bukamata.id – Ayah tiri Alvaro Kiano Nugroho (6), bocah yang hilang selama delapan bulan sebelum ditemukan meninggal dunia, dikabarkan tewas bunuh diri di Rumah Tahanan Polres Metro Jakarta Selatan.
Informasi tersebut disampaikan langsung oleh keluarga korban pada Minggu (23/11/2025) malam.
“Ya, pelakunya ternyata ayah tirinya. Ayah tirinya sekarang sudah bunuh diri, meninggal di Polres Jakarta Selatan,” ujar Tugimin, kakek korban, kepada wartawan.
Hal serupa disampaikan nenek Alvaro, Sayem. Ia mengaku menerima kabar bahwa tersangka bernama Alex meninggal dunia pada Sabtu (21/11/2025) pagi.
“Katanya bunuh diri di Polres dekat Blok M itu. Sudah dikubur di Tangerang,” ujarnya, Senin (24/11/2025).
Kematian Tersangka Belum Dikonfirmasi Polisi
Menurut keluarga, Alex ditangkap pada Rabu (19/11/2025) malam, hanya beberapa hari sebelum kabar kematiannya terungkap. Namun hingga kini, pihak kepolisian belum memberikan keterangan resmi terkait penyebab kematian tersangka.
Kapolres Metro Jakarta Selatan, Kombes Pol Nicolas Ary Lilipaly, sebelumnya membenarkan bahwa ayah tiri Alvaro telah ditetapkan sebagai tersangka pembunuhan.
“Pelaku adalah ayah tirinya Alvaro,” ujarnya singkat.
Ketika dimintai klarifikasi tambahan mengenai kematian tersangka, Nicolas belum bisa berkomentar karena sedang mengikuti Apel Kasatwil di Cikeas hingga Rabu (26/11/2025).
Kapolsek Pesanggrahan, AKP Seala Syah Alam, juga belum dapat memastikan informasi yang disampaikan keluarga.
“Nanti polres yang akan memberikan info lengkapnya,” katanya melalui pesan singkat.
Polisi Dalami Penemuan Kerangka Diduga Milik Alvaro
Di sisi lain, penyidik masih mendalami penemuan kerangka manusia di wilayah Pesanggrahan yang diduga kuat merupakan jasad Alvaro. Saat ini, tes DNA tengah dilakukan untuk memastikan identitas kerangka secara ilmiah.
Alvaro dilaporkan hilang sejak Kamis, 6 Maret 2025, setelah pamit melaksanakan salat Magrib di Masjid Al-Muflihun, Ulujami, Pesanggrahan. Sejak hari itu, keberadaannya tidak diketahui hingga akhirnya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia delapan bulan kemudian.
Proses pencarian sempat terhambat karena rekaman CCTV di sekitar lokasi hilangnya Alvaro otomatis terhapus setiap hari, serta laporan keluarga yang tidak dilakukan pada hari kejadian, sehingga membuat pengumpulan bukti awal menjadi sulit.
Polisi menyatakan masih terus menerima informasi dari saksi, pihak sekolah, keluarga, serta pesan melalui media sosial dan saluran aduan Kapolsek untuk mengungkap tuntas kasus ini.
Sementara itu, Tugimin (71), kakek Alvaro, sejak awal menduga cucunya menjadi korban penculikan oleh seorang pria yang mengaku sebagai ayah kandung Alvaro. Dugaan tersebut kini kembali ditelusuri seiring pendalaman penyidikan.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











