bukamata.id – Program pengiriman siswa bermasalah ke barak militer yang digagas Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi—akrab disapa Kang Dedi Mulyadi (KDM)—dikabarkan akan segera disetop setelah gelombang kedua rampung. Kebijakan yang sempat menyita perhatian publik ini kini tengah dievaluasi oleh Dinas Pendidikan Jawa Barat (Disdik Jabar).
Informasi penghentian program tersebut mengemuka usai DPRD Jawa Barat mengadakan pembahasan bersama Disdik. Fokus saat ini beralih pada penyusunan kurikulum muatan lokal (mulok) baru sebagai alternatif pendidikan karakter di tingkat SMA dan SMK sederajat.
“Disdik Jabar sekarang lagi mengkaji kurikulum muatan lokal (mulok) pendidikan karakter Panca Waluya mau dimasukkan ke mulok di setiap sekolah,” ujar anggota DPRD Jabar, Hasbullah Rahmat, saat dikonfirmasi pada Sabtu (28/6/2025).
Namun, kata Hasbullah, jika sekolah ingin tetap memberikan pelatihan karakter, mereka bisa mengundang dari TNI. Nantinya, para prajurit melatih siswa cara baris-berbaris hingga kedisiplinan. Serta melibatkan Polri untuk edukasi hukum.
“Jadi anak-anak akan tahu kalau misalnya dia lakukan melanggar hukum, itu hukumannya berapa lama. Terus, kalau terjerat atau bersinggungan dengan barang haram, apa hukuman dan konsekuensinya. Jadi anak-anak paham betul jika bersinggungan dengan masalah hukum,” beber Hasbullah.
Sementara itu, redaksi berusaha mengonfirmasi hal tersebut kepada Kepala Disdik Jabar, Purwanto. Namun hingga berita ini dimuat belum ada respons dari bersangkutan.
Program yang Menuai Kontroversi
Sejak diluncurkan pada 1 Mei 2025, program barak militer ini telah mengirimkan total 360 siswa dari berbagai daerah seperti Bogor, Depok, dan Cianjur. Peserta merupakan siswa dengan perilaku menyimpang, seperti terlibat tawuran, merokok, mengonsumsi alkohol, hingga menggunakan knalpot brong.
Namun tak sedikit yang mengkritik program ini. Banyak kalangan menilai bahwa pendekatan militeristik tidak menyentuh akar masalah perilaku pelajar dan dianggap sulit untuk diterapkan secara berkelanjutan karena faktor anggaran yang tinggi.
Kebijakan ini kembali mendapat sorotan usai gelombang kedua diberangkatkan pada 8 Juni lalu, dengan jumlah peserta sebanyak 88 siswa.
Wacana Perluasan ke Siswa Berprestasi
Menariknya, Gubernur Dedi Mulyadi sempat menyatakan bahwa program ini tak hanya ditujukan bagi pelajar bermasalah. Ke depan, ia berencana mengikutsertakan siswa berprestasi agar mereka juga dapat merasakan pendidikan karakter yang sama.
Langkah ini disebut sebagai bentuk pemerataan pembentukan karakter, terlepas dari latar belakang perilaku siswa.
Meski demikian, dengan bergesernya fokus ke penguatan kurikulum Panca Waluya, masa depan program barak militer ini pun tampaknya tinggal menghitung hari. Disdik Jabar kini disorot publik untuk memastikan pendekatan baru dalam pendidikan karakter benar-benar efektif dan inklusif.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










