bukamata.id – Isu bonus besar yang mengiringi performa Persib Bandung kembali menjadi sorotan publik di tengah ketatnya persaingan Liga 1 musim 2025/2026.
Kabar mengenai dukungan dana fantastis untuk tim Maung Bandung memicu berbagai reaksi, mulai dari dukungan hingga kritik terbuka dari suporter.
Isu Bonus Rp5 Miliar dari Dukungan Tokoh Nasional
Polemik ini bermula dari pernyataan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang mengungkap adanya dukungan dana dari Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman RI, Maruarar Sirait.
Dana tersebut disebut mencapai Rp5 miliar untuk setiap laga tandang tersisa Persib di kompetisi Super League 2025/2026. Informasi ini kemudian memicu perdebatan publik, terutama terkait transparansi dan kewajaran pemberian bonus dalam dunia sepak bola profesional.
Bahkan, dalam laga Persib melawan Arema FC di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (24 April 2026), muncul spanduk bertuliskan “Shut Up KDM” sebagai bentuk ekspresi kritik sebagian suporter terhadap isu tersebut.
Bojan Hodak: Bonus Hal Wajar dalam Sepak Bola
Menanggapi polemik yang berkembang, pelatih Persib Bandung, Bojan Hodak, memilih bersikap tenang. Ia menilai bonus merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari dunia sepak bola profesional.
“(Yang ini?) Apa yang anda ingin saya bicarakan? Bagus jika mendapatkan bonus, para pemain tentunya layak mendapatkan bonus,” ujar Hodak.
Menurutnya, sistem bonus justru dapat menjadi motivasi tambahan bagi pemain untuk tampil maksimal di setiap pertandingan. Ia menegaskan bahwa hal tersebut adalah hal yang lumrah dalam sepak bola modern.
“Dan kami berada di peringkat pertama, benar kan? Anda bermain untuk bonus, begitulah sepak bola profesional,” lanjutnya.
Reaksi Bobotoh dan Dinamika di Luar Lapangan
Pernyataan Hodak tersebut tidak sepenuhnya diterima positif oleh seluruh pendukung Persib atau Bobotoh. Sebagian suporter menilai isu bonus seharusnya tidak menjadi konsumsi publik yang berpotensi memicu kontroversi di tengah ketatnya persaingan liga.
Di sisi lain, perhatian terhadap isu ini semakin besar karena muncul di saat Persib sedang berada dalam tekanan performa. Dua hasil imbang beruntun melawan Dewa United FC dan Arema FC membuat posisi mereka di puncak klasemen mulai terancam.
Persaingan Klasemen Makin Panas
Saat ini, Persib Bandung masih bertahan di puncak klasemen dengan koleksi 66 poin. Namun, Borneo FC Samarinda terus memberikan tekanan ketat dengan jumlah poin yang sama, hanya kalah head to head.
Situasi ini membuat setiap pertandingan tersisa menjadi sangat krusial. Tidak hanya untuk menjaga peluang juara, tetapi juga untuk meredam berbagai isu eksternal yang berpotensi mengganggu fokus tim.
Fokus Persib di Tengah Tekanan
Dengan sisa pertandingan yang semakin sedikit, Persib dituntut menjaga konsistensi performa di lapangan. Manajemen tekanan internal dan eksternal menjadi tantangan tersendiri bagi tim asuhan Bojan Hodak.
Kombinasi antara persaingan papan atas yang ketat dan isu di luar lapangan menjadikan perjalanan Persib di musim ini semakin menarik untuk diikuti hingga akhir kompetisi.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










