Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Farhan Sebut Miras, Obat-obatan, dan Judi Online Jadi Pemicu Utama Kriminalitas di Bandung Raya

Kamis, 23 Juli 2026 19:34 WIB

Jadwal Lengkap dan Peta Kekuatan Timnas Indonesia di Grup A ASEAN Cup 2026

Kamis, 23 Juli 2026 19:30 WIB
Cara cek bansos PKH tahap 4 2025 pakai KTP.

Cuma Modal NIK KTP! Cek Sekarang Apakah Anda Terdaftar Penerima Bansos Juli 2026

Kamis, 23 Juli 2026 19:04 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Farhan Sebut Miras, Obat-obatan, dan Judi Online Jadi Pemicu Utama Kriminalitas di Bandung Raya
  • Jadwal Lengkap dan Peta Kekuatan Timnas Indonesia di Grup A ASEAN Cup 2026
  • Cuma Modal NIK KTP! Cek Sekarang Apakah Anda Terdaftar Penerima Bansos Juli 2026
  • Igor Tolic Belum Puas? Persib Buka Pintu Transfer Lagi Usai Piala Presiden 2026
  • Dorong Mahasiswa KIP Kuliah Mandiri, Ledia Hanifa Gelar Kompetisi Proposal Bisnis
  • Proyek PLTP Patuha Unit 2 Capai Fase Vital: Mobilisasi Komponen Generator Sukses Digelar
  • Nasib Eks Pengurus GKI Taman Cibunut Ditentukan Senin, Sidang Praperadilan Hampir Berakhir
  • Ketika Nasihat Berbuah Polemik: Menelisik Profil Ustaz Syam dan Riuh Sorotan Nikahan Nathalie
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Kamis, 23 Juli 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Harus Pulang atau Tetap di Luar? Ilmuan Jepang Ini Beri Sindiran Halus untuk Alumni LPDP

By SusanaSelasa, 24 Februari 2026 10:31 WIB4 Mins Read
Sastia Prama Putri, diaspora Indonesia yang telah 21 tahun tinggal di Jepang. Foto: Instagram @sas.tiaputri.
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Sorotan publik terhadap Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) tengah menguat. Namun kali ini, perbincangan tidak berkisar pada tips lolos seleksi atau strategi wawancara.

Isu yang berkembang justru menyentuh hal lebih sensitif: dugaan tumpang tindih profil penerima beasiswa serta komitmen pengabdian para alumni (awardee) setelah menyelesaikan studi.

Di tengah riuhnya diskusi itu, muncul satu nama yang ramai diperbincangkan warganet. Ia bukan awardee LPDP, tetapi kisahnya dianggap relevan untuk menjawab pertanyaan mendasar: apakah pengabdian kepada Indonesia selalu harus dilakukan dengan pulang dan menetap di tanah air?

Diaspora yang Memilih Tetap WNI

Sastia Prama Putri, diaspora Indonesia yang telah 21 tahun tinggal di Jepang, membagikan kebanggaannya karena tetap mempertahankan paspor Indonesia. Melalui unggahannya, ia menegaskan identitasnya sebagai Warga Negara Indonesia meski telah lama menetap di luar negeri.

“Membantu tempe mendunia lewat inovasi anak bangsa, meningkatkan ekspor komoditas prioritas Indonesia ke Jepang, mendidik puluhan mahasiswa Indonesia yang sudah dan akan kembali ke tanah air,” tulisnya di akun Instagram @sas.tiaputri.

Langkah tersebut menuai respons luas. Warganet menilai, sikapnya menjadi contoh bahwa nasionalisme tidak selalu diukur dari lokasi geografis.

Komentar yang dikutip dari kolom Instagram @pandemictalks, Senin (24/2/2026), memperlihatkan dukungan publik.

“Jangan pernah lelah mencintai Indonesia di manapun berada… Keep loving Indonesia,” tulis akun @bob***.

“Nah ini bener. Mengharumkan nama bangsa,” komentar @vin***.

“Bentuk pengabdian gak harus pulang ke Indo juga kan. Mendukung Indo dari luar,” tambah akun @ros***.

Narasi tersebut mengemuka beriringan dengan perdebatan tentang kewajiban kembali dan kontribusi nyata para penerima beasiswa negara.

Dari ITB ke Osaka University

Perjalanan akademik Sastia dimulai di Institut Teknologi Bandung (ITB), Program Studi Biologi. Lulus pada 2004, ia berangkat ke Jepang sebagai research trainee. Saat itu, ia tak pernah membayangkan akan menjadi ilmuwan Indonesia pertama yang meraih penghargaan bergengsi di Negeri Sakura.

Pada 2024, ia menerima Ando Momofuku Award kategori Invention Discovery Encouragement Award. Namanya direkomendasikan langsung oleh Presiden Osaka University, sebuah pengakuan atas kontribusinya di bidang teknologi pangan.

Sebagai Associate Professor di Osaka University, ia terlibat dalam riset kolaboratif dengan Harvard Medical School. Penelitian tersebut menemukan senyawa aktif baru dalam tempe, yakni meglutol, yang berpotensi menurunkan kolesterol.

Temuan itu tak hanya relevan bagi Indonesia, tetapi juga diaplikasikan dalam pengembangan pangan tradisional Jepang seperti miso dan natto agar lebih sehat.

Diplomasi Ilmiah Lewat Tempe dan Kopi Luwak

Kontribusi Sastia tidak berhenti pada riset laboratorium. Ia aktif mendorong inovasi tempe untuk pasar global, membantu peningkatan standar kualitas komoditas ekspor Indonesia, hingga membimbing puluhan mahasiswa Indonesia di Jepang.

Laboratoriumnya juga menggunakan pendekatan metabolomik untuk menguji keaslian kopi luwak, salah satu kopi termahal di dunia. Upaya ini memperkuat posisi Indonesia dalam perdagangan global berbasis sains.

Dalam berbagai kesempatan, ia menegaskan bahwa penghargaan bukanlah tujuan utama.

“Tujuannya menjadikan diri aku sendiri lebih bermanfaat untuk orang lain… bagaimana bisa menghasilkan kebermanfaatan dengan impact yang lebih tinggi,” ujarnya.

Refleksi di Tengah Polemik Beasiswa

Perdebatan soal LPDP belakangan menyentuh dua isu krusial: integritas seleksi dan komitmen pengabdian. Publik mempertanyakan sejauh mana penerima beasiswa negara benar-benar kembali memberi manfaat bagi Indonesia.

Kisah Sastia menghadirkan perspektif berbeda. Ia memang bukan awardee LPDP, tetapi contoh konkret bahwa kontribusi dapat dilakukan lintas batas negara. Melalui riset, pengajaran, hingga diplomasi ilmiah, dampaknya tetap mengalir ke Indonesia.

Pertanyaan yang kini bergema di ruang digital menjadi lebih reflektif:
Apakah pengabdian harus selalu berbentuk kepulangan fisik, ataukah bisa diwujudkan melalui jejaring global dan transfer pengetahuan?

Di tengah polemik, satu hal menjadi benang merah: investasi pendidikan, baik melalui LPDP maupun jalur lain, pada akhirnya diukur dari dampak nyata. Bukan sekadar gelar, bukan pula lokasi tempat tinggal, melainkan sejauh mana ilmu itu kembali menjadi manfaat.

Dan dari Jepang, lewat tempe, kopi, serta inovasi pangan, seorang ilmuwan Indonesia menunjukkan bahwa cinta pada tanah air bisa hadir dalam bentuk yang tak selalu kasatmata, namun berdampak luas.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Ando Momofuku Award Diaspora Indonesia Ilmuwan Indonesia di Jepang ITB Alumni Kisah Inspiratif Indonesia Kopi Luwak LPDP Nasionalisme Modern Pengabdian Tanah Air Tempe Inovasi
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Farhan Sebut Miras, Obat-obatan, dan Judi Online Jadi Pemicu Utama Kriminalitas di Bandung Raya

Cara cek bansos PKH tahap 4 2025 pakai KTP.

Cuma Modal NIK KTP! Cek Sekarang Apakah Anda Terdaftar Penerima Bansos Juli 2026

Dorong Mahasiswa KIP Kuliah Mandiri, Ledia Hanifa Gelar Kompetisi Proposal Bisnis

Proyek PLTP Patuha Unit 2 Capai Fase Vital: Mobilisasi Komponen Generator Sukses Digelar

Nasib Eks Pengurus GKI Taman Cibunut Ditentukan Senin, Sidang Praperadilan Hampir Berakhir

Farhan Pastikan Jam Malam Pelajar Berlaku Permanen di Kota Bandung

Terpopuler
  • Geliat, Tekanan, dan Arah Penanganan: Membedah Isu LGBTQ di Tanah Pasundan
  • Tampil Bugar di Usia 50-an, Duet Bos Koi Hartono-Julius Sukses Jadi Runner Up Padel Open Bandung
  • Mengenal Lebih Dekat Frank Alexander Hutapea: Pengacara Independen yang Tak Mau di Bayang-bayang Sang Ayah
  • Sidang Praperadilan Mantan Pengurus GKI Taman Cibunut Bergulir, Polisi Bantah Dalil Pemohon
  • Praperadilan Eks Pengurus GKI Taman Cibunut: Polisi Beberkan Bukti Sah Penetapan Tersangka
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.