bukamata.id – Di sebuah sudut kota pesisir di Ghana, kegelisahan yang sempat dibangun dengan penuh keyakinan perlahan berubah menjadi bara api—secara harfiah maupun metaforis. Dalam beberapa bulan terakhir, nama Ebo Noah, pria yang mengeklaim dirinya sebagai nabi dan dikenal juga sebagai Ebo Jesus, menyusup ke dalam percakapan keluarga, khutbah pinggir jalan, hingga layar ponsel warga Afrika Barat. Ia tidak hanya menawarkan harapan di tengah ketidakpastian, tetapi juga janji keselamatan dalam bentuk paling kuno dan paling simbolis: bahtera kayu, kapal yang dimaksudkan untuk menyelamatkan mereka yang percaya pada ramalannya tentang kiamat.
Namun, kisah ini tidak berhenti pada janji keselamatan. Justru, ia semakin kompleks ketika sebuah bangunan terbakar—dibakar dengan sengaja oleh seorang pria yang merasa keluarganya telah ditarik terlalu jauh ke dalam pusaran keyakinan ekstrem.
Api Amarah dan Salah Sasaran
Aksi pembakaran yang mengguncang publik itu bermula dari keyakinan si pria bahwa istrinya dan anggota keluarganya tengah terseret doktrin keagamaan berlebihan yang dibawa oleh Noah. Mereka, menurut saksi, telah menyingkirkan sebagian barang-barang, meninggalkan kehidupan lama, lalu pindah mendekati bangunan yang mereka yakini sebagai bahtera penjaga keselamatan. Keyakinan itu memicu kecemasan dan amarah dalam diri sang suami—yang merasa keluarganya telah dikuasai ketakutan dan manipulasi emosional.
Dalam puncak emosinya, ia menuangkan bensin dan menyalakan api, berharap dapat memutus pengaruh yang, menurutnya, telah merenggut keluarganya. Namun, ironi membara setelah kobaran mereda: bangunan yang ia bakar sama sekali bukan kapal Ebo Noah, melainkan struktur lain yang tak berkaitan. Api tidak hanya meninggalkan puing, tetapi juga rasa sesal dan kegamangan—seolah peristiwa itu melambangkan betapa kaburnya batas antara keyakinan dan kesesatan.
Nubuat yang Ditunda, Harapan yang Digeser
Sebelumnya, Ebo Noah sempat menarik perhatian publik. Pria yang mengaku nabi itu menunda tanggal kiamat yang ia klaim akan terjadi pada 25 Desember 2025, bertepatan dengan perayaan Natal. Jika sebelumnya banyak pengikut menanti dalam ketegangan—sebagian bersiap naik kapal kayu, sebagian menyimpan bekal dan doa—hari itu berlalu dengan tenang. Tidak ada hujan yang mengguyur tanpa henti. Tidak ada gelombang besar yang merobek daratan. Tidak ada banjir yang menelan kota-kota.
Yang tersisa justru bisikan dan tawa getir: apakah harapan telah berubah menjadi lelucon?
Namun Noah punya penjelasan: Tuhan memberi waktu tambahan agar ia bisa membangun lebih banyak kapal, karena jumlah orang yang ingin diselamatkan jauh membludak melebihi prediksinya. Ia mengaku telah membuat sekitar sepuluh kapal kayu dan menargetkan setiap kapal mampu menampung ribuan pengikut. Permintaan waktu tambahan itu, katanya, bentuk kasih Tuhan—bukan kegagalan nubuat.
Arus Pengikut, Arus Keraguan
Sebelum tanggal yang dijanjikan tiba, pengaruh Noah telah menembus batas-batas desa dan kota. Video khutbahnya berseliweran di TikTok, Facebook, dan grup WhatsApp. Ia berbicara dengan penuh keyakinan tentang pertobatan dan keselamatan, sementara warga dari berbagai wilayah mulai bergerak menuju Ghana, membawa tas, pakaian, bahkan perhiasan yang dijual demi meraih tempat dalam bahtera kayu.
Bagi sebagian, kehadiran Noah menawarkan sesuatu yang sulit dijelaskan: arah, rasa tujuan, tempat berpijak, di tengah dunia yang terasa semakin tak menentu. Harga kebutuhan pokok naik, konflik lokal berkecamuk, dan masa depan tampak seperti langit yang tak bisa diprediksi. Dalam konteks itu, janji keselamatan menjadi komoditas yang tak ternilai.
Namun setelah Natal lewat tanpa badai besar, retakan mulai terlihat. Keyakinan yang semula kokoh mulai digerogoti tanya.
Mercedes-Benz di Tengah Kayu yang Setengah Jadi
Pukulan telak bagi kredibilitas Noah datang bukan dari air bah, melainkan dari kilau logam perak Mercedes-Benz B-Class baru. Sebuah video viral memperlihatkan Noah turun dari mobil itu dengan pakaian karung goni lusuh—pakaian yang semakin tampak seperti kostum daripada simbol kesederhanaan.
Pertanyaan meledak:
“Jika dunia akan tenggelam, mengapa membeli mobil, bukan kapal?”
“Ke mana perginya donasi bahtera?”
“Tuhan suruh bangun bahtera atau beli Benz?”
Berkas-berkas curiga pun muncul, terutama dari mantan donatur yang merasa pengorbanan mereka tak berbuah keselamatan apa pun—bahkan bahtera yang dijanjikan tak terlihat siap berlayar.
Noah menyangkal melakukan kesalahan. Namun ketika ditanya apakah mobil dibeli dengan donasi, ia tidak pernah memberi jawaban jelas. Transparansi dana? Tidak ada. Laporan penggunaan uang? Tidak tersedia. Yang ada hanyalah keyakinan—dan keyakinan itu mulai rapuh.
Antara Iman dan Manipulasi
Fenomena Ebo Noah tidak hanya menggugah pertanyaan tentang benar atau salahnya nubuat, tetapi juga menyingkap kerentanan manusia dalam menghadapi ketidakpastian. Ketika hidup menekan dari segala arah, harapan bisa menjadi jangkar, bahkan jika jangkar itu tertanam di tanah yang goyah.
Bagi sebagian pengikut, Noah memberikan sesuatu yang tak ditemukan dalam rutinitas: alasan untuk percaya. Tetapi ketika kepercayaan dibangun tanpa batasan dan tanpa pengawasan, ia bisa berubah menjadi alat yang menggerakkan massa—atau meruntuhkannya.
Kini, kapal-kapal kayu itu masih berdiri sebagai rangka setengah jadi di tepi pelabuhan. Sementara itu, Mercedes yang sama dikabarkan melaju di jalanan Akra, meninggalkan bahtera yang belum berfungsi—sebuah metafora yang terlalu kuat untuk diabaikan.
Luka yang Tertinggal
Insiden pembakaran salah sasaran, penundaan kiamat, dan kontroversi donasi tidak hanya memecah kepercayaan publik, tetapi juga memecah keluarga—seperti keluarga pria yang membakar bangunan itu. Pihak berwenang kini memantau situasi agar konflik tidak semakin membara, tetapi luka sosial sudah terlanjur tercetak di hati banyak orang.
Dan di antara puing kayu, abu keyakinan, serta kilau mobil mewah, pertanyaan yang menggantung tak kunjung surut:
Jika dunia memang akan berakhir, mengapa yang melaju justru mobil—bukan bahtera?
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











