bukamata.id – Lubang besar itu muncul begitu saja, memecah hamparan sawah yang selama ini tenang di Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat (Sumbar). Tidak ada tanda-tanda alam yang mencolok, tak hujan deras, tak gempa yang terasa. Namun pada Minggu siang, 4 Januari 2026, tanah yang selama ini menopang kehidupan petani mendadak runtuh, membentuk sebuah sinkhole yang kini menjadi pusat perhatian banyak orang.
Awalnya, lubang amblas itu hanya mengundang rasa terkejut dan waswas. Sawah milik Adrolmios alias Si Ad (61), seorang petani setempat, mendadak berubah rupa. Tanah yang tengah ia garap tiba-tiba ambles, meninggalkan rongga besar dengan diameter mencapai sekitar 10 meter. Dalam waktu singkat, kabar itu menyebar ke kampung-kampung sekitar.
Namun hari-hari berikutnya, suasana berubah. Lubang amblas itu tak lagi sekadar dianggap sebagai ancaman, melainkan juga menjadi magnet baru bagi warga. Dari pagi hingga sore, orang-orang datang berbondong-bondong, bukan hanya untuk melihat, tetapi juga untuk mengambil air yang keluar dari dasar sinkhole.
Wali Jorong Tepi, Salmi, menyebutkan bahwa fenomena ini berkembang di luar dugaan. Ketertarikan warga tidak hanya didorong oleh rasa penasaran terhadap kejadian alam yang langka, tetapi juga oleh keyakinan tertentu yang tumbuh di tengah masyarakat.
“Pengunjung datang berbondong-bondong untuk mengambil air dari lubang sinkhole. Mereka meyakini air tersebut bisa menyembuhkan penyakit,” ujar Salmi saat memberikan keterangan kepada media, dikutip Jumat (9/1/2026).
Keyakinan tersebut menyebar cepat dari mulut ke mulut. Sebagian warga membawa pulang air dalam botol dan jeriken, berharap air yang mereka ambil bisa membawa manfaat kesehatan. Ada yang mengaitkannya dengan kesembuhan penyakit kulit, ada pula yang percaya air tersebut mampu mengatasi keluhan tertentu. Meski tidak ada bukti medis yang mendukung klaim tersebut, antusiasme masyarakat justru terus meningkat.
Antara Antusiasme dan Risiko
Di balik ramainya kunjungan, ancaman bahaya tetap mengintai. Lokasi sinkhole berada di area yang tanahnya masih labil. Retakan terlihat jelas di sekeliling lubang, menandakan pergerakan tanah yang belum sepenuhnya berhenti. Kondisi ini membuat aparat dan pengelola setempat berada dalam posisi dilematis: di satu sisi harus menjaga keselamatan, di sisi lain menghadapi antusiasme warga yang sulit dibendung.
Salmi mengakui, pada awalnya warga mengambil air langsung dari tepi lubang. Namun hal tersebut dinilai sangat berisiko. Tanah di sekitar sinkhole dapat amblas sewaktu-waktu, apalagi jika menahan beban banyak orang.
“Karena di sekitar lokasi terdapat banyak retakan, sekarang disediakan pipa sebagai saluran air agar pengunjung lebih aman saat mengambil air,” jelasnya.
Pipa itu dipasang untuk mengalirkan air dari pusat sinkhole ke titik yang lebih stabil dan mudah dijangkau. Langkah ini diambil sebagai bentuk mitigasi darurat, agar warga tidak berdiri terlalu dekat dengan bibir lubang yang rapuh.
Selain itu, pengelola juga memberlakukan sistem sedekah sukarela. Tidak ada tarif atau pungutan resmi. Warga yang datang diperbolehkan memberi sumbangan sesuai kemampuan mereka.
“Pengunjung boleh bersedekah seikhlasnya, itu digunakan untuk membeli plastik dan kebutuhan lainnya,” tambah Salmi.
Air Asam, Tapi Tetap Diburu
Hasil pengecekan awal menunjukkan bahwa air dari sinkhole tersebut memiliki kadar pH sekitar 5,4. Angka ini berada di bawah pH netral 7, yang berarti air cenderung bersifat asam. Secara ilmiah, kondisi tersebut justru tidak ideal untuk dikonsumsi langsung tanpa pengolahan.
Namun fakta ini tidak menyurutkan minat warga. Banyak yang tetap datang, membawa keyakinan masing-masing. Fenomena ini memperlihatkan bagaimana kepercayaan lokal kerap tumbuh di tengah situasi darurat, terutama ketika berhadapan dengan kejadian alam yang tak biasa.
Keunikan visual sinkhole turut memperkuat daya tariknya. Air yang semula berwarna cokelat keruh perlahan berubah menjadi biru kehijauan, menyerupai telaga kecil di tengah sawah. Perubahan warna itu menjadi pemandangan yang jarang terlihat, memancing warga untuk memotret dan merekamnya, lalu menyebarkannya di media sosial.
Penjelasan Ilmiah dari Ahli
Di tengah beredarnya berbagai spekulasi, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memberikan penjelasan resmi. Menurut para ahli, peristiwa amblesnya tanah di Jorong Tepi tidak berkaitan dengan runtuhan batu kapur, sebagaimana yang lazim terjadi pada sinkhole klasik.
Lubang tersebut terbentuk akibat proses erosi bawah tanah. Aliran air di bawah permukaan secara perlahan menggerus material tanah hingga membentuk rongga. Ketika lapisan atas tak lagi mampu menahan beban, tanah pun runtuh secara tiba-tiba.
Tim geologi menjelaskan bahwa lokasi tersebut tersusun atas endapan lapukan batuan vulkanik berupa tuf batu apung, bukan batuan kapur. Material semacam ini relatif rapuh dan mudah tergerus air, sehingga berpotensi mengalami keruntuhan jika terjadi aliran air bawah tanah yang terus-menerus.
Upaya Pengamanan dan Peringatan
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Limapuluh Kota telah mengeluarkan peringatan agar warga tidak mendekati area sinkhole. Aparat kepolisian bersama pihak terkait memasang garis pengaman di sekitar lokasi untuk membatasi akses.
BPBD menegaskan bahwa tanah di sekitar lubang masih bergerak. Risiko amblasan susulan tetap ada, terutama jika terjadi hujan atau penambahan beban di sekitar area retakan.
Fenomena alam seperti ini, meski menarik perhatian, menyimpan potensi bahaya besar. Sinkhole bisa membesar, tepiannya bisa runtuh, dan siapa pun yang berada terlalu dekat berisiko terperosok.
Di Antara Mitos dan Sains
Di banyak daerah, kemunculan lubang amblas kerap dikaitkan dengan cerita mistis atau tanda-tanda tertentu. Namun para ahli menegaskan bahwa sinkhole adalah proses alamiah, terutama di wilayah dengan struktur tanah tertentu dan dinamika air bawah tanah yang aktif.
Kasus di Situjuah Batua menjadi contoh nyata bagaimana fenomena geologi dapat bersinggungan dengan kepercayaan masyarakat. Di satu sisi, sains menjelaskan proses terjadinya. Di sisi lain, keyakinan lokal memberi makna tersendiri terhadap air yang muncul dari perut bumi.
Kini, sinkhole di Jorong Tepi bukan hanya menjadi lubang di tengah sawah, tetapi juga simbol pertemuan antara rasa ingin tahu, harapan, dan risiko. Di balik air yang diyakini membawa kesembuhan, tersimpan peringatan keras tentang kekuatan alam yang tak selalu ramah.
Pihak berwenang terus memantau perkembangan situasi, sementara warga diminta untuk tetap waspada. Sebab, di tengah kekaguman pada fenomena langka, keselamatan tetap menjadi hal yang tidak boleh diabaikan.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










