bukamata.id – Dunia hukum Indonesia baru saja dikejutkan oleh sebuah riak konflik yang datang dari dalam keluarga yang paling sering menghiasi layar kaca. Frank Alexander Hutapea, putra sulung pengacara papan atas Hotman Paris Hutapea, melontarkan kritik tajam yang menghujam langsung ke arah ayahnya. Peristiwa yang terjadi pada pertengahan Juli 2026 ini bukan sekadar pertengkaran domestik biasa; ini adalah manifestasi dari perbedaan prinsip yang tajam antara dua generasi pengacara. Di balik sorotan tajam netizen dan hiruk-pikuk media sosial, siapa sebenarnya sosok Frank Alexander Hutapea, dan mengapa ia memilih untuk berseberangan jalan dengan sosok yang paling berpengaruh dalam karier hukumnya?
Profil dan Rekam Jejak Akademik: Menempa Integritas di Luar Negeri
Lahir pada tahun 1991, Frank Alexander Hutapea tumbuh dalam lingkungan yang sangat familiar dengan dunia litigasi. Sebagai anak pertama dari pasangan Hotman Paris Hutapea dan Agustianne Marbun, Frank memang sejak dini terpapar oleh dinamika hukum yang intens. Namun, ia tidak sekadar mendompleng popularitas sang ayah. Frank membangun fondasi kariernya dengan pendidikan yang sangat solid.
Setelah menyelesaikan pendidikan Sarjana Hukum di Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta, Frank memilih untuk memperluas cakrawala berpikirnya dengan menyeberang ke benua biru. Ia menempuh pendidikan Bachelor of Laws (LL.B.) di University of Kent, Inggris, dengan konsentrasi pada Banking, Corporate, Finance, and Security Law. Tidak berhenti di sana, untuk semakin mengasah naluri hukumnya, ia mengikuti Summer Course Business Law di London School of Economics and Political Science (LSE). Pendidikan di institusi bergengsi ini membentuk pola pikir Frank yang cenderung lebih sistematis, tenang, dan teknis dibandingkan gaya ekspresif sang ayah.
Karier Profesional: Membangun Nama di Jalur Independen
Banyak yang mengira bahwa karier Frank hanyalah kelanjutan dari firma hukum sang ayah. Anggapan itu tidak sepenuhnya tepat. Langkah profesional Frank dimulai sebagai Associate Trainee di firma hukum Hadinoto Hadiputranto & Partners (HHP). Pengalaman bekerja di firma hukum internasional tersebut memberikan Frank pemahaman yang mendalam mengenai standar kerja global yang sangat berbeda dengan gaya hukum “panggung” yang sering dipraktikkan Hotman Paris.
Setelah sempat bergabung dengan Hotman Paris & Partners, di mana ia menangani spektrum kasus yang luas—mulai dari litigasi komersial, sengketa korporasi, hingga persoalan pidana—Frank akhirnya memutuskan untuk mengambil langkah besar. Ia mendirikan kantor hukum independen bernama FRANK Solicitors. Keputusan ini bukan sekadar keinginan untuk mandiri, melainkan sebuah pernyataan profesional bahwa ia memiliki visi, etika, dan cara kerja yang berbeda.
Puncaknya, pada awal 2026, Frank membuktikan kapasitas intelektualnya dengan dipercaya menjadi Staf Tenaga Ahli Dewan Pertahanan Nasional (DPN) di bawah Kementerian Pertahanan. Ia juga pernah membuktikan komitmennya sebagai pengacara saat mendampingi karyawan Alfamart dalam kasus UU ITE yang sempat viral pada tahun 2022. Dalam kasus itu, publik melihat sosok Frank yang fokus, tidak banyak bicara, namun tajam dalam pembelaan—sebuah kontras yang jelas dengan gaya Hotman Paris yang sensasional.
Keretakan Prinsip: Mengapa Frank Bersuara Keras?
Konflik terbuka yang meletus pada Juli 2026 berakar dari keputusan Hotman Paris untuk membela mantan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus), Febrie Adriansyah. Hotman mengklaim bahwa tindakannya didasari oleh idealisme dan ia tidak mengejar materi. Namun, bagi Frank, pernyataan itu justru memicu kekecewaan mendalam.
Kritik Frank melalui Instagram Story-nya bukan sekadar luapan emosi sesaat. Ia menyoroti apa yang ia sebut sebagai “pencitraan”. Frank merasa bahwa apa yang dilakukan ayahnya adalah bentuk komodifikasi terhadap isu keadilan. Baginya, ketika seorang pengacara mengklaim membela rakyat kecil melalui program “Hotman 911” namun di saat bersamaan menggunakan panggung tersebut sebagai alat marketing, maka esensi dari bantuan hukum itu sendiri telah ternoda. Sindiran Frank soal uang angpao pernikahan adiknya, Fritz Hutapea, menjadi simbol kekesalannya terhadap apa yang ia nilai sebagai standar ganda sang ayah.
Respon Publik: Antara Dukungan dan Spekulasi
Kritik terbuka yang dilayangkan Frank dengan cepat memicu gelombang reaksi dari warganet. Banyak yang memuji keberanian Frank untuk menegur sosok yang selama ini dianggap tak tersentuh. Salah satu netizen berkomentar, “Nah ini baru keren.. Anak kritik bapak yg sdh mulai melenceng n oleng.. Jhon @gibran_rakabuming Kowe kapan iso ky anake Hotman ngene iki.. Sekali kali kandani bapakmu 😂.. Dadi kowe, aku mbalik dodolan martabak meneh kok.. Luwih berkah.”
Komentar ini menggambarkan betapa publik sangat terkejut melihat seorang anak berani menantang ayahnya secara terbuka dalam isu prinsip. Di sisi lain, ada juga warganet yang melihat situasi ini memiliki potensi dampak yang jauh lebih besar. “Berpotensi GEGERR,” tulis salah satu akun, mencerminkan antisipasi publik terhadap kelanjutan hubungan keluarga pengacara kondang tersebut.
Beberapa netizen bahkan mulai berspekulasi mengenai tekanan yang mungkin dialami oleh Hotman Paris hingga menerima kasus tersebut. “Bisa jadi bapaknya diancam atau disandera,” tulis netizen lainnya, mencoba memberikan perspektif berbeda di balik keputusan kontroversial tersebut.
Memutus Rantai: Setahun Tanpa Komunikasi
Salah satu fakta paling mencengangkan yang diungkapkan Frank di tengah polemik ini adalah bahwa ia dan sang ayah sebenarnya sudah tidak bertegur sapa selama satu tahun terakhir. Pengakuan ini menjelaskan mengapa Frank merasa perlu menyuarakan kritik secara terbuka melalui media sosial.
Keputusan Frank untuk membuka kantor hukum sendiri ternyata bukan sekadar ambisi bisnis, melainkan sebuah kebutuhan untuk “pisah jalan” secara prinsip. Frank menginginkan eksistensi profesi yang murni berdasarkan kapasitas hukum, tanpa harus selalu dikaitkan dengan trik marketing yang sering dilakukan oleh Hotman Paris. Ketika netizen menuding aksinya adalah “trik marketing anaknya,” Frank menjawab dengan ketegasan: “Gue ga perlu marketing bro.”
Menilai Frank Alexander Hutapea di Masa Depan
Frank Alexander Hutapea saat ini berdiri di persimpangan jalan yang menarik. Ia adalah produk pendidikan hukum Barat yang mengutamakan privasi dan profesionalisme teknis, yang bertabrakan dengan gaya hukum “selebritas” yang dibangun oleh ayahnya. Keberaniannya untuk membedakan diri secara publik dari sosok sebesar Hotman Paris adalah langkah yang berisiko, namun sekaligus krusial bagi integritasnya sebagai seorang advokat.
Frank telah menegaskan bahwa ia bukan “Hotman Paris Junior”. Ia adalah individu dengan standar etika sendiri, yang lebih memilih untuk dinilai dari kualitas pembelaan di ruang sidang daripada dari jumlah pengikut di media sosial. Di tengah dunia hukum yang semakin sering bercampur dengan dunia hiburan, Frank Alexander Hutapea mencoba menempuh jalan sunyi—jalan yang mungkin lebih sulit, namun bagi dirinya, jauh lebih jujur. Polemik ini mungkin akan mereda seiring waktu, namun catatan sejarah telah mencatat bahwa ada seorang Frank yang berani berkata “tidak” kepada figur paling dominan dalam hidupnya demi apa yang ia yakini sebagai kebenaran profesi.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










