Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Anti Berisik! 5 Kafe Tersembunyi di Bandung Ini Bikin Kerja Makin Fokus

Senin, 2 November 2026 03:00 WIB
Cara cek bansos PKH tahap 4 2025 pakai KTP.

Cuma Modal KTP! Begini Cara Cek Bansos PKH dan BPNT November 2026

Senin, 2 November 2026 01:00 WIB

Sejarah Baru! Veda Ega Pratama Raih Hasil Terbaik di Moto3 Malaysia 2026

Minggu, 1 November 2026 20:03 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Anti Berisik! 5 Kafe Tersembunyi di Bandung Ini Bikin Kerja Makin Fokus
  • Cuma Modal KTP! Begini Cara Cek Bansos PKH dan BPNT November 2026
  • Sejarah Baru! Veda Ega Pratama Raih Hasil Terbaik di Moto3 Malaysia 2026
  • Laskar Prabowo 08 Jabar Rapatkan Barisan, Siap Perang Lawan Hoaks
  • Penantian 8 Tahun! dr. Gia Pratama Menangis Dengar Detak Jantung Calon Buah Hati
  • Menalo Brace, Klok Gol Indah! Persib Tempel Ketat Persija
  • Bisnis Live Pornografi Raup Rp 750 Juta, Polda Jabar Tangkap 2 Tersangka
  • Persib Menggila! Unggul 3-0 atas Kalteng FC di Babak Pertama
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Senin, 2 November 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Tingginya PHK di Jabar, Dedi Mulyadi Soroti Kualitas SDM dan Koneksi Ordal

By Muhammad Rafki Razif KiransyahKamis, 22 Januari 2026 19:17 WIB3 Mins Read
Ribuan pencari kerja memadati acara bursa kerja yang digelar Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Bekasi di Gedung Presiden University, Cikarang Utara, Selasa (27/5/2025). Foto: Ist.
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Angka pemutusan hubungan kerja (PHK) di Jawa Barat yang tercatat sebagai tertinggi di Indonesia kembali menjadi sorotan. Isu ini mencuat dalam pertemuan di Hotel Holiday Inn, Kamis (22/1/2026), saat Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, memberikan penjelasan panjang mengenai dinamika ketenagakerjaan di provinsi dengan basis industri terbesar di Tanah Air tersebut.

Menurut Dedi, persoalan PHK tidak bisa dibaca secara hitam-putih. Ia menilai, perlu ada pembedaan tegas antara perusahaan yang menghentikan operasional dan mem-PHK pekerja, dengan arus investasi baru yang justru membuka lapangan kerja.

“PHK itu adalah perusahaan yang sudah berdiri lalu menghentikan lapangan kerja. Sementara investasi adalah dana yang masuk dan merekrut karyawan baru. Yang di-PHK bisa jadi ada yang bekerja lagi, bisa juga tidak. Tapi jangan disamakan,” ujar Dedi.

Ia menjelaskan, data yang kerap muncul ke publik sering kali merupakan akumulasi angka masuknya tenaga kerja baru dari investasi, bukan semata data perusahaan yang tutup.

Baca Juga:  Dedi Mulyadi Pastikan Tak Ada Ampun Bagi Penyunat Kompensasi Sopir Angkot Puncak Bogor

“Kalau ada PHK, berarti ada data investasi yang keluar. Tapi kan juga ada yang masuk. Nah, angka sekian itu biasanya data yang masuk yang baru,” katanya.

Namun di balik itu, Dedi mengakui ada persoalan struktural yang lebih dalam, yakni keterputusan antara dunia industri dan kualitas angkatan kerja lokal Jawa Barat.

Menurutnya, salah satu masalah utama adalah tidak semua lowongan kerja di industri diisi oleh angkatan kerja yang tercatat dalam database Jawa Barat. Banyak posisi, terutama di kelas menengah industri, justru diisi tenaga kerja dari luar daerah.

“Problem di Jawa Barat itu ketika perusahaan merekrut, yang masuk tidak semua dari angkatan kerja yang tersedia di Jawa Barat. Banyak yang dari luar,” ucapnya.

Ia mencontohkan, latar belakang manajemen perusahaan sering berpengaruh pada komposisi tenaga kerja, atau bisa dibilang koneksi orang dalam (ordal).

Baca Juga:  TPA Ciwangun Segera Dibongkar Usai Resmi Jadi Aset Pemprov Jabar, Begini Nasib Para Pekerja

“Kalau manajernya orang Garut, pasti banyak bawa orang Garut. Kalau manajernya orang luar Jawa Barat, dia juga bawa orang dari kampungnya. Maka yang harus diisi itu kelas menengah industrinya,” jelas Dedi.

Dari situlah, Pemprov Jabar, kata dia, mendorong penguatan pendidikan vokasi dan sekolah kejuruan yang lebih spesifik dan terhubung langsung dengan kebutuhan industri.

“Makanya program diploma tiga dibiayai, sekolah-sekolah kejuruan diperbanyak, yang spesifik. Itu sebenarnya untuk menjawab angkatan kerja kelas menengah,” katanya.

Meski demikian, Dedi menegaskan pemerintah daerah tidak bisa membuat aturan yang mewajibkan perusahaan merekrut warga lokal karena terbentur Undang-Undang Ketenagakerjaan.

“Enggak boleh bikin ketentuan begitu. Di undang-undang ketenagakerjaan tidak boleh ada diskriminasi. Jadi yang bisa dilakukan itu pendekatan sosial, misalnya memprioritaskan warga sekitar,” ujarnya.

Lebih jauh, Dedi juga menyinggung cara pandang terhadap angkatan kerja yang selama ini masih terlalu sempit dan berorientasi pada sektor formal.

Baca Juga:  KDM Minta Bobotoh Tak ke Jakarta, Ada Pesan Khusus Jelang Persib vs Persija

“Sekarang jangan selalu menghitung angkatan kerja itu orang yang bekerja di industri formal. Banyak anak muda hari ini bekerja di sektor nonformal, konten kreator, usaha kecil, pedagang keliling, usaha kafe. Bisa jadi di data BPS dia pengangguran, padahal dia berpenghasilan,” katanya.

Menurut Dedi, definisi produktivitas ke depan harus lebih menekankan pada keberadaan penghasilan, bukan semata status kerja formal.

“Bagi saya, angkatan kerja yang produktif itu mereka yang berpenghasilan, bukan hanya mereka yang bekerja di sektor formal,” tutupnya.

Pernyataan ini sekaligus menunjukkan bahwa persoalan ketenagakerjaan di Jawa Barat tidak bisa hanya dijawab dengan narasi investasi dan penyerapan tenaga kerja. Di tengah tingginya angka PHK, tantangan sesungguhnya justru terletak pada pembenahan kualitas SDM, koneksi pendidikan dengan industri, serta keberpihakan sistem ketenagakerjaan agar warga lokal dapat diserap menjadi tenaga kerja.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Dedi Mulyadi investasi
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Cara cek bansos PKH tahap 4 2025 pakai KTP.

Cuma Modal KTP! Begini Cara Cek Bansos PKH dan BPNT November 2026

Laskar Prabowo 08 Jabar Rapatkan Barisan, Siap Perang Lawan Hoaks

Ilustrasi video syur

Bisnis Live Pornografi Raup Rp 750 Juta, Polda Jabar Tangkap 2 Tersangka

Diduga Mabuk, Pemotor 15 Tahun Hilang Kendali di Jalan AH Nasution

Diduga Microsleep! Brio Seruduk 3 Kendaraan di Depan UIN Bandung

bsu.kemnaker.go.id untuk mengecek penerima BSU 2025 secara resmi dari Kemnaker.

Bansos November 2026 Cair! Satu Keluarga Bisa Dapat Rp1,5 Juta Lebih

Terpopuler
  • Ruang Bicara Resmi Berdiri di Bandung, Hadir Sebagai Wadah Anak Muda Bertumbuh dan Berdampak
  • Gelar Tabligh Akbar, Pemuda Pancasila Jabar Usung Semangat Gaya Baru di HUT ke-67
  • Pengurus DPC PKB Kabupaten Bandung Dikukuhkan, Dadang Supriatna Mulai Jaring Caleg 2029
  • KHW 400 OTW Layar Lebar? Heboh Rumah Produksi Daftarkan Judul Film Mirip Konten Nadia Omara!
  • Diduga Microsleep! Brio Seruduk 3 Kendaraan di Depan UIN Bandung
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.