bukamata.id – Di tengah kekecewaan publik terhadap harga dan ketersediaan bahan bakar Pertamina belakangan ini, muncul secercah harapan dari Jonggol, Jawa Barat. Namanya unik, terdengar seperti sapaan akrab di warung kopi — Bobibos, singkatan dari Bahan Bakar Original Buatan Indonesia, Bos!. Namun di balik nama yang jenaka itu, tersembunyi gagasan besar tentang kemandirian energi nasional dan sumber inspirasi yang tak biasa: Al-Qur’an Surat Yasin ayat 80.
Api dari Kayu Hijau
Ikhlas Thamrin, pendiri sekaligus penggagas Bobibos, tidak segan menyebut bahwa ide besar ini datang dari perenungan spiritualnya terhadap firman Tuhan. “Sebenarnya terinspirasi dari Al-Qur’an, tepatnya Surat Yasin Ayat 80,” ujarnya dalam unggahan di akun Instagram @bobibos_ yang dikutip Rabu (13/11/2025).
Ayat yang dimaksud berbunyi: “Yaitu (Allah) yang menjadikan api untukmu dari kayu yang hijau, maka seketika itu kamu nyalakan (api) darinya.”
Dari tafsir itulah, Ikhlas menemukan petunjuk — bahwa sumber energi sejati bisa datang dari tanaman hijau. “Seluruh tanaman hijau bisa dijadikan api. Api di sini adalah energi,” jelasnya.
Baginya, ayat tersebut bukan sekadar kisah metaforis, melainkan arah riset. “Al-Qur’an sudah memberikan petunjuk yang luar biasa, tinggal bagaimana melakukan riset yang mendalam,” tuturnya penuh keyakinan.
Selama lebih dari satu dekade, ia menekuni riset biomassa yang akhirnya melahirkan Bobibos, bahan bakar nabati dari jerami dan tanaman hijau lain yang mudah tumbuh di tanah Indonesia. “Kami ingin membuktikan bangsa ini bisa mandiri melalui inovasi. Setelah lebih dari satu dekade riset, akhirnya kami menghadirkan bahan bakar yang murah, aman, dan beremisi rendah,” ujarnya.
Energi Merah Putih di Jonggol
Peluncuran resmi Bobibos berlangsung meriah pada Minggu, 2 November 2025 di Bhumi Sultan, Jonggol, Kabupaten Bogor. Acara yang diinisiasi oleh PT Inti Sinergi Formula itu dihadiri tokoh legislatif dan pelaku industri transportasi.
“Sesungguhnya Bobibos lahir sebagai energi merah putih untuk rakyat kita, rakyat Indonesia,” kata Ikhlas Thamrin dengan nada penuh semangat nasionalisme.
Dalam peluncuran itu, akun resmi @bobibos_ menulis, “BOBIBOS, bahan bakar alternatif RON 98 yang diluncurkan hari ini karya anak muda Indonesia. Ini sebuah harapan baru bagi Indonesia.”
Secara teknis, Bobibos diklaim memiliki kadar oktan mendekati RON 98, setara dengan Pertamax Turbo, namun dengan emisi gas buang sangat rendah. Pengujian awal menunjukkan efisiensi jarak tempuh yang lebih baik dibandingkan bahan bakar fosil konvensional.
KDM Langsung Nyamber: “Kita MoU!”
Salah satu tokoh yang paling cepat merespons adalah Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi — akrab disapa KDM. Dalam unggahan di akun Instagram pribadinya, KDM menyatakan siap berkolaborasi langsung dengan tim Bobibos tanpa menunggu jalur birokrasi panjang.
“Dua minggu panen, kita langsung kerja sama dan langsung dibuatkan bahan bakar. Nanti bahan bakar akan diproduksi massal, kita akan MoU, tidak perlu lewat lembaga pemerintah, lama. Pakai lembaga KDM saja,” ujarnya dengan gaya khasnya yang blak-blakan.
KDM menilai Bobibos selaras dengan visinya soal kemandirian energi berbasis pertanian rakyat. Dalam kunjungannya ke sawah Jonggol, ia menegaskan, “Saya ini tidak pernah piknik. Dunia saya ya di sini, di sawah. Saya tidak bisa diajak main golf, tenis, atau jalan-jalan ke luar negeri,” ujarnya sambil tertawa.
Anggota DPR RI Mulyadi yang mendampinginya bahkan menambahkan, “Hasil uji coba itu ron-nya 98,1, Pak. Ini luar biasa, karya anak bangsa yang layak didukung.”
Pro Kontra Publik dan Respons Pemerintah
Meski banyak yang antusias, tak sedikit pula pihak yang berhati-hati. Publik di media sosial memuji semangat “energi merah putih” di tengah kekecewaan terhadap harga BBM, namun juga mempertanyakan keabsahan hasil uji laboratorium Bobibos yang belum terbuka secara luas.
Pemerintah pun memilih langkah hati-hati. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa produk ini masih dikaji. “Kita lagi pelajari dulu ya,” kata Bahlil seusai rapat kerja dengan Komisi XII DPR RI di Senayan, Selasa (11/11/2025).
Bahlil menyebut, pihaknya ingin memastikan setiap produk energi alternatif memenuhi standar keamanan, lingkungan, dan mutu sebelum beredar di masyarakat.
Dukungan politik datang dari Anggota DPR RI Jalal Abdul Nasir yang menilai Bobibos punya potensi besar sebagai energi masa depan. Ketua Komisi XII Bambang Patijaya juga meminta pemerintah menindaklanjuti inovasi ini agar mendapat pendampingan resmi.
Namun, Dirjen Migas Laode Sulaeman menegaskan, “Bobibos saat ini belum memiliki sertifikasi resmi. Hasil uji teknis belum bisa dijadikan dasar peredaran produk karena masih bersifat tertutup antara pengembang dan lembaga penguji.” Ia menambahkan bahwa proses sertifikasi bahan bakar bisa memakan waktu hingga delapan bulan.
Praktisi migas Hadi Ismoyo turut mengingatkan pentingnya prosedur. “Setiap produk bahan bakar wajib melalui uji mutu, perizinan usaha, serta pengawasan distribusi. Semua ini demi keselamatan konsumen,” katanya.
Suara Akademisi: Antara Optimisme dan Skeptisisme
Dari kalangan akademik, muncul suara yang menyeimbangkan euforia dengan kewaspadaan. Tri Yuswidjajanto Zaenuri, dosen Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara ITB, menilai klaim bahan bakar seperti Bobibos harus diuji secara komprehensif.
“Masyarakat harus berhati-hati dalam masalah bahan bakar seperti ini,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa pengujian Lemigas diperlukan, termasuk uji fisika-kimia, dyno test, dan uji emisi sejauh 1.000 kilometer.
“Benar tidak klaimnya rendah emisi, dan apakah memenuhi regulasi Euro 4,” katanya. Jika terbukti aman, lanjutnya, Bobibos justru bisa membawa kesejahteraan baru bagi petani karena bahan bakunya berasal dari jerami.
Universitas Negeri Surabaya (Unesa) pun menilai kehadiran Bobibos sebagai fenomena menarik. Dalam laman resminya, Unesa menyebut, “Klaim performa dan emisi rendah dari Bobibos menawarkan harapan pada masalah energi dan kualitas udara di Indonesia.”
Namun mereka juga mengingatkan bahwa biofuel memiliki karakter kimia berbeda dari bensin fosil, seperti kandungan oksigen yang lebih tinggi dan potensi korosi. Karena itu, uji kompatibilitas material kendaraan dan emisi jangka panjang mutlak dilakukan sebelum dipasarkan luas.
Harapan Baru dari Sawah
Di tengah perdebatan itu, semangat Ikhlas Thamrin tak luntur. Ia menegaskan Bobibos bukan sekadar inovasi energi, tetapi gerakan sosial. “Bobibos bukan sekadar bahan bakar, tapi simbol harapan. Kami ingin sawah Indonesia bisa menghasilkan pangan sekaligus energi,” katanya.
Dengan menggunakan jerami sebagai bahan utama, ia berharap petani tak lagi bergantung pada harga gabah. “Bagaimana bahan baku ini kita cari yang melimpah, supaya tidak perlu menyuruh masyarakat menanam. Basisnya sawah menghasilkan padi dan jerami, itu yang kita manfaatkan,” ujarnya.
Jika riset ini berhasil dan mendapat restu pemerintah, Bobibos bisa menjadi tonggak sejarah — energi yang bukan hanya bersumber dari alam, tapi juga dari ayat suci yang menyalakan inspirasi.
“Allah menjadikan api dari kayu yang hijau,” begitu bunyi ayatnya. Kini, dari jerami di sawah dan riset anak negeri, api itu mungkin benar-benar mulai menyala — memberi cahaya baru bagi masa depan energi Indonesia.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










