bukamara.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang pemerintah untuk meningkatkan asupan gizi pelajar kini menjadi sorotan publik. Alih-alih menyehatkan, sejumlah wilayah di Indonesia justru melaporkan kejadian luar biasa (KLB) keracunan massal akibat konsumsi makanan dari program tersebut.
Ribuan siswa dilaporkan mengalami gejala seperti mual, muntah, pusing, nyeri perut, hingga sesak napas setelah menyantap makanan MBG. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran besar bagi para orang tua serta menambah trauma bagi anak-anak yang menjadi korban.
Pemerintah Lakukan Evaluasi
Badan Gizi Nasional (BGN) bersama instansi terkait kini turun tangan untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap distribusi makanan MBG. Pemeriksaan kualitas bahan, standar kebersihan, hingga rantai distribusi dipantau ketat agar kejadian serupa tidak terulang.
Di sejumlah daerah, pelaksanaan program MBG bahkan dihentikan sementara sebagai langkah pencegahan. Pemerintah menegaskan bahwa keselamatan dan kesehatan pelajar adalah prioritas utama.
Data Kasus Keracunan MBG di Berbagai Daerah
Hingga akhir September 2025, berikut catatan kasus keracunan MBG yang dihimpun dari berbagai sumber resmi:
Jawa Barat
- Kabupaten Bandung Barat (Cipongkor): lebih dari 1.000 siswa.
- Kota Bandung (SPPG Coblong): 320 siswa.
- Kabupaten Sukabumi (SPPG): 503 siswa.
- Cianjur: 21 siswa.
- Data Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI): total 2.012 kasus di Jawa Barat.
Sumatera
- Lampung (SPPG): 503 siswa.
- Bengkulu (Lebong Sakti): 467 siswa.
- Sumatera Selatan (Lemat Ilir): puluhan siswa.
- Total di Sumatera: 1.281 kasus.
Sulawesi
- Banggai Kepulauan: lebih dari 250 siswa.
DIY Yogyakarta
- JPPI mencatat 1.047 siswa keracunan.
Total Nasional
- Data BGN: 4.711 kasus keracunan MBG di seluruh Indonesia.
- Wilayah I (Sumatera): 1.281 kasus.
- Wilayah II (Jawa): 2.606 kasus.
- Wilayah III (Kalimantan, Sulawesi, Indonesia Timur): 824 kasus.
- Data JPPI per 21 September 2025: 6.452 kasus keracunan MBG di 16 provinsi.
Sorotan Publik
Kasus ini menimbulkan desakan agar pemerintah memperketat pengawasan, mulai dari pemilihan vendor penyedia makanan hingga distribusi di sekolah. Program MBG dianggap baik untuk meningkatkan gizi anak bangsa, namun penerapan tanpa standar keamanan yang kuat justru berpotensi menimbulkan masalah kesehatan yang serius.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










