bukamata.id – Serangkaian citra satelit terbaru mengungkap dampak dari serangan udara yang dilancarkan Amerika Serikat terhadap fasilitas nuklir Fordow milik Iran. Namun, keaslian dan interpretasi citra tersebut menjadi bahan perdebatan di kalangan pakar.
Menurut David Albright, mantan inspektur Perserikatan Bangsa-Bangsa yang kini memimpin Institute for Science and International Security, klaim Washington mengenai keberhasilan penggunaan bom penghancur bunker jenis GBU-57/B MOP justru menimbulkan tanda tanya besar.
“Jika memang bom seberat hampir 14 ton itu digunakan, seharusnya kerusakan yang ditimbulkan jauh lebih signifikan. Namun, citra yang terlihat hanya menunjukkan lubang-lubang yang mencurigakan, bukan kehancuran menyeluruh,” ujar Albright.
Pendapat senada juga datang dari Decker Eveleth, peneliti dari CNA Corporation. Ia menyatakan bahwa tidak ada bukti kuat bahwa area bawah tanah Fordow yang menyimpan ratusan sentrifugal berhasil dihancurkan.
Di tengah tekanan militer, Iran dilaporkan telah mengantisipasi serangan sejak dini dengan memindahkan sebagian besar program nuklir mereka ke lokasi yang lebih dalam dan terlindungi, termasuk ke dalam pegunungan sekitar Fordow. Meski begitu, kegagalan menghentikan fasilitas ini bisa berarti bahwa Teheran masih memiliki kemampuan untuk melanjutkan program nuklirnya.
Lebih lanjut, laporan dari sumber di Teheran menyebutkan bahwa sebagian besar uranium yang telah diperkaya hingga level 60 persen—mendekati tingkat senjata—telah dipindahkan ke lokasi rahasia sebelum serangan diluncurkan. Hal ini semakin mempersulit pengawasan internasional, termasuk oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA), serta memperkuat kekhawatiran Israel dan AS.
Sementara itu, Maxar Technologies merilis citra satelit yang memperlihatkan antrean kendaraan di luar fasilitas Fordow pada 19 dan 20 Juni, memicu spekulasi tentang aktivitas yang tidak biasa di dalam kompleks tersebut.
Jeffrey Lewis dari Middlebury Institute memperingatkan bahwa masih ada kemungkinan Iran memiliki fasilitas nuklir tersembunyi yang belum diketahui dunia internasional. Senator AS Mark Kelly bahkan menyebut bahwa program nuklir Iran bisa saja berlangsung di luar pengawasan, bukan sekadar di bawah tanah.
Dalam pernyataan terpisah, Jenderal Dan Caine, Ketua Kepala Staf Gabungan AS, mengonfirmasi bahwa tujuh pesawat pembom siluman B-2 digunakan dalam operasi bertajuk Midnight Hammer, yang menargetkan tidak hanya Fordow, tetapi juga kompleks pengayaan uranium utama di Natanz dan pusat riset di Isfahan. Masing-masing jet menjatuhkan dua bom penghancur bunker, dengan klaim bahwa kerusakan parah telah terjadi, meski detailnya tidak diungkap.
Ketegangan ini kian meningkat setelah Iran mengonfirmasi bahwa lebih dari 600 warga sipil tewas dan ribuan lainnya terluka akibat serangan militer Israel sejak pertengahan Juni. Dalam kondisi geopolitik yang kian panas, Parlemen Iran dikabarkan tengah mempertimbangkan untuk menarik diri dari Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT), yang akan memutuskan kerja sama dengan IAEA dan meningkatkan kekhawatiran akan potensi pengembangan senjata nuklir secara terbuka.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










