bukamata.id – Aksi tak biasa di jalur ekstrem kembali menyulut kemarahan publik. Rombongan yang diduga pejabat terekam menghentikan kendaraan di tikungan tajam kawasan Sitinjau Lauik, Sumatera Barat, hanya untuk sesi foto di lokasi yang dikenal sebagai salah satu jalur paling berbahaya di Indonesia.
Video yang diunggah kanal YouTube SitinjauLauikTruckVideo itu langsung viral di media sosial. Rekaman memperlihatkan iring-iringan kendaraan dengan pengawalan berhenti mendadak di jalur menanjak dan berkelok ekstrem, sebelum para penumpang turun dan melakukan pemotretan di pinggir jalan.
Di tengah jalur yang setiap hari dilalui truk logistik bermuatan berat, momen itu justru berubah menjadi kontroversi besar. Publik menilai tindakan tersebut bukan hanya tidak etis, tetapi juga membahayakan keselamatan banyak pengguna jalan.
Jalur Ekstrem Mendadak Jadi “Spot Instagramable”
Dalam video tersebut, suasana mencekam di Sitinjau Lauik justru berubah menjadi latar yang dianggap “estetik”. Rombongan terlihat santai berhenti di tikungan curam yang memiliki jarak pandang terbatas, lalu mengambil posisi untuk berfoto.
Alih-alih kondisi darurat, penghentian arus diduga murni untuk kepentingan dokumentasi. Dampaknya langsung terasa: kendaraan dari dua arah harus berhenti total, menciptakan antrean panjang di jalur sempit yang rawan kecelakaan.
Bagi para sopir truk yang melintasi jalur tersebut setiap hari, momen ini dianggap sebagai bentuk ketidakadilan di jalan raya. Mereka yang sedang berjibaku dengan tanjakan ekstrem justru harus mengalah demi sesi foto di area berisiko tinggi.
Risiko Besar di Jalur Tanpa Ampun
Sitinjau Lauik bukan jalur biasa. Karakter jalan yang curam, tikungan tajam beruntun, serta posisi di tepi tebing menjadikannya salah satu rute paling berisiko di Sumatera Barat.
Dalam kondisi normal saja, pengendara dituntut menjaga kecepatan, momentum, dan kewaspadaan tinggi. Sedikit saja kesalahan, kendaraan bisa kehilangan kendali, terutama truk bermuatan berat yang rawan mundur saat menanjak.
Ketika arus tiba-tiba dihentikan di titik blind spot, risiko kecelakaan beruntun meningkat drastis. Itulah yang membuat aksi ini menuai kritik keras dari publik.
“Nalar Sehat Ditinggal Demi Foto”
Kemarahan publik juga tumpah di media sosial. Salah satu narasi yang banyak beredar menyebut tindakan tersebut sebagai bentuk hilangnya akal sehat demi konten dan eksistensi.
“Bisa-bisanya nalar sehat ditinggal cuma demi foto di spot maut,” tulis salah satu komentar yang viral.
Warganet menilai pejabat seharusnya memahami bahwa keselamatan publik adalah prioritas utama, bukan menjadikan jalur ekstrem sebagai latar belakang foto. Pengawalan dinilai tidak seharusnya menjadi alasan untuk menghentikan hak pengguna jalan lain.
Sebagian netizen bahkan menyindir bahwa jika hanya ingin berfoto, masih banyak lokasi aman seperti kawasan wisata kota yang lebih layak dibanding jalur logistik berbahaya.
Suara Warganet: Kritik Pedas Mengalir Deras
Reaksi keras juga datang dari berbagai komentar yang beredar di media sosial. Warganet menyoroti ketimpangan perlakuan di jalan raya serta potensi bahaya dari tindakan tersebut.
Salah satu komentar dari akun Instagram @grabag.nyenix menyuarakan keresahan yang cukup tajam:
“Tujuan foto untuk apa? Makanya ini salah satu alasan saya selalu tidak kasih jalan ke rombongan pejabat walaupun patroli nya tetot tetot terus, kita sesama pengguna jalan kok…”
Komentar lain menyoroti aspek moral dan keselamatan:
“Gimana rakyat gak marah kalau kelakuan pejabat kayak gini, itu NYAWA PARA PENCARI NAFKAH, BUKAN PENCARI MUKA.”
Ada pula yang mempertanyakan legalitas penggunaan fasilitas negara:
“Kalau memang kendaraan dinas, pakai plat merah dong. Kenapa harus pakai sirene tapi tidak jelas statusnya?”
Narasi-narasi ini menunjukkan satu hal: publik tidak lagi melihat ini sebagai kejadian sepele, melainkan simbol ketimpangan perlakuan di ruang publik.
Mengenal Sitinjau Lauik, Tikungan Tajam dan Jalur Vital Sumatera Barat
Sitinjau Lauik merupakan tanjakan ekstrem di Jalan Raya Padang–Jambi, kawasan Lubuk Kilangan, Kota Padang, Sumatera Barat.
Nama “Sitinjau Lauik” dalam bahasa Minangkabau berarti “melihat laut”, karena dari beberapa titiknya, pengendara dapat menyaksikan panorama Kota Padang hingga Samudra Hindia.
Namun di balik keindahannya, jalur ini dikenal sangat ekstrem. Jalan sepanjang sekitar 15 kilometer ini dipenuhi tanjakan curam, turunan panjang, serta tikungan tajam beruntun yang berada di sisi tebing dan jurang.
Sitinjau Lauik juga menjadi bagian penting jalur penghubung Padang dengan Solok hingga wilayah Sumatera bagian tengah seperti Jambi.
Artinya, jalur ini bukan hanya jalur wisata, tetapi juga urat nadi distribusi logistik dan mobilitas masyarakat setiap hari.
Kondisi geografis yang ekstrem membuat kendaraan berat harus menjaga momentum saat menanjak dan sangat hati-hati saat menurun. Tidak jarang, jalur ini dikaitkan dengan berbagai insiden seperti rem blong, kendaraan terguling, hingga gagal menanjak.
Tak heran jika Sitinjau Lauik dikenal sebagai salah satu jalur paling menantang sekaligus paling berbahaya di Indonesia.
Penutup
Viralnya kejadian ini kembali menjadi pengingat keras bahwa ruang publik di jalur ekstrem seperti Sitinjau Lauik bukan tempat untuk kepentingan pribadi.
Di tengah kerasnya medan dan tingginya risiko keselamatan, publik menuntut satu hal sederhana: akal sehat harus tetap jadi prioritas di atas segala bentuk eksistensi.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










