Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru
Ilustrasi banjir

Genangan Muncul di Sejumlah Titik Bandung, Ini Wilayah yang Masih Jadi Tantangan

Senin, 21 September 2026 01:00 WIB

Persib Comeback! Sempat Tertinggal, Maung Bandung Bungkam Persijap 2-1

Minggu, 20 September 2026 21:24 WIB

Nikah Mendadak dengan Andre Taulany, Amanda Rigby Dituding Hamil? Cek Lagi Ramalan Hard Gumay

Minggu, 20 September 2026 20:18 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Genangan Muncul di Sejumlah Titik Bandung, Ini Wilayah yang Masih Jadi Tantangan
  • Persib Comeback! Sempat Tertinggal, Maung Bandung Bungkam Persijap 2-1
  • Nikah Mendadak dengan Andre Taulany, Amanda Rigby Dituding Hamil? Cek Lagi Ramalan Hard Gumay
  • 1.096 Botol Miras Ilegal Disita di Jatinangor, 25 Orang Diamankan
  • Sudah Lama Rusak, Ruang Kelas MI Tegal Koneng Bandung Barat Ambruk
  • Link Live Streaming Persijap vs Persib, Kick Off 19.00 WIB di Super League
  • Kemarau Mengancam, Geo Dipa Unit Patuha Serahkan Tangki Air 5.000 Liter ke BPBD Bandung
  • Mengenal KH Hasan Abdullah Sahal: Sosok di Balik Pidato Fenomenal yang Tampar Pemimpin
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Senin, 21 September 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Pemkab Bandung Gelar Sosialisasi Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan 2025

By Aga GustianaRabu, 24 September 2025 17:10 WIB4 Mins Read
Pemkab Bandung Gelar Sosialisasi Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan 2025. (Foto: Dok Humas Bandung)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung mengadakan sosialisasi Food Security and Vulnerability Atlas (FSVA) 2025 atau peta ketahanan dan kerentanan pangan, Rabu (24/9/2025). Kegiatan ini berlangsung di Hotel Grand Sunshine, Soreang, dan diinisiasi oleh Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (Dispakan) Kabupaten Bandung.

Bupati Bandung, Dadang Supriatna, hadir langsung bersama Kepala Dispakan, Uka Suska Puji Utama, untuk memaparkan pentingnya peta kerentanan pangan dalam perencanaan pembangunan daerah.

Menurut Dadang, sosialisasi ini sangat krusial karena melibatkan berbagai pihak mulai dari OPD, camat, kepala desa, lurah, hingga Puskesos.

“Jangan sampai tidak tahu kondisi lapangan. Untuk itu dalam pelaksanaan sosialisasi peta ketahanan pangan ini, diharapkan setiap desa menyampaikan informasi mana kategori sangat rentan dan seterusnya. Dengan klasifikasi satu sampai enam, dan ini tidak keluar dari desil 1,” ujar Kang DS, sapaan akrabnya.

Ia menjelaskan bahwa desil satu menggambarkan kondisi masyarakat miskin ekstrem, yang termasuk dalam kategori rawan pangan. Data tersebut nantinya masuk ke dalam sistem aplikasi milik Diskominfo Kabupaten Bandung.

Bupati menambahkan, data ini akan menjadi dasar pemerintah dalam menentukan arah anggaran dan program. Ia mencontohkan program rehabilitasi rumah tidak layak huni (rutilahu) yang sudah berhasil membangun 29.327 unit dalam empat tahun terakhir, meski masih tersisa sekitar 10 ribu unit lagi.

Baca Juga:  Wamentan Sudaryono Targetkan Indonesia Swasembada Pangan Empat Tahun Kedepan

“Akhir dari perjuangan itu, bagaimana supaya masyarakat itu tidak rentan pangan lagi. Kita berharap desil satu ini naik kelas, ini yang kita lakukan. Untuk itu, pemerintah hadir di tengah-tengah masyarakat,” tegasnya.

Berdasarkan peta FSVA, terdapat 28 desa di Kabupaten Bandung yang masuk kategori rawan pangan. Namun Dadang menegaskan bahwa hampir seluruh desa masih memiliki kelompok masyarakat yang rentan.

FSVA Jadi Dasar Kebijakan Pangan Daerah

Kepala Dispakan, Uka Suska Puji Utama, menuturkan bahwa FSVA adalah instrumen analisis berbasis data spasial untuk memetakan tingkat ketahanan dan kerentanan pangan hingga level desa.

“FSVA merupakan alat analisis berbasis data spasial dan indikator yang digunakan untuk memetakan tingkat ketahanan dan kerentanan pangan di setiap wilayah hingga tingkat kecamatan dan desa,” jelasnya.

Ia menambahkan, penyusunan FSVA berlandaskan sejumlah regulasi, antara lain UU Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan, PP Nomor 17 Tahun 2015 tentang Ketahanan Pangan dan Gizi, serta Peraturan Badan Pangan Nasional No. 10 Tahun 2022 yang secara spesifik mengatur tata cara penyusunan FSVA. Selain itu, Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 2023 menekankan pentingnya sinergi lintas sektor dalam penguatan ketahanan pangan.

Baca Juga:  Rasakan Manfaat Program Bupati Bandung, Warga Gandasari Akui Bangga Jadi Penerima Dana Bergulir

Menurut Uka, FSVA bertumpu pada tiga pilar utama: ketersediaan pangan, akses terhadap pangan, dan pemanfaatan pangan. Hasil pemetaan ini akan menjadi dasar intervensi kebijakan yang lebih tepat sasaran.

Tahun ini, penyusunan FSVA telah melalui sejumlah tahapan, mulai dari pengumpulan data dari BPS, OPD, dan lapangan, analisis indikator, pemetaan berbasis geospasial, hingga validasi dengan instansi terkait.

Dari hasil analisis, masih ada beberapa kecamatan dan desa di Kabupaten Bandung yang termasuk rawan pangan, terutama karena faktor geografi, aksesibilitas, dan kemiskinan. Namun Uka menekankan, ada juga wilayah yang menunjukkan tren positif berkat intervensi program berkelanjutan.

“Kami berharap hasil FSVA ini dapat menjadi referensi utama dalam penyusunan kebijakan daerah, perencanaan program lintas sektor, serta penentuan lokasi prioritas intervensi,” ujarnya.

Baca Juga:  Jadwal Imsakiyah Kabupaten Bandung 19 Maret 2025

Dukungan Program Nasional dan Penanganan Stunting

Dalam kesempatan tersebut, Uka juga melaporkan dukungan Dispakan terhadap program prioritas nasional, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG). Dispakan melakukan pengawasan keamanan pangan melalui uji cepat, monitoring sanitasi di gudang pangan, serta edukasi terkait pangan segar.

Untuk memenuhi kebutuhan ikan di 361 SPPG (Sistem Pelayanan Pemenuhan Gizi), total kebutuhan mencapai 81.225 kg per hari, sementara produksi baru 28.960 kg per hari. Karena itu, Uka mengusulkan penambahan 418 kelompok wirausaha baru di sektor perikanan dengan anggaran Rp 6,27 miliar.

Dispakan juga terlibat dalam intervensi keluarga berisiko stunting di 28 desa prioritas, serta menjajaki kerjasama Koperasi Desa Merah Putih dengan Bulog untuk penyediaan pangan strategis.

Selain itu, koordinasi dilakukan dengan Dinas Sosial untuk menanggulangi kemiskinan ekstrem, serta dengan Dinas Perhubungan guna membantu masyarakat terdampak inflasi seperti pengemudi angkot, ojek, becak, dan kusir delman.

“Dispakan juga berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan untuk mendukung masyarakat terdampak inflasi seperti ojek, becak, kusir delman, dan sopir angkot,” pungkasnya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Dadang Supriatna Kabupaten Bandung Stunting
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Ilustrasi banjir

Genangan Muncul di Sejumlah Titik Bandung, Ini Wilayah yang Masih Jadi Tantangan

1.096 Botol Miras Ilegal Disita di Jatinangor, 25 Orang Diamankan

Sudah Lama Rusak, Ruang Kelas MI Tegal Koneng Bandung Barat Ambruk

Kemarau Mengancam, Geo Dipa Unit Patuha Serahkan Tangki Air 5.000 Liter ke BPBD Bandung

Mengenal KH Hasan Abdullah Sahal: Sosok di Balik Pidato Fenomenal yang Tampar Pemimpin

Mahasiswa ITB Nyaris Terjun dari Jembatan GT Baros, Teriakan Pengendara Picu Penyelamatan

Terpopuler
  • Proyek Kabel Gatot Subroto Bandung Amburadul, Internet IndiHome Mati Nyaris Sepekan dan Bikin Rugi
  • Jadwal Lengkap FC Seoul vs Persib Bandung di ACL 2: Waktu Kick-off dan Link Nonton
  • Game Free Fire
    Deretan Kode Redeem FF 15 September 2026, Klaim Reward Senjata Eksklusif Sekarang Juga!
  • Link Live Streaming ACL 2: FC Seoul vs Persib Bandung, Nonton Gratis di Sini!
  • gempa
    Rentetan Aktivitas Seismik Guncang Selat Sunda hingga Selatan Jawa, Begini Penjelasan Pakar BMKG
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.