Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Update OB54C Resmi Hadir! Ini Cara Klaim Kode Redeem FF 19 Juni 2026 Sebelum Hangus

Jumat, 19 Juni 2026 17:07 WIB

Topeng Normalitas sang Buronan: Membaca Kelihaian Pelaku Penyekap Wanita Bandung yang Licin dari Kepungan Polisi

Jumat, 19 Juni 2026 16:34 WIB

Pemain Persib Ini Ternyata Jagokan Portugal Selain Brasil, Alasannya Bikin Kagum

Jumat, 19 Juni 2026 16:30 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Update OB54C Resmi Hadir! Ini Cara Klaim Kode Redeem FF 19 Juni 2026 Sebelum Hangus
  • Topeng Normalitas sang Buronan: Membaca Kelihaian Pelaku Penyekap Wanita Bandung yang Licin dari Kepungan Polisi
  • Pemain Persib Ini Ternyata Jagokan Portugal Selain Brasil, Alasannya Bikin Kagum
  • Pemadaman PLN Bikin Traffic Light Bandung Lumpuh, Ini Dampaknya
  • Viral di Media Sosial Video Full Durasi, Siapa Sebenarnya Cut Salwa? Ini Faktanya
  • Detik-detik Mencekam Ojol Diburu Begal Bersenjata di Lengkong, Korban Luka Parah!
  • Pikiran yang Anggun, Keberanian yang Tajam: Mengenal Lebih Dekat Fatimah Azzahra, Singa Intelektual dari Salemba
  • Tragedi di Tengah Pesta Gol! Kaki Ismael Kone Diduga Patah Usai Tekel Brutal Lawan Qatar
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Jumat, 19 Juni 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Usulan Hutan Permanen di Pasirlangu Dinilai Efisien, Pakar Ingatkan Kebijakan Harus Berbasis Risiko, Bukan Uang!

By Muhammad Rafki Razif KiransyahMinggu, 25 Januari 2026 16:30 WIB3 Mins Read
Longsor di Desa Pasirlangu, Bandung Barat. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Wacana penghutanan permanen di kawasan rawan longsor Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, yang digulirkan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, dinilai dapat menjadi langkah efisien secara ekonomi jika benar-benar didasarkan pada tingkat risiko kebencanaan.

Pakar ekonomi Universitas Islam Nusantara (Uninus), Mochammad Rizaldy Insan Baihaqqy, menegaskan bahwa efisiensi tidak boleh dimaknai sempit sebagai penghematan anggaran, melainkan sebagai upaya mencegah kerugian sosial dan ekonomi yang terus berulang.

“Kalau lahannya memang terbukti zona merah atau rawan tinggi berulang, maka secara ekonomi itu bisa efisien karena kita menghindari kerugian besar yang kemungkinan berulang, untuk para warga atau petani yang sedang melakukan kegiatan ekonomi di sana,” ujar Rizaldy saat diwawancarai, Minggu (25/1/2026).

Namun, menurutnya, pilihan kebijakan tidak harus selalu ekstrem antara “ditutup total” atau “dibiarkan”. Ia menyebut ada jalan tengah yang lebih realistis dan berkelanjutan.

Baca Juga:  Dedi Mulyadi Imbau Warga Jaga Kondusivitas, Tolak Aksi Anarkis

“Sebenarnya ada jalan tengah yang realistis, yaitu zonasi berbasis risiko. Pertanian berbasis konservasi. Bukan tanam paprika di lereng telanjang, tapi kombinasi tanaman penahan, terasering, drainase, dan aturan kemiringan. Jadi di-combine semuanya,” jelasnya.

Selain itu, ia menekankan pentingnya relokasi yang tidak berhenti pada pemindahan manusia semata.

“Kemudian relokasi lahan budidaya. Jadi ini bukan hanya relokasi orang, tetapi petani dipindah ke lahan yang lebih aman, plus akses air dan irigasi, plus kepastian garap,” katanya.

Menurut Rizaldy, prinsip utama yang harus dipegang pemerintah adalah menjadikan peta risiko sebagai fondasi kebijakan.

Baca Juga:  Jabar Luncurkan BPJS Ketenagakerjaan untuk Pekerja Informal, Target 3 Juta Peserta

“Intinya efisiensi kalau risikonya memang ekstrem. Tapi kebijakannya harus berbasis peta risiko, bukan berbasis ekonomi,” tegasnya.

Lebih jauh, Rizaldy mengingatkan bahwa jika kawasan benar-benar ditetapkan sebagai hutan permanen, persoalan paling sensitif justru ada pada nasib petani.

“Ini yang paling sensitif. Petani ini bukan sekadar pindah lokasi, mereka itu harus pindah ekosistem ekonomi,” ujarnya.

Ia menjelaskan, petani tidak hanya kehilangan lahan, tetapi juga jaringan produksi dan distribusi yang selama ini menopang hidup mereka.

“Harus pindah ekosistem ekonomi, antara lain jaringan pemasok bibit dan pupuk,” katanya.

Karena itu, ia menilai skema kompensasi satu kali tidak akan cukup untuk menutup kerugian jangka panjang.

Baca Juga:  Waspada Provokasi! Pesan Menohok Dedi Mulyadi untuk Bobotoh Usai Menang Drama Lawan Persija

“Biasanya tidak cukup kalau kompensasinya hanya sekali bayar. Opportunity cost petani itu jangka panjang: pendapatan tahunan, aset produksi, akses pasar, dan nilai jaringan,” jelas Rizaldy.

Ia menegaskan, jika relokasi dan penghutanan permanen dipilih, negara harus hadir bukan hanya sebagai pemberi santunan, tetapi penjamin transisi ekonomi.

“Jadi kompensasi itu bukan sekadar uang pindah, tapi jaminan hidup sampai ekonomi barunya berjalan,” pungkasnya.

Bencana longsor di Pasirlangu kembali menegaskan bahwa kebijakan tata ruang di wilayah rawan tidak cukup disusun dengan pendekatan teknis semata. Ia menuntut keberanian politik untuk melindungi keselamatan, sekaligus kepekaan sosial agar perlindungan ekologis tidak berubah menjadi pemutusan sumber hidup masyarakat.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Dedi Mulyadi efisiensi ekonomi bencana kebijakan berbasis risiko konservasi lereng gunung longsor Cisarua penghutanan permanen Pasirlangu relokasi petani tata ruang rawan bencana
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Topeng Normalitas sang Buronan: Membaca Kelihaian Pelaku Penyekap Wanita Bandung yang Licin dari Kepungan Polisi

Padam Listrik

Pemadaman PLN Bikin Traffic Light Bandung Lumpuh, Ini Dampaknya

Begal

Detik-detik Mencekam Ojol Diburu Begal Bersenjata di Lengkong, Korban Luka Parah!

Pikiran yang Anggun, Keberanian yang Tajam: Mengenal Lebih Dekat Fatimah Azzahra, Singa Intelektual dari Salemba

Padam Listrik

Pemadaman Listrik Bandung 19 Juni 2026, Ini Daftar Wilayah Terdampak PLN UP3

Kasus Pembunuhan Sadis Paoman Memasuki Babak Akhir, Ririn Terancam Dieksekusi Mati

Terpopuler
  • Heboh Cut Salwa Viral! Warganet Ramai Cari Link Video ‘No Sensor’, Begini Fakta yang Terungkap
  • Hilang 3 Tahun, Wanita Bandung Ditemukan dengan Wajah Hancur! Diduga Disekap Kekasih Sendiri
  • Perkuat Edukasi dan Aksi Sosial, Yayasan Jalan Surga Gandeng bukamata.id Sebarkan Nilai Kebaikan
  • Heboh Video Cut Salwa Viral! Warganet Penasaran, Sebenarnya Isinya Apa?
  • Merasa Ditipu Janji Manis Asuransi, Mantan Pangdam Ngamuk Saldo Rp520 Juta Terjun Bebas Jadi Rp263 Juta
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.