian menjadi inti pertemuan Dika dengan Dedi Mulyadi. Bukan keberaniannya terhadap ular yang paling mengejutkan sang gubernur, melainkan kenyataan bahwa anak kecil dengan bakat dan mental baja itu telah kehilangan ruang belajarnya karena perundungan.
Dalam rekaman tersebut, setelah menahan jarak dari ular yang digenggam Dika, Dedi Mulyadi duduk lebih dekat untuk bertanya—bukan lagi tentang reptil, melainkan tentang masa depan yang sempat tersendat.
“Sama sekali tidak sekolah, dulu pernah gak sekolah sampai kelas satu?” tanya Dedi, nadanya campuran antara heran dan prihatin.
Seorang pria yang ikut mendampingi kemudian menjelaskan bahwa Dika sebenarnya pernah bersekolah hingga kelas empat SD. Penjelasan itu hanya menambah penasaran di benak Dedi.
“Jadi sekolah sampai kelas empat, kenapa berhenti sekolahnya? Ibu kenapa berhenti sekolah anaknya?” lanjutnya, ingin mengetahui langsung dari sumber yang paling tahu.
Sang ibu tidak menduga, di hadapan sosok publik, ia harus membuka kembali luka yang selama ini dipendam rapat. Dengan suara pelan ia menjawab, anaknya pernah mengalami perundungan. Luka yang tidak tampak, namun cukup dalam untuk membuat Dika memilih sawah dan ular ketimbang bangku sekolah.
Saat Dedi kembali menggali, ingin tahu siapa pelaku yang menyakiti psikologis anak itu, ibu Dika menggeleng. Ia tidak tahu persis siapa yang berbuat. Perundungan datang tanpa nama, tetapi dampaknya nyata.
Ketika percakapan semakin dalam, Dedi kembali bertanya, memastikan sejak kapan Dika berhenti sekolah.
“Berhentinya sejak kapan? udah lama berapa tahun?” tanya Dedi Mulyadi.
Jawabannya mengejutkan: kurang lebih dua tahun. Dua tahun di usia anak-anak adalah jarak panjang—cukup untuk membentuk kebiasaan, memahat karakter, dan bahkan mengaburkan mimpi.
Dedi tampak menyayangkan hal itu. Sebagai sosok yang dekat dengan dunia pendidikan dan kebudayaan, ia melihat keberanian Dika bukan semata bakat, tetapi potensi. Potensi yang tidak boleh hilang begitu saja hanya karena luka sosial yang tidak ditangani.
Pertemuan di Lembur Pakuan itu bukan sekadar kunjungan viral, bukan pula panggung sensasi. Ia menjadi jembatan yang mempertemukan keberanian dengan masa depan. Dedi tidak menolak kekaguman terhadap kemampuan Dika menaklukkan ular, tetapi ia juga tidak ingin keberanian itu menutupi kebutuhan lain yang sama pentingnya: pendidikan.
Karena pada akhirnya, keberanian tanpa pengetahuan hanya akan menjadikan seseorang legenda kecil yang dilupakan waktu. Tetapi keberanian yang dipadu pendidikan bisa menjadikan seseorang inspirasi bagi banyak orang—dan itulah arah yang ingin ditunjukkan Dedi kepada Dika.
Ia meminta Dika kembali bersekolah. Sebuah undangan yang bukan sekadar ajakan formalitas, tetapi panggilan untuk kembali menata mimpi.
Sawah mungkin akan selalu menjadi panggung pertama Dika. Ular mungkin akan selamanya menjadi “sahabat” sekaligus tantangannya. Tetapi setelah pertemuan itu, ada harapan bahwa kelas, buku, dan bangku sekolah juga akan kembali menjadi bagian hidupnya.
Karena di balik keberanian yang membuat seorang gubernur mundur terkejut, ada seorang bocah yang sejatinya hanya ingin diterima—di rumah, di sawah, dan semoga, di sekolahnya kembali.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











