Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru
Persib

Bojan Hodak Bertahan di Persib? Negosiasi Kontrak Masih Panas!

Minggu, 29 Maret 2026 21:56 WIB
Viral video part 2 ibu tiri vs anak tiri.

Viral TikTok dan X! Ini Fakta di Balik Video Ibu Tiri vs Anak Tiri Part 2 ‘No Sensor’

Minggu, 29 Maret 2026 20:08 WIB

Avatar Versi Nyata? Mengenal Suku Dinka, Manusia Raksasa dari Lembah Nil!

Minggu, 29 Maret 2026 19:34 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Bojan Hodak Bertahan di Persib? Negosiasi Kontrak Masih Panas!
  • Viral TikTok dan X! Ini Fakta di Balik Video Ibu Tiri vs Anak Tiri Part 2 ‘No Sensor’
  • Avatar Versi Nyata? Mengenal Suku Dinka, Manusia Raksasa dari Lembah Nil!
  • Bojan Hodak Beri Tugas Spesial ke Jupe di Persib, Bukan Sekadar Pemain
  • Geger! Video Ibu Tiri vs Anak Tiri Part 2 ‘No Sensor’ Viral, Fakta Sebenarnya Bikin Kaget
  • BREAKING! Pemerintah Tunda Seleksi ASN 2026, Formasi Belum Diumumkan
  • Live Streaming! Indonesia vs Bulgaria Malam Ini, Klik Link Resmi Nonton Final FIFA Series 2026
  • Gila! Persib Siapkan ‘Skuad Monster’ 2026/2027, 4 Pos Krusial Langsung Disikat
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Minggu, 29 Maret 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Profil Ikhlas Thamrin: Sosok di Balik Bobibos, BBM Nabati Murah RON 98

By Aga GustianaJumat, 14 November 2025 14:08 WIB5 Mins Read
Bobibos, BBM dari bahan jerami
Bobibos, BBM dari bahan jerami. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Di tengah keresahan publik atas isu kelangkaan BBM di sejumlah SPBU swasta, sebuah nama dari Jonggol, Bogor, mencuri perhatian nasional: M. Ikhlas Thamrin, penemu bahan bakar nabati Bobibos, singkatan dari Bahan Bakar Original Buatan Indonesia Bos. Di saat banyak pihak menuding krisis energi hanya dapat diatasi korporasi besar, Ikhlas justru hadir sebagai sosok peneliti independen yang menempuh perjalanan panjang lebih dari sepuluh tahun untuk membuktikan satu hal: Indonesia mampu mandiri energi tanpa harus bergantung pada impor.

Bobibos hadir dengan dua varian, bensin dan solar, dibuat dari tanaman berlemak tinggi seperti jarak, kemiri, hingga biomassa jerami. Klaimnya langsung menggemparkan publik: RON mendekati 98, emisi CO₂ jauh lebih rendah, dan yang paling mencolok—biaya produksi hanya Rp7.000 per liter, membuatnya berani menantang harga Pertamax Turbo yang berada di kisaran Rp13.000–Rp14.000 per liter.

Bagi banyak orang, angka itu terdengar mustahil. Namun bagi Ikhlas, itu adalah buah dari perjalanan spiritual, riset keras, dan keinginan tulus untuk menjawab problem energi Indonesia.

Akar Aktivisme: Dari Jalanan ke Laboratorium

Kisah Ikhlas tidak berangkat dari dunia teknik. Ia adalah alumnus Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, angkatan 2001. Justru dari sinilah ketertarikannya terhadap isu energi bermula—bukan dari ruang laboratorium, melainkan dari jalanan.

“Saya ingat betul pernah berdemo di Jakarta untuk menolak kenaikan harga BBM. Namun, setelah lulus saya mulai berpikir apa yang dapat saya lakukan untuk memberi solusi perihal energi,” tuturnya.

Aktivisme itulah yang kelak membentuk kesadarannya bahwa kelangkaan energi bukan hanya soal harga minyak dunia, tetapi terkait ketergantungan Indonesia pada energi fosil dan minimnya inovasi energi terbarukan.

Baca Juga:  PLTS Terapung Cirata Menjadi Proyek Percontohan bagi Pengembangan Energi Surya di Indonesia

Membangun Teknologi dari Nol: “Masalah kami bukan teknologi”

Tahun 2007 menjadi titik awal perjalanan riset Ikhlas. Bersama tim kecil, ia mulai bereksperimen dengan berbagai sumber energi alternatif. Delapan tahun kemudian ia mendirikan PT Baterai Freeneg Generasi, dan melahirkan inovasi kompor serta motor listrik berbasis pulsa token—teknologi yang diuji oleh International Certificate Testing Technology (ICTT).

Kompor dan motor tersebut dapat berjalan tanpa SPBU atau stasiun pengisian listrik. Cukup dengan pulsa token, layaknya membeli listrik rumah. Gagasan itu terdengar futuristik pada zamannya dan memperlihatkan satu hal: Ikhlas bukan sekadar bermimpi, ia membangun solusi.

Namun jalan menuju industri tak mudah. Seperti diakuinya, tantangan terberat bukanlah merancang bahan bakar, melainkan birokrasi. “Masalah kami bukan teknologi, tapi izin dan dukungan politik.”

Bobibos: Bahan Bakar dari Tanaman Hijau dan Tafsir Al-Qur’an

Jika banyak inovasi lahir dari laboratorium modern, Bobibos justru bermula dari perenungan spiritual. Dalam unggahan di Instagram @bobibos_, Ikhlas mengatakan:

“Sebenarnya terinspirasi dari Al-Qur’an, tepatnya Surat Yasin Ayat 80.”

Ayat tersebut berbunyi: “Yaitu (Allah) yang menjadikan api untukmu dari kayu yang hijau, maka seketika itu kamu nyalakan (api) darinya.”

Ikhlas memaknainya sebagai petunjuk ilmiah. “Seluruh tanaman hijau bisa dijadikan api. Api di sini adalah energi,” jelasnya.

Baca Juga:  PLN Icon Plus Komitmen Dukung Transformasi Digital dan Energi Hijau Wujudkan Smart Kabupaten

Dari pemahaman itu, ia mendalami biomassa dan bio-konversi selama lebih dari satu dekade. Prosesnya ia sebut sebagai riset independen yang panjang dan melelahkan. Namun akhirnya, seperti dikatakannya pada peluncuran Bobibos di Jonggol:

“Setelah lebih dari 10 tahun riset mandiri, akhirnya kami menghadirkan bahan bakar yang murah, aman, dan beremisi rendah.”

Harga Jauh di Bawah Pertamax Turbo

Klaim harga Bobibos langsung menjadi sorotan nasional. Dengan biaya produksi hanya Rp7.000 per liter, Bobibos dianggap sangat mungkin diproduksi massal di desa-desa. Sebab bahan bakunya—jarak, kemiri, dan tanaman hijau lain—melimpah di Indonesia.

Bandingkan dengan harga Pertamax Turbo atau Pertamax, yang berada di kisaran Rp13.000–Rp14.000/liter.

Model produksi yang terdesentralisasi memungkinkan petani turut terlibat dalam rantai ekonomi. Ikhlas bahkan menyebut, satu hektar lahan bisa menghasilkan 5.000 liter bahan bakar per tahun. Jika 10% lahan pertanian dialokasikan untuk tanaman penghasil minyak, Indonesia bisa menghemat miliaran dolar impor BBM.

Uji Publik dan Respons Publik: Antara Antusias dan Skeptis

Uji coba Bobibos mulai digelar secara terbuka. Berbagai kendaraan roda dua dan empat menjalani tes performa. Hasil awalnya cukup mengejutkan: performa disebut tidak kalah dengan Pertamax Turbo dan lebih stabil pada suhu tinggi.

Beberapa jurnalis otomotif yang hadir bahkan tercengang melihat hasil awal tersebut.

Di sisi lingkungan, Bobibos mengklaim mampu mengurangi emisi CO₂ hingga 70%.

Namun publik tetap terbagi. Euforia di media sosial sangat tinggi, tetapi skeptisisme juga besar. Banyak pihak menyebut kasus-kasus inovasi lokal sebelumnya yang kandas karena regulasi, perizinan, atau tarik-menarik kepentingan ekonomi.

Baca Juga:  Bobibos dan Petunjuk dari Langit: Saat Firman Tuhan Mengilhami Energi Hijau

Dukungan Politik Mulai Muncul, tapi Pemerintah Tetap Hati-Hati

Sosok pertama yang memberi dukungan terbuka adalah Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM). Dengan gaya blak-blakan, ia menyatakan:

“Dua minggu panen, kita langsung kerja sama dan langsung dibuatkan bahan bakar, tidak perlu lewat lembaga pemerintah.”

Namun pemerintah pusat bergerak lebih hati-hati. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan: “Kita lagi pelajari dulu ya.”

Sementara Dirjen Migas Laode Sulaeman menegaskan bahwa Bobibos belum memiliki sertifikasi resmi dan prosesnya bisa memakan waktu delapan bulan.

Praktisi migas Hadi Ismoyo mengingatkan bahwa prosedur ketat terkait uji mutu, perizinan, hingga distribusi harus dipenuhi demi keselamatan konsumen.

Mimpi Besar Anak Bangsa yang Menantang Dominasi BBM Fosil

Bobibos adalah representasi keberanian. Bukan sekadar teknologi murah atau bahan bakar ramah lingkungan, tetapi gagasan bahwa inovasi besar bisa lahir dari tangan anak bangsa tanpa modal raksasa.

“Kami ingin membuktikan bangsa ini bisa mandiri melalui inovasi,” ujar Ikhlas.

Namun apakah mimpi ini akan menjadi kenyataan, atau hanya headline yang berlalu? Jawabannya kini bergantung pada dukungan kebijakan, kematangan uji teknis, dan keberanian Indonesia untuk membuka babak baru energi hijau.

Yang jelas, perjalanan Ikhlas Thamrin dari aktivis jalanan, periset mandiri, hingga penemu Bobibos adalah kisah inspiratif tentang kemandirian, spiritualitas, dan keberanian menantang status quo.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

BBM nabati Biofuel Indonesia Bobibos energi hijau Ikhlas Thamrin RON 98
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Avatar Versi Nyata? Mengenal Suku Dinka, Manusia Raksasa dari Lembah Nil!

CPNS

BREAKING! Pemerintah Tunda Seleksi ASN 2026, Formasi Belum Diumumkan

Fisik Terbatas, Tekad Tanpa Batas! Adinda Adprilaa: Bukti Nyata Gunung Bukan Hanya Milik Mereka yang Sempurna

Pria Gagal Bunuh Diri di Flyover Kiaracondong Bandung, Motif Asmara Terungkap

Pengelola Wisata Rahong Sigap Tangani Bencana Pohon Tumbang di Pangalengan, Evakuasi Berjalan Cepat

Berani Banget! Sambil Mandi Lumpur, Bocah Gemoy Ini Kritik Pedas Jalan Rusak

Terpopuler
  • Mumpung Masih Aktif! Sikat Kode Redeem FF 28 Maret 2026: Peluang Dapat M1887 SG Ungu dan Bundle Sultan Gratis
  • Viral video part 2 ibu tiri vs anak tiri.
    Netizen Penasaran! Video Viral Kebun Sawit Ini Bisa Mengandung Risiko Digital
  • Heboh! Link Telegram Video ‘Ibu Tiri vs Anak Tiri’ di Kebun Sawit Ramai Diburu, Ini Fakta Sebenarnya
  • Link Video Ojol vs Bule 17 Menit Viral, Ternyata Settingan WNA di Bali demi Konten
  • Video Viral Ibu Tiri vs Anak Tiri di Kebun Sawit: Dari TikTok Hingga Ancaman Pidana UU ITE
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.