bukamata.id – Suasana Ramadan di Jombang mendadak ramai diperbincangkan karena aksi sahur on the road (SOTR) yang viral di media sosial. Gelaran pawai sepeda motor ini diiringi sound horeg dan penampilan penari berpakaian ketat, yang dinilai tidak pantas di bulan suci.
Video kegiatan tersebut ramai beredar di TikTok, menarik perhatian publik hingga menuai kritik warganet.
Dalam rekaman yang tersebar, terlihat ribuan peserta konvoi sepeda motor mengiringi sound system besar milik Aprelia Production. Mereka melintasi jalan kampung hingga area persawahan sejak dini hari hingga matahari terbit.
Sorotan utama warganet tertuju pada penari yang meliuk mengikuti dentuman musik dan sesekali menerima saweran dari penonton. Banyak yang menilai aksi tersebut tidak sejalan dengan nuansa Ramadan.
Kejadian Tanpa Izin di Jombang
Peristiwa ini terjadi di jalan penghubung Desa Jatibanjar, Kecamatan Ploso dengan Desa Sumbergondang, Kecamatan Kabuh, pada Minggu, 22 Februari 2026 pagi. Kapolsek Ploso, Achmad Chairuddin, menegaskan kegiatan tersebut digelar tanpa izin dari kepolisian maupun pemerintah desa.
“Tanpa izin, kami juga tidak mengizinkan. Termasuk kepala desa juga tidak tahu, tahunya dari warga,” tegas Chairuddin saat dikonfirmasi, Senin (23/2/2026).
Menurut Chairuddin, kejadian serupa pernah terjadi pada Minggu pertama Ramadan 2025. Saat itu, pihak kepolisian melakukan langkah pencegahan sehingga kegiatan tidak berlanjut di pekan berikutnya. Untuk Ramadan 2026, aparat menjamin tindakan antisipatif akan dilakukan agar kejadian serupa tidak terulang.
Imbauan Kepolisian dan Pemerintah
Kapolres Jombang, AKBP Ardi Kurniawan, mengimbau masyarakat agar tidak menggelar kegiatan yang berpotensi mengganggu keamanan dan ketertiban selama bulan suci.
“Ke depan, Minggu pagi kami antisipasi patroli gabungan dengan Polsek Kabuh dan melibatkan pemerintah desa. Kami imbau masyarakat, kalau jalan-jalan pagi setelah sahur, tidak usah pakai sound,” jelas Chairuddin.
Chairuddin juga menyoroti penampilan penari yang dianggap tidak sesuai dengan nuansa Ramadan. “Informasinya itu spontan, itu diduga waria, tapi tidak etis puasa-puasa seperti itu,” tandasnya.
Tradisi vs Etika Ramadan
Peristiwa ini kembali memunculkan perdebatan soal batas hiburan dan penghormatan terhadap momen keagamaan. Tradisi SOTR sering dianggap bagian dari euforia sahur bersama, tetapi masyarakat berharap aktivitas tersebut tetap menjaga ketertiban dan kesopanan, terutama di bulan Ramadan yang sarat makna spiritual.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











