bukamata.id – Pada hari Jumat, umat Islam laki-laki kembali menunaikan kewajiban besar dalam ajaran Islam, yaitu Salat Jumat, yang tidak hanya menjadi kewajiban mingguan, tetapi juga mengandung keutamaan luar biasa. Hari Jumat disebut sebagai hari agung dalam Islam—hari diciptakannya Nabi Adam AS—dan Rasulullah SAW menyebutnya sebagai “pemimpin semua hari”.
Dalam hadis yang diriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa yang menunaikan Salat Jumat dengan penuh kesungguhan akan mendapatkan pahala yang setara dengan salat malam dan puasa selama satu tahun penuh. Momentum ini menjadi waktu yang tepat bagi umat Muslim untuk merenung dan memperkuat keikhlasan dalam beribadah.
Salah satu naskah khutbah Jumat 11 Juli 2025 yang direkomendasikan mengangkat tema penting: bahaya amal yang tidak dilandasi keikhlasan.
Khutbah Pertama: Jangan Kejar Popularitas, Kejarlah Ridha Allah
Dalam pembukaan khutbah, khatib mengajak jamaah untuk bersyukur atas kesempatan menghadiri Salat Jumat, mengingatkan bahwa popularitas telah menjadi sesuatu yang banyak dikejar di era modern. Namun, Islam mengajarkan bahwa pengakuan manusia bukanlah tujuan utama dalam beramal.
Khatib mengutip hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah RA, yang menggambarkan tiga golongan yang pertama kali dihisab di akhirat: mujahid, ulama, dan dermawan. Ketiganya, meski tampak mulia di dunia, ternyata masuk neraka karena niat mereka bukan karena Allah, melainkan demi pujian dan gelar dari manusia.
“Engkau berdusta! Engkau berperang agar disebut pahlawan. Dan gelar itu telah kau dapatkan. Maka orang itu dilempar ke neraka,” demikian firman Allah kepada orang yang mengaku mati syahid namun niatnya tidak tulus.
Begitu pula dengan ulama dan dermawan yang disebut Rasulullah SAW dalam lanjutan hadis:
“Engkau berdusta! Engkau lakukan itu agar disebut sebagai ulama dan qari… Engkau bersedekah agar dipanggil sebagai dermawan… Maka mereka pun dilempar ke neraka.”
Peringatan ini menjadi renungan mendalam bahwa amal, meskipun besar, jika tidak ikhlas bisa berbalik menjadi jalan menuju siksa.
Khutbah Kedua: Keikhlasan, Kunci Ibadah yang Diterima
Dalam bagian kedua khutbah, khatib menegaskan pentingnya keikhlasan dalam setiap bentuk ibadah. Ia mengutip Surah Al-Bayyinah ayat 5:
“Mereka tidak diperintahkan kecuali agar menyembah Allah dengan ikhlas, hanya karena-Nya semata, dan menegakkan salat serta menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus.”
Khatib menyoroti bahwa keikhlasan kini diuji bukan hanya oleh pujian secara langsung, tetapi juga oleh budaya digital yang dipenuhi dengan angka “like”, “share”, dan “subscriber”. Banyak amal kebaikan yang justru dipamerkan demi popularitas, bukan untuk menginspirasi atau mengharap ridha Allah.
“Amal kebaikan sering kali dipamerkan, bukan untuk motivasi umat, tapi demi sorotan kamera,” ujar khatib dalam pesannya yang tajam namun relevan.
Ia menutup dengan ajakan agar umat Muslim menjaga hati dan niat dalam setiap ibadah. Jangan sampai ibadah yang seharusnya mengantarkan ke surga justru menjadi sebab datangnya azab karena niat yang keliru.
Penutup
Naskah khutbah Jumat 11 Juli 2025 ini menyajikan pesan yang kuat tentang urgensi menjaga keikhlasan dalam beramal. Bagi para khatib, tema ini sangat relevan untuk disampaikan di tengah masyarakat yang semakin digital dan cenderung haus pengakuan. Mengingatkan kembali bahwa amalan yang diterima adalah amalan yang ikhlas, meskipun tampak kecil di mata manusia.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











