Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Kapan Lebaran 2026? Ini Prediksi Terbaru, Bisa Berbeda Tanggal!

Selasa, 17 Maret 2026 18:25 WIB

Kata Inara Rusli Soal Video Syur: Akui Ada Rekaman, Bantah Tuduhan Perzinaan

Selasa, 17 Maret 2026 17:13 WIB

Waktu Maghrib Kota Bandung Hari Ini Jam Berapa? Jangan Lewatkan Doa Buka Puasa

Selasa, 17 Maret 2026 17:01 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Kapan Lebaran 2026? Ini Prediksi Terbaru, Bisa Berbeda Tanggal!
  • Kata Inara Rusli Soal Video Syur: Akui Ada Rekaman, Bantah Tuduhan Perzinaan
  • Waktu Maghrib Kota Bandung Hari Ini Jam Berapa? Jangan Lewatkan Doa Buka Puasa
  • Kantongi Belasan Miliar dari Kompetisi Asia, Intip Proyek ‘Los Galacticos’ Persib Bandung Musim Depan
  • Misteri ‘Ibu Tiri vs Anak Tiri’ di TikTok: Durasi 7 Menit yang Bikin Penasaran
  • Polisi Umumkan Tol Gedebage Dibuka 24 Jam saat Arus Mudik Lebaran 2026
  • Viral! Adam Alis dan Saddil Ramdani Usul Tukar Pemain Borneo FC ke Persib
  • Laba Tembus Rp1,15 Triliun, bank bjb Buktikan Ketahanan Finansial di Tengah Gejolak Ekonomi 2025
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Selasa, 17 Maret 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Potensi Defisit APBD Jabar Rp4,3 Triliun, DPRD Soroti Ambisi Belanja vs Realitas Pendapatan

By Muhammad Rafki Razif KiransyahRabu, 21 Januari 2026 21:21 WIB3 Mins Read
Ilustrasi, potensi defisit anggaran Jabar 2026 Rp4,3 triliun. (Foto: Hasil ChatGPT)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Wacana kemungkinan defisit APBD Jawa Barat 2026 yang disebut bisa mencapai sekitar Rp4,3 triliun terus menjadi perhatian publik dan DPRD. Setelah Sekretaris Daerah Jabar, Herman Suryatman, mengakui adanya koreksi dari Kementerian Dalam Negeri terhadap struktur anggaran, DPRD kini menyoroti masalah ini secara kritis.

Anggota Komisi IV DPRD Jawa Barat, Daddy Rohanadi, menegaskan bahwa angka tersebut bukan sekadar “defisit tiba-tiba,” melainkan akibat koreksi Kemendagri terhadap perencanaan anggaran yang terlalu optimistis.

“Sebenernya angka itu bukan defisit, tapi koreksi Kementerian Dalam Negeri terhadap APBD Provinsi Jabar,” ujar Daddy saat dihubungi, Rabu (21/1/2026).

Pernyataan ini menegaskan bahwa persoalan fiskal Jabar bukan sekadar soal kekurangan dana, melainkan menyentuh inti perencanaan anggaran itu sendiri.

Saat ditanya apakah situasi ini bisa disebut kegagalan perencanaan fiskal, Daddy menyebut salah satu penyebabnya adalah proyeksi pendapatan yang terlalu tinggi sejak awal.

“Jangan terlalu super optimistis soal target pendapatan, berkaca pada tren-nya waktu itu,” katanya.

Baca Juga:  Gagal Jebol Pagar DPRD Jabar, Polisi Pukul Mundur Massa Mahasiswa

Komentar ini menunjukkan bahwa penyusunan APBD selama ini lebih bertumpu pada harapan dibanding kehati-hatian fiskal. Ketika asumsi makro tidak tercapai, koreksi dari pusat pun tidak terhindarkan, dan risiko defisit muncul ke permukaan.

Dalam konteks ini, angka Rp4,3 triliun bukan sekadar nominal, tetapi alarm bahwa struktur fiskal Jabar belum cukup adaptif menghadapi perubahan realitas pendapatan.

DPRD Tolak Utang Sebagai Solusi Cepat

Terkait wacana pinjaman daerah, Daddy menegaskan bahwa DPRD tidak melihat utang sebagai solusi rasional untuk menutup potensi lubang anggaran.

“Dalam kondisi keuangan seperti ini, semua dewan tidak sepakat untuk menjadikan utang sebagai beban setiap tahun,” ujarnya.

Ia menambahkan, mengandalkan pinjaman secara rutin justru akan memindahkan masalah ke APBD tahun-tahun berikutnya.

“Jangan sampai menambah beban fiskal tahunan,” tegas Daddy.

Pandangan ini menegaskan posisi DPRD yang berhati-hati: utang bukan strategi pembangunan produktif, tetapi risiko fiskal yang dapat menggerus ruang belanja publik di masa depan.

Baca Juga:  Wakil Ketua DPRD: APBD Jabar 2025 Disepakati Jadi Rp31,4 Triliun

Daddy menilai, alih-alih cepat mengambil utang, Pemprov Jabar seharusnya lebih berani mengoreksi belanja.

“Bagi saya yang lebih penting soal solusi. Salah satu solusi, kita bicara mereduksi. Mana yang bisa direduksi dan mana yang harus dipertahankan. Pekerjaan mana yang bisa kita tunda, maka otomatis akan menunda atau meng-cancel,” jelasnya.

Opsi lain seperti pengalihan proyek menjadi tahun jamak juga disebutkan, namun menurut Daddy, langkah tersebut memerlukan payung hukum berupa perda dan tidak bisa dilakukan secara instan.

“Beberapa pekerjaan dialihkan menjadi tahun jamak, tetapi itu harus punya perda sendiri, dan tidak memungkinkan jika dalam waktu dekat,” katanya.

Pernyataan ini memperlihatkan ruang manuver Pemprov Jabar terbatas, sebagian karena desain anggaran sebelumnya tidak cukup memberi bantalan fiskal.

Kesenjangan Perencanaan dan Realitas Fiskal

Sebelumnya, Sekda Jabar Herman Suryatman menyebut potensi defisit merupakan hasil evaluasi Kemendagri. Opsi pinjaman daerah masih dalam tahap kajian dan konsultasi dengan pemerintah pusat.

Baca Juga:  DPRD Jabar Sebut Target Kemantapan Jalan Provinsi 2022-2023 Tak Tercapai

Namun, munculnya wacana utang publik menyoroti masalah yang lebih mendasar: kesenjangan antara perencanaan dan realitas fiskal. Tekanan kewajiban pembayaran tahun sebelumnya, mulai dari kontraktor hingga kompensasi masyarakat terdampak kebijakan, semakin mempersempit ruang fiskal awal 2026. Dalam situasi ini, utang lebih terlihat sebagai langkah reaktif daripada strategi reformasi fiskal.

Potensi defisit Rp4,3 triliun bukan sekadar angka kontroversial. Angka ini menjadi cermin retak yang menunjukkan bahwa fondasi pendapatan Jawa Barat belum cukup kuat untuk menopang ambisi belanja yang terus meningkat.

Tanpa koreksi serius dalam menyusun target pendapatan, optimalisasi PAD, dan evaluasi belanja, ancaman defisit bisa menjadi siklus tahunan.

Peringatan DPRD menunjukkan bahwa persoalan APBD Jabar bukan lagi isu teknis birokrasi, tetapi menyentuh arah kebijakan fiskal: apakah Jawa Barat ingin membangun keuangan daerah yang tahan guncangan, atau terus menambal lubang dengan optimisme di atas kertas.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

APBD Jawa Barat defisit APBD DPRD Jabar fiskal daerah kebijakan anggaran keuangan daerah proyeksi pendapatan
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Kapan Lebaran 2026? Ini Prediksi Terbaru, Bisa Berbeda Tanggal!

Waktu Maghrib Kota Bandung Hari Ini Jam Berapa? Jangan Lewatkan Doa Buka Puasa

Polisi Umumkan Tol Gedebage Dibuka 24 Jam saat Arus Mudik Lebaran 2026

Laba Tembus Rp1,15 Triliun, bank bjb Buktikan Ketahanan Finansial di Tengah Gejolak Ekonomi 2025

Bukan Sembarang Prajurit! Prada Nawawi Harumkan Indonesia di Langit Libya, Netizen: Tentara Allah!

Obat Rindu Perantau: Kala Jurnalis Ju’e Hangatkan Hati Pedagang Cibeunying yang Tak Mudik

Terpopuler
  • Viral Video Kebun Sawit Ibu Tiri vs Anak Tiri, Apa Isinya? Hati-hati Jebakan Batman!
  • Video Aksi Ibu Tiri vs Anak Tiri di Kebun Sawit Viral, Link Diburu Netizen
  • Video Viral Ukhti Mukena Pink
    Netizen Penasaran! Video Mukena Pink ‘No Sensor’ Viral, Banyak yang Buru Link Aslinya
  • Video Viral Ukhti Mukena Pink
    Waspada Klaim Full Durasi Video Ukhti Mukena Pink ‘No Sensor’, Ini Faktanya
  • Viral video ukhti mukena pink.
    Hati-hati! Link Video Viral Mukena Pink ‘No Sensor’ Bisa Sebarkan Malware
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.