bukamata.id – Media sosial tengah diguncang oleh sebuah video parodi yang dianggap sebagai “sindiran berkelas” tingkat tinggi. Di tengah ramainya hujatan terhadap Dwi Sasetyaningtyas, alumni LPDP yang pamer paspor Inggris anaknya, muncul sosok ibu yang justru melakukan hal sebaliknya. Menariknya, anak dalam video parodi tersebut memiliki paras blasteran atau “bule”, namun dengan bangga memegang paspor hijau Republik Indonesia.
Wajah Bule, Hati Garuda: Sebuah Tamparan Satir
Video tersebut dibuka dengan momen emosional sang ibu saat membuka paket cokelat berisi paspor Indonesia untuk anaknya yang berwajah bule. “Ini adalah paket yang sangat penting yang menyangkut masa depan anakku,” ucap sang ibu dengan penuh kesungguhan.
Kontras visual ini sangat tajam. Jika Dwi Sasetyaningtyas—yang merupakan warga asli Indonesia—berusaha keras agar anaknya memiliki paspor “kuat” sebagai WNA, ibu dalam video ini justru menunjukkan bahwa identitas nasional tidak ditentukan oleh paras, melainkan pilihan ideologi.
“This isn’t just paper or passport. This is your identity as part of Indonesian civilization,” tegas sang ibu kepada anak bulenya tersebut. Sang anak pun, dengan polos namun mantap, memberikan alasan mengapa ia mencintai Indonesia: “Because I like Indonesia,”.
Skandal LPDP: Saat Nasionalisme “Dijual” Demi Karier
Video “Bule Lokal” ini menjadi viral karena muncul tepat saat publik sedang geram dengan kasus Arya Irwantoro dan istrinya, Dwi Sasetyaningtyas. Pasangan yang dibiayai oleh pajak rakyat lewat beasiswa LPDP ini dinilai telah “lupa daratan”.
Dwi Sasetyaningtyas secara terbuka menyebut cukup dirinya saja yang WNI, sementara anak-anaknya harus berpaspor asing demi kenyamanan. Padahal, ia menempuh studi di Belanda berkat uang negara. Ironi ini semakin dalam ketika sang suami, Arya Irwantoro, juga terseret dalam masalah hukum yang serius.
Beban Utang Rp2,53 Miliar dan Ancaman Blacklist
Berbeda dengan anak bule di video parodi yang dididik untuk menghargai “lifetime privilege” menjadi WNI, Arya Irwantoro kini justru menanggung beban finansial akibat pelanggaran kontrak pengabdiannya.
Arya, yang menyelesaikan studi S2 dan S3 di Belanda, terbukti tidak kembali ke Indonesia untuk mengabdi sesuai rumus $2N+1$. Sejak Januari 2025, ia memilih menetap di Inggris untuk bekerja sebagai peneliti di University of Plymouth. Konsekuensinya tidak main-main:
- Tuntutan Ganti Rugi: LPDP menuntut Arya mengembalikan seluruh dana beasiswa yang telah dikucurkan.
- Total Dana: Estimasi pengembalian dana mencapai Rp2,53 miliar, mencakup biaya hidup dan biaya kuliah selama bertahun-tahun.
- Sanksi Moral & Karir: Pasangan ini terancam masuk daftar hitam (blacklist) yang menutup peluang mereka bekerja di seluruh instansi pemerintah Indonesia.
Pesan dari “Civilization”: Peradaban Bukan Tentang Paspor
Di akhir video parodi, sang ibu memberikan pesan yang sangat dalam bagi setiap orang yang merasa dirinya intelektual: “You have to remember that you are an Indonesian by blood, you’re proud of become a part of the society,”.
Pesan ini menyasar langsung ke inti skandal LPDP. Bagaimana mungkin seseorang yang memiliki darah Indonesia dan dibesarkan oleh fasilitas negara, justru memandang rendah kewarganegaraannya sendiri? Keberadaan anak bule dalam video yang bangga memegang paspor Indonesia menjadi simbol bahwa rasa memiliki tanah air adalah soal integritas, bukan soal di mana kita tinggal atau bagaimana rupa kita.
Kini, sementara Arya Irwantoro harus memutar otak untuk melunasi utang miliaran rupiah ke kas negara, publik diingatkan lewat video parodi tersebut bahwa kebanggaan menjadi Indonesia adalah warisan yang tak ternilai harganya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News








