bukamata.id – Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Denpasar meningkatkan langkah antisipasi terhadap potensi masuknya Virus Nipah ke Bali, terutama melalui jalur penerbangan dari India. Penguatan pengawasan dilakukan setelah otoritas setempat mengonfirmasi adanya kasus di negara tersebut.
Arus penumpang dari India menuju Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai terbilang tinggi. Dalam satu hari, jumlah kedatangan rata-rata mencapai 500 hingga 600 orang. Sepanjang Januari 2026 saja, tercatat sebanyak 19.635 penumpang melakukan perjalanan keluar-masuk rute Bali–India menggunakan maskapai Air India dan IndiGo.
“Terutama karena virus ini terjadi di India kita fokus ke India, tetapi semua penerbangan tetap diantisipasi ya,” kata Kepala BBKK Denpasar Heri Saputra dilansir dari Antara.
Meski perhatian utama tertuju pada penerbangan dari India, BBKK Denpasar menegaskan bahwa pengawasan tidak hanya terbatas pada satu rute. Mobilitas masyarakat Asia yang tinggi membuat potensi penyebaran penyakit lebih sulit dipetakan.
“Secara kewaspadaan tetap semua penerbangan karena bisa jadi orang India ke Singapura atau ke Malaysia, dari Malaysia ke sini. Namun, karena yang saat ini terjangkit India, kami fokus penerbangan India,” ujar Heri Saputra.
Sebagai langkah pencegahan awal, petugas melakukan pemeriksaan suhu tubuh seluruh penumpang internasional menggunakan thermal scanner yang terpasang di area kedatangan. Saat ini tersedia tiga alat pemindai suhu, masing-masing dua di terminal internasional dan satu di terminal domestik.
“Gejala awal biasanya demam tinggi, berkisar 37,5 derajat atau 38 derajat,” ucapnya.
Apabila ditemukan penumpang dengan suhu tinggi atau menunjukkan tanda-tanda yang mengarah pada infeksi Virus Nipah, petugas akan langsung melakukan pemeriksaan lanjutan di area terpisah. Riwayat perjalanan akan ditelusuri, sementara sampel kesehatan akan diambil untuk diuji di laboratorium rujukan di Surabaya, terlebih jika muncul keluhan tambahan seperti sesak napas atau nyeri otot.
“Misalnya ada gejala kritis akan kami rujuk ke RS Prof Ngoerah. Kami akan periksa apakah dia benar-benar positif Virus Nipah atau karena sakit biasa,” imbuhnya.
Menurut Heri, kesiapan fasilitas kesehatan di Bali menjadi salah satu faktor penting dalam menghadapi potensi kasus. Rumah sakit pemerintah telah dilengkapi ruang isolasi untuk penanganan pasien yang perlu dikarantina. Ia pun mengimbau masyarakat agar tidak menunda pemeriksaan apabila merasakan gejala mencurigakan.
Virus Nipah sendiri tergolong berbahaya karena dapat memicu radang otak, dengan tingkat kematian dilaporkan mencapai 45 hingga 75 persen.
Selain pengawasan di pintu masuk, BBKK Denpasar juga mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dalam aktivitas sehari-hari. Warga diminta menghindari konsumsi buah yang memiliki bekas gigitan kelelawar serta memastikan buah dicuci dan dikupas sebelum dimakan.
Bagi pelaku perjalanan, terutama yang baru kembali dari India atau wilayah terdampak, penerapan perilaku hidup bersih dan sehat sangat dianjurkan.
“Paling penting segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala penyakit Nipah pasca-kepulangan dari India,” tuturnya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










