BEBERAPA tahun lalu, di sebuah rest area yang penuh sesak menjelang Lebaran, pernah terlihat seorang ayah yang duduk di atas tikar darurat sambil memangku dua anaknya yang tertidur lelap, di tengah kebisingan kendaraan dan klakson, istrinya membagikan bekal sederhana, nasi, telur, dan sambal yang mereka makan bergantian.
Ketika salah satu anaknya terbangun dan menanyakan kapan perjalanan sampai, sang ayah, dengan senyum tenang, meyakinkan bahwa perjalanan mereka sudah dekat dan sebentar lagi sampai, jawaban itu mungkin tidak sepenuhnya akurat, tetapi terasa penuh makna secara emosional.
Cerita seperti ini bukan sekadar anekdot musiman, akan tetapi bagaimana kita memahami mudik Lebaran sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar mobilitas tahunan. Dalam perspektif ilmu komunikasi, mudik dapat difahami sebagai bentuk komunikasi ritual, sebuah praktik sosial yang bertujuan memelihara makna, memperkuat ikatan, dan meneguhkan identitas kolektif.
Konsep komunikasi ritual, yang dipopulerkan oleh James W. Carey, menggeser cara kita memahami komunikasi. komunikasi tidak lagi dilihat semata sebagai proses pengiriman pesan dari pengirim ke penerima, melainkan sebagai proses berbagi pengalaman yang menciptakan rasa kebersamaan, dalam sudut pandang ini, mudik bukan tentang menyampaikan informasi baru, karena kabar bisa disampaikan melalui telepon atau pesan singkat, melainkan tentang menghadirkan diri sebagai simbol keterikatan.
Pertanyaan mendasarnya adalah, mengapa jutaan orang tetap memilih perjalanan panjang yang melelahkan, mahal, dan penuh risiko, ketika teknologi telah menyediakan alternatif komunikasi yang jauh lebih efisien? Jawabannya terletak pada perbedaan antara koneksi dan kehadiran.
Komunikasi digital memungkinkan kita untuk tetap terhubung, tetapi komunikasi sering kali gagal menghadirkan kedalaman emosional yang sama. kasus mudik, tubuh menjadi medium komunikasi. Jabat tangan, pelukan, dan kebersamaan dalam satu ruang fisik mengandung pesan yang tidak dapat sepenuhnya diterjemahkan melalui layar kaca. Kehadiran fisik membawa dimensi afektif yang memperkuat makna relasi sosial.
Lebih jauh lagi, mudik juga berfungsi sebagai mekanisme reproduksi budaya, di tengah arus urbanisasi yang masif, individu sering kali mengalami dislokasi identitas, terlepas dari akar sosial dan budaya asalnya. Mudik menjadi momen “rekoneksi”, di mana individu kembali ke lingkungan yang membentuknya. Mudik bukan hanya perjalanan geografis, tetapi juga perjalanan simbolik menuju asal-usul.
Fenomena ini sebenarnya mengandung paradoks, kemajuan zaman membuat banyak orang pergi ke kota untuk bekerja dan belajar, tetapi hal itu juga membuat mereka jauh dari kampung halaman. Jarak tersebut kemudian diatasi dengan mudik, dengan kata lain, semakin jauh seseorang pergi, semakin besar keinginan untuk pulang.
Perspektif rasional-ekonomis, mudik sering kali tampak tidak efisien, biaya transportasi melonjak, waktu produktif berkurang, dan risiko perjalanan meningkat, namun pendekatan ini gagal menangkap dimensi simbolik yang menjadi inti dari praktik tersebut. Nilai mudik tidak terletak pada efisiensinya, melainkan pada kemampuannya menghasilkan makna dan memperkuat kohesi sosial.
Era digital ini, di mana komunikasi semakin cepat dan instan, mudik justru menunjukkan bahwa tidak semua aspek kehidupan dapat direduksi menjadi efisiensi. Ada kebutuhan manusiawi yang bersifat mendalam untuk hadir, untuk diakui, dan untuk merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar.
Hal ini membawa implikasi penting bagi cara kita memandang dan mengelola mudik. Kebijakan publik tidak cukup hanya berfokus pada aspek teknis seperti infrastruktur dan rekayasa lalu lintas, meskipun itu tetap krusial. Diperlukan juga pemahaman bahwa mudik adalah fenomena sosial-budaya yang memiliki nilai strategis dalam menjaga kohesi masyarakat.
Pada akhirnya, mudik Lebaran adalah bahasa kolektif yang tidak diucapkan, tetapi dipahami bersama, mudik menyampaikan pesan yang sederhana namun mendalam, bahwa di tengah perubahan, mobilitas, dan kompleksitas kehidupan modern, manusia tetap membutuhkan akar, tempat untuk kembali, baik secara fisik maupun emosional.
Seperti yang tergambar dalam kisah di rest area itu, kepulangan bukan semata soal jarak yang ditempuh, melainkan tentang arah yang dipilih, bahwa sejauh apa pun seseorang pergi, selalu ada makna dalam perjalanan kembali.
Selamat bermudik lebaran….
Penulis: Khoiruddin Muchtar, Dosen Ilmu Komunikasi Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










