Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Lepas Saat Dijemur, Pitbull Ngamuk Serang Anak 9 Tahun di Arjasari Bandung

Senin, 24 Agustus 2026 09:40 WIB
Game Free Fire

Banjir Item Gratis! Deretan Kode Redeem Free Fire Terbaru Hari Ini 24 Agustus 2026

Senin, 24 Agustus 2026 09:29 WIB

Harga Emas Antam Hari Ini 24 Agustus 2026 Stabil, 1 Gram Tembus Rp2,78 Juta di Pegadaian

Senin, 24 Agustus 2026 09:28 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Lepas Saat Dijemur, Pitbull Ngamuk Serang Anak 9 Tahun di Arjasari Bandung
  • Banjir Item Gratis! Deretan Kode Redeem Free Fire Terbaru Hari Ini 24 Agustus 2026
  • Harga Emas Antam Hari Ini 24 Agustus 2026 Stabil, 1 Gram Tembus Rp2,78 Juta di Pegadaian
  • Loyalis Fanatik Mulai Tergerus, Warga Makin Berani Kritik Dedi Mulyadi!
  • BPNT Agustus 2026 Cair Rp600 Ribu? Cek Jadwal dan Status Penerima Pakai NIK KTP
  • GBLA Disimpan untuk Liga, Persib Pilih Si Jalak Harupat Kontra Manila Digger di ACL Two
  • NIK KTP Bisa Dicek! Begini Cara Cek Bansos Agustus 2026 lewat Situs Resmi Kemensos
  • BMI Demokrat Jabar All Out Dukung Anton Sukartono, Siap Kawal Musda VI hingga Periode 2031
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Senin, 24 Agustus 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Usulan Hutan Permanen di Pasirlangu Dinilai Efisien, Pakar Ingatkan Kebijakan Harus Berbasis Risiko, Bukan Uang!

By Muhammad Rafki Razif KiransyahMinggu, 25 Januari 2026 16:30 WIB3 Mins Read
Longsor di Desa Pasirlangu, Bandung Barat. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Wacana penghutanan permanen di kawasan rawan longsor Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, yang digulirkan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, dinilai dapat menjadi langkah efisien secara ekonomi jika benar-benar didasarkan pada tingkat risiko kebencanaan.

Pakar ekonomi Universitas Islam Nusantara (Uninus), Mochammad Rizaldy Insan Baihaqqy, menegaskan bahwa efisiensi tidak boleh dimaknai sempit sebagai penghematan anggaran, melainkan sebagai upaya mencegah kerugian sosial dan ekonomi yang terus berulang.

“Kalau lahannya memang terbukti zona merah atau rawan tinggi berulang, maka secara ekonomi itu bisa efisien karena kita menghindari kerugian besar yang kemungkinan berulang, untuk para warga atau petani yang sedang melakukan kegiatan ekonomi di sana,” ujar Rizaldy saat diwawancarai, Minggu (25/1/2026).

Namun, menurutnya, pilihan kebijakan tidak harus selalu ekstrem antara “ditutup total” atau “dibiarkan”. Ia menyebut ada jalan tengah yang lebih realistis dan berkelanjutan.

Baca Juga:  Studi Tour Hanya Jadi Beban, Dedi Mulyadi Prioritaskan Kesejahteraan Rakyat

“Sebenarnya ada jalan tengah yang realistis, yaitu zonasi berbasis risiko. Pertanian berbasis konservasi. Bukan tanam paprika di lereng telanjang, tapi kombinasi tanaman penahan, terasering, drainase, dan aturan kemiringan. Jadi di-combine semuanya,” jelasnya.

Selain itu, ia menekankan pentingnya relokasi yang tidak berhenti pada pemindahan manusia semata.

“Kemudian relokasi lahan budidaya. Jadi ini bukan hanya relokasi orang, tetapi petani dipindah ke lahan yang lebih aman, plus akses air dan irigasi, plus kepastian garap,” katanya.

Menurut Rizaldy, prinsip utama yang harus dipegang pemerintah adalah menjadikan peta risiko sebagai fondasi kebijakan.

Baca Juga:  Profil Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat Terpilih 2025-2030

“Intinya efisiensi kalau risikonya memang ekstrem. Tapi kebijakannya harus berbasis peta risiko, bukan berbasis ekonomi,” tegasnya.

Lebih jauh, Rizaldy mengingatkan bahwa jika kawasan benar-benar ditetapkan sebagai hutan permanen, persoalan paling sensitif justru ada pada nasib petani.

“Ini yang paling sensitif. Petani ini bukan sekadar pindah lokasi, mereka itu harus pindah ekosistem ekonomi,” ujarnya.

Ia menjelaskan, petani tidak hanya kehilangan lahan, tetapi juga jaringan produksi dan distribusi yang selama ini menopang hidup mereka.

“Harus pindah ekosistem ekonomi, antara lain jaringan pemasok bibit dan pupuk,” katanya.

Karena itu, ia menilai skema kompensasi satu kali tidak akan cukup untuk menutup kerugian jangka panjang.

Baca Juga:  Efisiensi Anggaran Capai 5 Triliun, Ini Rencana Dedi Mulyadi

“Biasanya tidak cukup kalau kompensasinya hanya sekali bayar. Opportunity cost petani itu jangka panjang: pendapatan tahunan, aset produksi, akses pasar, dan nilai jaringan,” jelas Rizaldy.

Ia menegaskan, jika relokasi dan penghutanan permanen dipilih, negara harus hadir bukan hanya sebagai pemberi santunan, tetapi penjamin transisi ekonomi.

“Jadi kompensasi itu bukan sekadar uang pindah, tapi jaminan hidup sampai ekonomi barunya berjalan,” pungkasnya.

Bencana longsor di Pasirlangu kembali menegaskan bahwa kebijakan tata ruang di wilayah rawan tidak cukup disusun dengan pendekatan teknis semata. Ia menuntut keberanian politik untuk melindungi keselamatan, sekaligus kepekaan sosial agar perlindungan ekologis tidak berubah menjadi pemutusan sumber hidup masyarakat.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Dedi Mulyadi longsor Cisarua
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Lepas Saat Dijemur, Pitbull Ngamuk Serang Anak 9 Tahun di Arjasari Bandung

Loyalis Fanatik Mulai Tergerus, Warga Makin Berani Kritik Dedi Mulyadi!

Cara cek bansos PKH tahap 4 2025 pakai KTP.

BPNT Agustus 2026 Cair Rp600 Ribu? Cek Jadwal dan Status Penerima Pakai NIK KTP

bsu.kemnaker.go.id untuk mengecek penerima BSU 2025 secara resmi dari Kemnaker.

NIK KTP Bisa Dicek! Begini Cara Cek Bansos Agustus 2026 lewat Situs Resmi Kemensos

BMI Demokrat Jabar All Out Dukung Anton Sukartono, Siap Kawal Musda VI hingga Periode 2031

Mesin Politik Mulai Dipanaskan! PRI Bidik 13 Kursi DPR RI dari Jawa Barat

Terpopuler
  • Deretan Kode Redeem FF 19 Agustus 2026: Amankan Evolution Stone dan Skin Spesial Kemerdekaan!
  • Mengenang 50 Tahun Kebersamaan, Alumni ITB 76 Unjuk Budaya Lokal Lewat Karnaval Sisingaan di Bandung
  • Garena Free Fire
    Kode Redeem FF Terbaru 21 Agustus 2026: Serbu Evolution Stone dan Skin Senjata Gratis!
  • Jabar Masih Dibelit Masalah, Kehadiran Dedi Mulyadi di NTT Dinilai Tak Urgent
  • Inikah Tahun Terparah? 1.487 Titik Api Kepung Kalimantan, Jeritan Warga di Bawah Langit Merah!
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.