bukamata.id – Ujungberung, atau kerap disebut Uber, merupakan salah satu kecamatan di wilayah timur Kota Bandung yang dikenal sebagai pusat perkembangan musik underground di Indonesia.
Sejumlah band ternama seperti Burgerkill, Forgotten, dan Jasad lahir dari komunitas musik cadas yang tumbuh dan berkembang di daerah ini. Tak heran jika Ujungberung menjadi ikon musik metal dan underground tanah air.
Namun Ujungberung tak hanya dikenal karena kiprah komunitas musiknya. Wilayah ini juga memiliki kekayaan budaya lokal, salah satunya adalah Benjang, seni bela diri tradisional Sunda yang berasal langsung dari kawasan ini.
Benjang kini menjadi identitas kultural Ujungberung dan masih terus dilestarikan hingga kini.
Tiga ikon utama yang menjadi pusat keramaian dan aktivitas warga Ujungberung adalah alun-alun, masjid besar, dan pasar tradisional yang letaknya berdekatan dan saling terhubung. Ketiganya menjadi simbol kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat di wilayah ini.
Secara administratif, Kecamatan Ujungberung merupakan hasil pemekaran wilayah sejak tahun 1987, sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 16 Tahun 1987.
Asal-Usul Nama Ujungberung
Nama “Ujungberung” memiliki makna mendalam dalam Bahasa Sunda. Kata “ujung” berarti “akhir”, sedangkan “berung” berasal dari kata “ngaberung”, yang artinya mengikuti hawa nafsu. Secara harfiah, Ujungberung berarti “akhir dari sebuah nafsu”.
Terdapat beberapa versi legenda terkait asal-usul nama ini. Salah satunya berkaitan dengan kisah pengejaran terhadap Dipati Ukur, seorang tokoh pejuang Sunda yang dikejar oleh pasukan Mataram.
Dalam pelariannya, ia dan rombongannya sampai di wilayah timur Bandung yang kala itu masih berupa tepian danau purba, ditumbuhi bambu lebat, dan dikenal dengan nama Bojong Awi. Di sanalah, pengejaran berakhir, menjadi simbol akhir dari nafsu pengejaran tersebut.
Versi lain mengaitkan nama Ujungberung dengan legenda Sangkuriang yang mencoba mempersunting Dayang Sumbi, ibu kandungnya sendiri.
Ketika keinginan itu tak tercapai, usaha Sangkuriang pun berhenti di satu titik yang kemudian dikenal sebagai Ujungberung, tempat di mana hasrat atau “nafsu” Sangkuriang mencapai akhirnya.
Ujungberung dalam Catatan Sejarah Kolonial
Pada masa penjajahan Belanda, wilayah Ujungberung dilintasi Jalan Raya Pos (De Grote Postweg) yang dibangun pada tahun 1811 oleh Daendels.
Saat itu, Ujungberung mencakup wilayah luas dari Cimahi hingga Cileunyi, dan dibagi menjadi dua bagian: Oedjoengbroeng Kaler di bagian pegunungan, dan Oedjoengbroeng Kidoel di kawasan rawa-rawa.
Kini, Ujungberung tetap menjadi kawasan penting di Kota Bandung, baik sebagai pusat budaya, musik, maupun sejarah yang terus hidup di tengah modernisasi.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









