bukamata.id – Kayu gelondongan berbagai ukuran berputar, menghantam apa pun yang dilewatinya. Arus deras membawa batang-batang besar itu menerjang rumah, lahan pertanian, kendaraan, hingga manusia dan satwa yang tak sempat menyelamatkan diri.
Dalam hitungan menit, permukiman yang tadinya utuh berubah menjadi puing. Begitulah gambaran bencana banjir bandang dan longsor yang meluluhlantakkan wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir November 2025.
Per 30 November 2025, 442 orang dinyatakan meninggal dunia dan 402 orang masih hilang. Bencana hidrometeorologi ini disebut banyak pihak sebagai peringatan keras bahwa kerusakan lingkungan di Indonesia semakin berada di titik kritis.
Di saat publik berduka, sebuah video lama Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi kembali muncul dan viral. Video tersebut memperlihatkan pernyataannya empat tahun lalu tentang ancaman bencana besar di luar Pulau Jawa akibat eksploitasi hutan dan perubahan fungsi kawasan konservasi. Banyak warganet menyebut prediksi itu kini benar-benar terjadi.
Peringatan Dedi Mulyadi yang Kembali Menggema
Dalam video Instagram @dedimulyadi71 yang kembali beredar, Dedi Mulyadi yang pada saat itu menjabat sebagai Anggota Komisi VI DPR RI Periode 2019-2024 menegaskan bahwa bencana hidrometeorologi yang melanda sejumlah wilayah luar Jawa bukanlah kejadian tiba-tiba.
Ia menilai, kerusakan ekosistem yang berlangsung bertahun-tahun dan pengelolaan ruang yang keliru sudah lama memantik ancaman tersebut.
Dalam sebuah pernyataan yang kini kembali ramai diperbincangkan, Dedi mengungkap bahwa empat tahun lalu ia telah mengingatkan sejumlah kementerian agar berhati-hati mengutak-atik kawasan hutan, terutama yang berstatus lindung.
Saat itu, Dedi menyampaikan kekhawatirannya di tengah maraknya wacana alih fungsi hutan untuk proyek-proyek pangan skala besar seperti food estate.
‘Logika Pengelolaan Hutan Harus Lurus’
Menurut Dedi, pemimpin sektor kehutanan seharusnya memegang teguh prinsip konservasi. Ia mengkritik keras gagasan yang membuka peluang mengubah hutan lindung menjadi lahan budidaya pangan.
“Logika Menteri Kehutanan itu satu: mempertahankan hutan, menjaga konservasi. Tidak boleh bicara yang lain dulu. Urusan pertanian ya ranahnya Menteri Pertanian,” tegasnya.
Ia memperingatkan, bila setiap pejabat dapat mengutak-atik batas kewenangan dan prinsip konservasi, maka hutan akan diperlakukan seperti lahan kosong yang mudah ditukar. Menurutnya, pola pikir seperti itu hanya memacu kerusakan ekologis.
Konteks Jawa Barat: ‘Bandung Selatan, Garut, Bandung Utara Sudah Hancur’
Dedi menyinggung beberapa kawasan di Jawa Barat yang sebelumnya telah mengalami bencana berulang akibat perubahan tata guna lahan, seperti masifnya penanaman kentang, kol, dan komoditas hortikultura lain di lereng curam.
“Coba tunjukkan wilayah yang tidak mengalami longsor setelah penanaman kentang, cabai, kol. Bandung Selatan sudah rusak, Garut Selatan hancur, Bandung Utara pun rusak,” ujarnya.
Menurutnya, pengalaman pahit tersebut seharusnya menjadi pelajaran nasional agar kerusakan ekologis tidak menular ke pulau-pulau lain, terutama Sumatera dan Kalimantan yang kini menghadapi bencana serupa.
Dari Jawa ke Sumatera dan Kalimantan: ‘Mau menunggu kehancuran di mana lagi?’
Pernyataan Dedi kembali menjadi sorotan setelah serangkaian bencana besar melanda Sumatera dan Kalimantan pada 2025. Ia menyebut bahwa kerusakan di wilayah-wilayah tersebut merupakan konsekuensi dari pembukaan lahan yang tidak terkendali dan lemahnya regulasi.
“Kita mau menunggu kehancuran di mana lagi? Mau dilebarkan ke Kalimantan? Mau dilebarkan ke Sumatera? Tidak cukupkah musibah yang dialami orang Jawa?” kata Dedi.
Ia menilai kerusakan yang terjadi merupakan warning serius bagi pemerintah pusat agar tidak mengulang kesalahan yang sama di wilayah lain.
Mindset Baru Pengelolaan Lingkungan
Dedi menekankan pentingnya mengubah cara pandang para pengambil kebijakan. Menurutnya, Indonesia tidak boleh dikelola secara pragmatis hanya demi keuntungan jangka pendek atau proyek tertentu.
“Mindset seperti ini harus diubah. Negeri ini harus berkesinambungan, tidak berhenti di kita. Menteri boleh berganti, presiden boleh berganti, tapi Indonesia harus terus maju.”
Ia menegaskan bahwa keberlanjutan negara bergantung pada kemampuan menjaga alam sebagai fondasi kehidupan.
Dukungan Warganet Mengalir Deras untuk Dedi Mulyadi, Komentar Memuji Konsistensi Sikapnya
Dukungan masyarakat terus mengalir deras kepada Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, setelah pernyataannya yang kembali menyoroti pentingnya menjaga alam dan menolak kebijakan yang dianggap merugikan masyarakat.
Di media sosial, khususnya Instagram, kolom komentarnya dipenuhi respons positif dari warganet yang mengapresiasi konsistensi sikapnya sejak lama.
Sejumlah komentar yang dikutip dari akun Instagram Dedi Mulyadi memperlihatkan antusiasme publik.
“Keren bapak Aing, konsisten dari dulu,” tulis akun @did***. Komentar lain juga menunjukkan dukungan serupa, “Cakep Pak, kami dukung,” ungkap @arn*.
Tak sedikit pula warganet yang menyinggung elite politik lain. “Mereka elit politik cuma mikirin cuan untuk mendapatkan free bla bla tanpa mikirin efek ke rakyat,” tulis akun @arn***.
Sementara itu, komentar dari @agu*** menambahkan, “Yes, kadang orang hanya ingin meraih keuntungan sesaat tanpa mikirin masa depan untuk kehidupan berikutnya dari alam.”
Beberapa pengguna Instagram juga mengingatkan bahwa Dedi Mulyadi sudah sejak lama menyuarakan hal serupa.
“Waktu zaman masih muda sudah beliau ingatkan padahal,” ungkap @gus*. Komentar lainnya datang dari @and* yang menuliskan, “Pak KDM 4 tahun yang lalu sudah menyampaikan… Sekarang terjadi, Sumatra dan Kalimantan terkena bencana…”
Dukungan besar dari warganet ini menunjukkan bahwa pesan lingkungan dan keberpihakan kepada rakyat masih menjadi isu penting bagi publik.
Selain itu, banyak yang menilai bahwa konsistensi Dedi Mulyadi dalam menyuarakan isu tersebut menjadi alasan kuat mengapa ia terus mendapatkan simpati dan kepercayaan masyarakat.
Skala Bencana: 442 Korban Jiwa, 402 Hilang
Data terbaru Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan bahwa bencana hidrometeorologi kali ini termasuk yang terbesar dalam satu dekade terakhir.
Data korban per 30 November 2025:
- 442 meninggal dunia
- 402 hilang
- Ratusan luka-luka
- Puluhan ribu warga mengungsi
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menyampaikan bahwa operasi pencarian dan pertolongan masih berlangsung di berbagai daerah yang aksesnya terputus.
Sumatera Utara: Korban Terbanyak, Akses Darat Lumpuh di Banyak Titik
Di Sumatera Utara, jumlah korban meninggal mencapai 217 jiwa, sementara 209 orang masih hilang. Korban tersebar di:
- Tapanuli Tengah
- Tapanuli Selatan
- Kota Sibolga
- Tapanuli Utara
- Humbang Hasundutan
- Pakpak Bharat
- Padang Sidempuan
- Deli Serdang
- Nias
Kondisi Akses
Banyak jalan provinsi dan nasional mengalami longsor:
- Ruas Tarutung–Sibolga terputus di beberapa titik
- Lebih dari 12.000 jiwa terdampak belum dapat dijangkau
- Ruas Singkuang–Tabuyung dan Batang Natal–Muara Batang Gadis tak bisa dilalui
Tim gabungan mengerahkan alat berat untuk membuka akses, sementara helikopter BNPB dan TNI mendistribusikan logistik untuk wilayah yang benar-benar terisolasi.
Provinsi Aceh: 96 Meninggal, 75 Hilang, 62.000 KK Mengungsi
Aceh menjadi wilayah paling luas dampaknya. BNPB mencatat:
- 96 jiwa meninggal
- 75 hilang
- 62.000 KK mengungsi
Daerah yang paling terdampak meliputi Bener Meriah, Pidie Jaya, Aceh Tengah, Bireuen, hingga Gayo Lues dan Aceh Tenggara.
Akses Masih Terputus
- Perbatasan Sumut–Aceh Tamiang terputus
- Jembatan Meureudu roboh
- Ruas nasional di Gayo Lues, Aceh Tengah, dan Bener Meriah ambruk diterjang banjir
BNPB memasang perangkat komunikasi darurat Starlink di berbagai titik untuk menjaga kelancaran koordinasi.
Sumatera Barat: 129 Meninggal, 118 Hilang, 77.918 Jiwa Mengungsi
Wilayah Sumbar mencatat:
- 129 jiwa meninggal
- 118 hilang
- 77.918 warga mengungsi
Sebaran korban meliputi Agam, Padang Panjang, Padang, Tanah Datar, Pasaman Barat, Pesisir Selatan, dan sejumlah kabupaten lainnya.
Ruas Jalan Terputus di Banyak Titik
- Koto Mambang–Balingka
- Pasar Baru–Alahan Panjang
- Panti–Simpang IV
- Jalur nasional Padang Panjang–Sicincin
Pengiriman logistik dilakukan lewat jalur darat, udara, dan laut. Bantuan Presiden berupa puluhan perangkat Starlink, genset, perahu karet, dan ribuan paket pangan telah tiba di Padang.
Upaya Pemerintah: Fokus pada Pencarian, Pembukaan Akses, dan Distribusi Logistik
BNPB bersama TNI/Polri, Kementerian PUPR, Kemenhub, Basarnas, serta pemerintah daerah mengerahkan:
- Lima helikopter BNPB dan TNI
- Pesawat Caravan untuk OMC (Operasi Modifikasi Cuaca)
- Ratusan alat berat
- Ribuan personel gabungan
Distribusi logistik memasuki tahap dua, termasuk pengiriman lebih dari 120 ton bantuan ke Sumbar dan bantuan menyeluruh ke Sumut dan Aceh.
BNPB memastikan update perkembangan disampaikan berkala, terutama terkait korban hilang dan kondisi akses.
Penutup
Tragedi banjir bandang dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir November 2025 kembali membuka mata bahwa Indonesia berada dalam kondisi darurat ekologis yang tidak bisa lagi dipandang sebagai kejadian alam semata.
Ratusan nyawa melayang, ribuan keluarga kehilangan tempat tinggal, dan sejumlah wilayah terputus total akibat rusaknya ekosistem yang selama ini menjadi tameng alami masyarakat.
Pernyataan Dedi Mulyadi yang kembali viral bukan sekadar kritik, tetapi cermin bahwa peringatan para pemimpin daerah, akademisi, dan aktivis lingkungan selama ini kerap diabaikan.
Ketika kerusakan demi kerusakan semakin meluas dari Jawa hingga Sumatera dan Kalimantan, tuntutan untuk mengubah paradigma pembangunan menjadi semakin mendesak.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











