bukamata.id – Nama Manohara Odelia Pinot kembali menjadi sorotan publik. Namun kali ini, perhatian tidak tertuju pada aktivitas modeling, gaya hidup, atau kiprah sosial yang selama ini melekat pada dirinya. Sorotan justru mengarah pada sisi paling personal dari hidup Manohara—relasi rumit dan penuh luka dengan sosok yang seharusnya menjadi tempat paling aman dalam hidupnya: ibu kandungnya.
Melalui serangkaian unggahan di Instagram Story, Manohara membuka lembaran pengalaman pahit yang selama bertahun-tahun ia simpan rapat. Pengakuan itu bukan sekadar curahan emosi sesaat, melainkan refleksi panjang tentang trauma masa kecil yang masih membekas hingga kini. Ia bahkan mengakui bahwa menyebut perempuan yang melahirkannya dengan panggilan “ibu” adalah hal yang sangat sulit dilakukan.
“Saya kesulitan bahkan untuk memanggilnya ibu, karena tindakannya bertentangan dengan setiap definisi manusiawi tentang bagaimana seharusnya seorang ibu,” tulis Manohara dalam bahasa Inggris dikutip Selasa (20/1/2026).
Unggahan tersebut sontak mengundang perhatian warganet. Banyak yang terkejut, tak sedikit pula yang merasa iba. Manohara kemudian mengungkap lapisan demi lapisan pengalaman yang ia alami sejak masih anak-anak. Ia menyebut bahwa sang ibu telah lama mempercayai dan terlibat dalam praktik-praktik mistis yang menurutnya tidak masuk akal dan justru menyisakan ketakutan mendalam.
Dalam ceritanya, Manohara mengaku kerap dibawa ke berbagai tempat yang dianggap “spiritual” oleh sang ibu. Ia menyebut beberapa wilayah seperti Sukabumi dan Bogor sebagai lokasi yang pernah ia datangi. Semua itu dilakukan bukan untuk pengobatan medis atau psikologis, melainkan atas keyakinan sang ibu bahwa Manohara kecil adalah anak yang “bermasalah”.
Alih-alih melihat putrinya sebagai individu yang memiliki pemikiran dan karakter sendiri, sang ibu justru meyakini ada sosok jahat yang berdiam dalam tubuh Manohara. Keyakinan itu kemudian menjadi dasar dari berbagai perlakuan yang harus ia jalani, meski ia sendiri tidak memahami apa yang sebenarnya terjadi.
“Saya dipaksa minum air ritual, mandi minyak, dan menjalani praktik-praktik yang menakutkan serta membingungkan. Pengalaman-pengalaman ini traumatis dan terus membekas hingga saya dewasa,” ungkapnya.
Manohara menyadari betul bahwa ceritanya berpotensi menimbulkan kesalahpahaman, terutama jika dikaitkan dengan isu agama. Karena itu, ia merasa perlu memberikan penegasan agar pengakuannya tidak dipelintir menjadi narasi yang keliru.
“Saya ingin memperjelas satu hal. Ini bukan Islam. Ilmu hitam dilarang dalam Islam. Saya memiliki banyak teman Muslim, dan mereka tidak mempraktikkan atau mempercayai apa yang dia (ibunda) lakukan,” tegas Manohara.
Baginya, apa yang ia alami sama sekali tidak berkaitan dengan ajaran agama tertentu. Ia menilai semua perlakuan tersebut sebagai bentuk kekerasan dan penyimpangan, yang dibungkus dengan keyakinan mistis dan dilakukan terhadap seorang anak yang belum memiliki kuasa untuk melawan.
Pengakuan Manohara ini tak muncul begitu saja. Beberapa waktu sebelumnya, media sosial dihebohkan oleh konflik terbuka antara Manohara dan ibunya, Daisy Fajarina. Perseteruan itu bermula dari sebuah unggahan Instagram yang ramai diperbincangkan warganet.
Akun Instagram bernama @aisyah_nadawi mengunggah sebuah postingan yang menjelaskan alasan di balik pernikahan Manohara dengan Pangeran Kelantan, Tengku Fakhri. Narasi yang digunakan dalam unggahan tersebut ditulis dari sudut pandang sang ibu. Dari sanalah kecurigaan Manohara bermula.
Ia menduga bahwa akun tersebut dijalankan langsung oleh ibunya atau setidaknya mewakili suara sang ibu. Merasa narasi yang disampaikan tidak sesuai dengan pengalaman hidupnya, Manohara pun memilih untuk merespons secara terbuka. Balasan yang ia tuliskan tidak main-main—penuh emosi, lugas, dan menusuk.
Dalam responsnya, Manohara bahkan secara terang-terangan menyebut sang ibu memiliki kecenderungan kepribadian tertentu yang menurutnya menjadi akar dari relasi toksik di antara mereka. Ia juga mengungkap bahwa dirinya telah lama memutus hubungan dengan sang ibu demi menjaga kesehatan mentalnya.
Tak disangka, akun tersebut kembali membalas komentar Manohara. Dalam balasan itu, Manohara dituding telah berlaku kejam karena membuka aib ibunya ke ruang publik. Akun tersebut juga mempertanyakan sikap Manohara yang berani menyematkan label tertentu kepada sang ibu.
“Jahat sekali mulutmu membongkarr aib ibumu ke publik dan mengatakan dia seorang NPD ke seluruh dunia? Emang tanpa seorang ibu NPD kamu bisa seperti ini?” tulis aisyah_nadawi.
Balasan tersebut justru memantik reaksi warganet yang lebih luas. Sebagian netizen menilai Manohara terlalu berani membuka konflik keluarga ke ruang publik. Namun, tak sedikit pula yang memberikan dukungan penuh, menganggap keberanian Manohara sebagai langkah penting untuk berbicara tentang luka lama yang selama ini sering dipendam.
Perdebatan itu pun berkembang menjadi diskusi publik tentang relasi orang tua dan anak, batasan dalam keluarga, serta dampak jangka panjang dari pengalaman masa kecil yang penuh tekanan. Nama Manohara kembali menjadi trending, bukan sebagai figur publik semata, melainkan sebagai simbol keberanian untuk bersuara tentang trauma.
Bagi Manohara, membuka kisah ini bukanlah upaya mencari sensasi. Ia menegaskan bahwa pengakuannya lahir dari keinginan untuk jujur pada diri sendiri dan menyuarakan pengalaman yang selama ini dibungkam. Luka itu, menurutnya, tidak pernah benar-benar hilang—hanya disimpan rapat hingga akhirnya menemukan jalan untuk keluar.
Kisah Manohara pun menjadi pengingat bahwa di balik sorotan glamor dunia hiburan, ada cerita-cerita sunyi yang jarang terdengar. Cerita tentang seorang anak yang tumbuh dengan ketakutan, kebingungan, dan trauma—dan seorang perempuan dewasa yang kini berusaha merebut kembali kendali atas hidupnya sendiri.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











