Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Traffic Light Mati karena Dicuri, Ini 5 Persimpangan Bandung yang Terdampak

Kamis, 1 Oktober 2026 20:20 WIB

Catat Jadwal Persib Oktober 2026, Maung Bandung Tampil di 3 Kompetisi

Kamis, 1 Oktober 2026 20:11 WIB
Ilustrasi pencairan BSU

Pasutri di Cimahi Edarkan Uang Palsu Rp100 Ribu Selama 4 Bulan, Terbongkar di Warung

Kamis, 1 Oktober 2026 20:04 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Traffic Light Mati karena Dicuri, Ini 5 Persimpangan Bandung yang Terdampak
  • Catat Jadwal Persib Oktober 2026, Maung Bandung Tampil di 3 Kompetisi
  • Pasutri di Cimahi Edarkan Uang Palsu Rp100 Ribu Selama 4 Bulan, Terbongkar di Warung
  • Reshuffle Kabinet Prabowo 1 Oktober: 18 Pejabat Dilantik, Ada Kapolri dan Menko Baru
  • Catat! Ini Jadwal Operasi Antik Lodaya 2026 di Jawa Barat
  • Berburu Sarapan di Bandung? 7 Kuliner Legendaris Ini Wajib Masuk Daftar
  • BSU Oktober 2026 Rp900 Ribu, Cek Syarat Penerima dan Desilnya
  • Jadwal Berubah! Garudayaksa FC vs Persib Dimajukan, Ini Waktu Terbarunya
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Kamis, 1 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Gaya Hidup

Perjuangan dan Prinsip, Jalan Hidup Bos Koi Hartono Soekwanto

By Aga GustianaSelasa, 5 Agustus 2025 12:22 WIB2 Mins Read
Hartono Soekwanto
Bos Koi Hartono Soekwanto. (Foto: bukamata.id/Rizal Fadillah)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Di balik kesuksesannya sebagai pengusaha yang disegani, Hartono Soekwanto menyimpan filosofi hidup yang dalam dan menyentuh. Dalam sebuah perbincangan, pria yang dikenal sebagai Bos Koi ini mengungkapkan nilai-nilai hidup yang menjadi kompas dalam perjalanan karier dan spiritualnya.

Bagi Hartono, memberi adalah sumber kebahagiaan yang sejati. “Ada kegembiraan dalam memberi, ada sukacita dalam memberi. Membuat orang lain bahagia itu ibadah,” ujarnya kepada awak media, Senin (4/8/2025).

Namun lebih dari itu, Hartono menekankan pentingnya kerja keras untuk membangun nama baik. Ia mengutip pepatah Tiongkok yang menyebut bahwa nama besar harus diperjuangkan, sementara “muka” atau kehormatan adalah bentuk penghargaan dari orang lain.

“Nama harus kita kejar, supaya orang lain menghargai kita dengan memberi muka,” kata Hartono tegas.

Baca Juga:  Duel Beda Usia 40 Tahun! Duo Veteran Hartono-Eko Yuli Tembus Final Dago Vision Care Padel Cup

Filosofi ini ia tanamkan kepada anak-anaknya, agar tidak hanya hidup nyaman dalam warisan, tetapi memiliki nilai juang dan harga diri. Hartono sendiri bukan orang yang lahir dari kekurangan—ia berasal dari keluarga berkecukupan. Namun, demi menemukan jati diri, ia memilih meninggalkan kenyamanan.

“Saya tinggalkan semua. Saya naik motor, ngelesin Bahasa Inggris, kerja apa aja. Dikasih mobil tapi nggak mampu beli bensin,” kenangnya.

Salah satu momen yang paling membekas dalam perjalanan hidupnya adalah ketika ia harus membeli ban bekas seharga Rp50.000 agar bisa menghadiri wawancara kerja di Jakarta.

Baca Juga:  Di Balik Gaji Kecil: Ketulusan Luar Biasa Pak Untung Mengajar Meski Fisik Terbatas

“Bapaknya kayaknya udah meninggal dan sekarang bannya udah nggak ada. Cuman saya masih ingat kayaknya diterusin anaknya. Jadi tiap ganti ban baru, saya bilang ke supir saya, kirimkan ke sana. Sampe orangnya kaget, ada yang ngirim ban,” ucapnya haru.

Bagi Hartono, kenangan itu bukan sekadar romantisme masa lalu, tapi juga bentuk syukur dan penghormatan pada orang-orang yang pernah membantunya.

“Kita sudah di atas, kasarnya sudah menuju atas, sudah berkecukupan, kita masih ingat doa-doanya orang yang berkekurangan itu bagaimana. Itu kita selalu ingat. Kita bisa di atas, kita pernah di bawah,” jelasnya.

Baca Juga:  Padel, Olahraga Raket Modern yang Kian Digemari di Bandung

Hartono percaya bahwa kesuksesan bukan hanya milik mereka yang pintar atau beruntung, tapi juga mereka yang tidak lupa daratan.

“Sudah S1, bukan berarti berhasil. Itu baru start di angka 5. Karena ternyata saya pikir saya udah lulus sekolah, itu saya udah punya segalanya, saya pinter segala. Ternyata saya bodohnya luar biasa.”

Kini, filosofi hidup itu menjadi pegangan utama Hartono dalam bekerja dan berinteraksi: kerja keras, rendah hati, menghargai sesama, dan tidak melupakan jasa orang lain. “Itu prinsip. Orang yang membukakan jalan buat kita, sekecil apa pun, harus kita ingat,” tutupnya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Bos Koi Hartono Soekwanto Kisah Inspiratif
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Berburu Sarapan di Bandung? 7 Kuliner Legendaris Ini Wajib Masuk Daftar

Batal Cerai atau Prank? Kemunculan Demian di Live Sara Wijayanto Bikin Heboh, Cinta Belum Usai?

Jangan Lewatkan! Ini Jadwal Indonesia di Asian Games 2026 1 Oktober, Ada Duel Perebutan Emas

Bansos PKH September 2026 Belum Cair? Cek Status Penerima Lewat HP Cukup Pakai NIK

Rekomendasi Kuliner Malam Bekasi: Tempat Nongkrong & Makan Enak yang Buka Seharian

Bikin Ngiler! 4 Nasi Goreng Bandung dengan Racikan Unik dan Topping Melimpah

Terpopuler
  • Eksa Silika Resmi Jadi Plt, KORMI Bandung Bersiap Pilih Ketua Baru
  • Herwin Muchtar Siap Berebut Kursi Ketua Kadin Kota Bandung, Usung Program Goes Global hingga Digitalisasi
  • HUT ke-38 Bikers Brotherhood 1% MC Digelar di Bandung, Angkat Semangat Persaudaraan
  • Polemik Data Center AI Jatiluhur: AMDAL Belum Rampung tapi Proyek Sudah Dimulai, Apakah Ruang Koreksi Masih Ada?
  • Antara Regulasi dan Realita: Menguak Karut-Marut Anggaran Publikasi Rp250 Juta di Diskominfo Purwakarta
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.