bukamata.id – Olahraga padel kini semakin populer di Indonesia, termasuk di Kota Bandung. Meski berasal dari Meksiko dan berkembang pesat di Spanyol serta Eropa, olahraga ini mulai digandrungi berbagai kalangan di Tanah Air.
Tak sekadar tren semata, padel mulai menjelma menjadi bagian dari gaya hidup sehat masyarakat. Salah satu penggiatnya di Bandung, Hartono Soekwanto, menyebut bahwa kemudahan dalam bermain menjadi daya tarik utama padel di mata masyarakat.
“Perkembangan padel ini memang luar biasa karena memang mudah untuk dimainkan siapa pun. Mulai dari anak-anak hingga orang tua, sehingga olahraga ini sangat bagus buat rekreasi sehat bersama keluarga,” ungkap Hartono saat ditemui di lapangan PadelPlush, Jalan Cihampelas, Kota Bandung.
Lebih Praktis dari Tennis, Tapi Tak Kalah Seru
Meski sekilas menyerupai tennis, padel memiliki keunggulan dari sisi kemudahan bermain. Ukuran lapangan padel jauh lebih kecil, yakni 20 meter panjang dan 10 meter lebar—sekitar sepertiga dari lapangan tennis standar.
Menurut Hartono, faktor ini membuat padel lebih cocok untuk semua usia, terutama mereka yang sudah berusia di atas 40 tahun.
“Lantai lapangan padel pun lebih aman karena tidak sekeras lapangan tennis, apalagi sol untuk sepatu khusus padel lebih empuk. Ini lebih aman bagi mereka yang sudah berusia di atas 40 tahun karena biasanya suka bermasalah di persendian,” jelasnya.
Hartono sendiri merupakan mantan pemain tennis yang pernah berduet dengan legenda ganda nasional Bonit Wiryawan di ajang turnamen master. Kini, di usia 53 tahun, ia memilih padel sebagai alternatif yang lebih ramah tubuh.
“Kalau usia masih di bawah 40 tahun, kita masih bisa berlari mengejar bola di lapangan tennis. Tapi kalau sudah di usia seperti saya, ya sudah sulit untuk covering lapangan tennis dan padel akhirnya jadi pilihan saya berolahraga,” tambahnya.
Olahraga Sehat dengan Risiko Cedera Minimal
Bagi Hartono, padel bukan hanya permainan, tapi juga cara efektif menjaga kesehatan, khususnya bagi penderita penyakit tertentu seperti diabetes.
“Main padel ini bisa stabilkan gula darah saya. Jadi olahraga ini bagus buat penderita diabetes. Tidak terlalu banyak lari, kardio-nya dapet banyak, dan tidak terlalu memaksa jantung kerja lebih keras,” tuturnya.
Meski begitu, ia tetap mengingatkan pentingnya pemanasan sebelum bermain, karena raket padel memiliki bobot yang cukup berat dibanding raket tennis pemula.
“Raket padel itu beratnya sekitar 335 sampai 355 gram, hampir sama dengan raket yang digunakan atlet profesional seperti Novak Djokovic. Jadi kalau tidak hati-hati dan tidak pemanasan dulu, bisa cedera di siku atau otot sendi tangan,” terang Hartono.
Standar Lapangan Jadi Kunci Kenyamanan
Selain teknik dan perlengkapan, kondisi lapangan juga jadi perhatian. Menurut Hartono, lapangan padel yang ideal harus memiliki permukaan yang rata dan memenuhi standar keamanan internasional.
“Jangan sampai karena sedang booming, pemilik lapangan padel hanya mengejar keuntungan tanpa memikirkan safety dari pemain. Lapangan PadelPlush ini saya lihat cukup baik dan bisa dibilang yang terbaik di Indonesia,” katanya.
Ia juga memuji fasilitas lapangan yang akan segera diresmikan tersebut karena memiliki atap setinggi 15 meter, yang membuat sirkulasi udara tetap nyaman selama bermain.
Dari Rekreasi Menuju Prestasi
Lebih dari sekadar tren gaya hidup, Hartono melihat potensi besar padel di Indonesia sebagai cabang olahraga berprestasi. Ia berharap keberadaan lapangan dan komunitas yang semakin aktif bisa mencetak atlet-atlet andal di masa depan.
“Padel ini sudah diakui sebagai olahraga prestasi dan menjadi anggota KONI. Saya yakin ke depan akan terjadi seleksi alam. Mana yang serius, mana yang hanya ikut-ikutan. Saya sendiri ingin serius dan ikut kejuaraan untuk kategori usia saya,” pungkasnya.
Dengan antusiasme yang terus tumbuh, padel tampaknya bukan sekadar tren sesaat, tapi bisa menjadi bagian penting dari ekosistem olahraga Indonesia—baik sebagai aktivitas rekreasi, kesehatan, hingga prestasi.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










