Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Asian Games 2026 Hari Ini: Indonesia Turun di 21 Cabor, Esports Mulai Buru Medali

Rabu, 23 September 2026 12:47 WIB

Sempat Terkendala Alat Berat, Crossing Drainase Ibrahim Adjie Akhirnya Rampung

Rabu, 23 September 2026 12:22 WIB

10 Pasangan Nikah Gratis di MPP Bandung, Dapat KTP, KK hingga Voucher Hotel

Rabu, 23 September 2026 12:01 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Asian Games 2026 Hari Ini: Indonesia Turun di 21 Cabor, Esports Mulai Buru Medali
  • Sempat Terkendala Alat Berat, Crossing Drainase Ibrahim Adjie Akhirnya Rampung
  • 10 Pasangan Nikah Gratis di MPP Bandung, Dapat KTP, KK hingga Voucher Hotel
  • Sumber Air Menyusut Drastis hingga Ratusan Lahan Terbakar, Bupati Bandung Keluarkan Instruksi Darurat Hadapi Kemarau
  • Ngeri! Bentrokan Berdarah Diduga Ormas di Sukalarang Sukabumi, Polisi Turun Tangan
  • Kenali Perbedaan Flu Biasa dan Influenza A: IDAI Jabar Ungkap Tiga Tanda Emas yang Wajib Dipantau Orang Tua
  • DOKTER SE-TENANG INI DILECEHKAN?! Pelaku Ketikan Jahat ke dr. Gia Pratama Panik Dikejar Hukum!
  • Bukan Main! Usia 6 Tahun, Atlet Cilik Asal Cirebon Ini Sukses Sabet Juara 1 Dunia Pushbike di Thailand
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Rabu, 23 September 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Viral Gus Elham Yahya Cium Anak Perempuan: Antara Kekhilafan Personal dan Krisis Etika Dakwah

By Aga GustianaRabu, 12 November 2025 12:06 WIB6 Mins Read
Gus Elham Yahya. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Di tengah maraknya figur-figur muda yang naik daun lewat media sosial, nama Gus Elham Yahya Al-Maliki mencuat bukan karena kealiman atau ceramahnya yang menyentuh, melainkan karena video yang memantik kontroversi nasional.

Beberapa rekaman memperlihatkan sang dai muda menciumi anak kecil di atas panggung pengajian. Dalam satu video, ia tampak “mengokop” pipi seorang anak perempuan; dalam foto lain, ia terlihat mencium bibir anak kecil berkerudung merah. Adegan-adegan itu bukan hanya mengusik nalar publik, tetapi juga menampar rasa kepantasan sosial—terutama karena dilakukan oleh figur agama yang seharusnya menjadi teladan moral.

Reaksi publik pun bergelombang. Warganet menilai tindakan itu tak hanya “tidak pantas,” melainkan juga berpotensi termasuk dalam kategori pelecehan terhadap anak. Di Instagram, muncul template dengan ajakan tegas: “Tolong selamatkan anak-anak kita, Pak.”

Dalam hitungan jam, reputasi Gus Elham—yang sebelumnya dikenal sebagai pendakwah muda berkarisma—berbalik menjadi simbol kegagalan etika publik dalam dakwah.

Tudingan, Klarifikasi, dan Sikap Santai Seorang Dai

Ketika tuduhan pelecehan merebak, Gus Elham akhirnya menanggapi. Dalam video yang diunggah ulang oleh akun @santriasik_, ia terlihat duduk tenang sambil menjelaskan bahwa ada pihak yang membuat akun palsu untuk menjelek-jelekkannya.

“Bar Maghrib soan, Gus, ada salah satu oknum damel akun kuwi lho, damel akun isinya itu cuma mengelek-elek saya. Isinya cuma menebar fitnah,” ujarnya dengan logat Kediri yang kental. Ia menambahkan, “Ya Allah, sampe enek kuwi, dai muda yang bernama Gus Elham Yahya, melakukan pelecehan. Apa iki? Batinku.”

Respons yang ia berikan—menyerahkan segalanya pada Allah dan memilih “tersenyum dan ikhlas”—terdengar damai di permukaan. Namun bagi sebagian pengamat, sikap itu juga menunjukkan minimnya kesadaran reflektif terhadap sensitivitas sosial.

Ketika figur publik memilih diam atau menanggapinya dengan santai, publik justru membaca ketenangan itu sebagai bentuk penghindaran tanggung jawab. Gus Elham, dalam posisi sebagai pendakwah muda, bukan hanya menanggung reputasi pribadi, melainkan juga kepercayaan publik terhadap lembaga dakwah dan pesantren.

Baca Juga:  Jangan Tergoda! Video Ibu Tiri vs Anak Tiri 'Full No Sensor' Viral Ini Ternyata Berbahaya Banget

“Menjatuhkan tidak membuat kita lebih tinggi, menghujat tidak membuat kita lebih hebat,” katanya kemudian. Kalimat itu terdengar bijak, tetapi pada saat yang sama—ironis. Karena di tengah badai kritik, publik justru menanti introspeksi, bukan sekadar seruan moral.

Permintaan Maaf yang Terlambat

Setelah tekanan publik memuncak, Gus Elham akhirnya mengunggah video permintaan maaf pada 11 November 2025 melalui akun Instagram @fuadbakh. Dalam pernyataannya, ia menundukkan kepala dan mengaku khilaf.

“Dengan penuh kerendahan hati, saya Muhammad Elham Yahya Al-Maliki memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat atas beredarnya video yang menimbulkan kegaduhan. Saya mengakui bahwa hal tersebut merupakan kekhilafan dan kesalahan saya pribadi,” ujarnya.

Ia berjanji akan memperbaiki diri: “Saya berkomitmen untuk memperbaiki dan menjadikan peristiwa ini menjadi pelajaran berharga agar tidak mengulangi hal serupa di masa mendatang dan saya juga bertekad untuk menyampaikan dakwah dengan cara yang lebih bijak sesuai dengan norma agama, etika, dan budaya bangsa.”

Namun, publik tetap mempertanyakan mengapa kesadaran itu baru muncul setelah video viral dan tekanan sosial meningkat. Dalam pernyataannya, Gus Elham juga menegaskan bahwa video tersebut merupakan video lama yang telah ia hapus, dan bahwa anak-anak dalam video berada di bawah pengawasan orang tua mereka.

“Anak dalam video viral tersebut adalah mereka yang dalam pengawasan orang tuanya yang mengikuti rutinan pengajian saya,” katanya.

Klarifikasi ini tidak serta-merta menenangkan publik. Sebab, dalam konteks hukum dan etika, kehadiran orang tua tidak otomatis membenarkan tindakan yang berpotensi melanggar batas tubuh anak. Masyarakat tidak hanya menuntut penyesalan, tetapi juga refleksi kritis tentang bagaimana seorang pemuka agama memahami dan menjaga batas antara kasih sayang dan pelanggaran etis.

Kritik Pemerintah dan Krisis Akhlak Dakwah

Pemerintah pun akhirnya turun tangan. Wakil Menteri Agama, Romo Muhammad Syafii, menilai tindakan Gus Elham “sangat tidak pantas.”

Baca Juga:  NasDem Tegaskan Akun X 'Sahroni Berdikari' Palsu, Bukan Milik Ahmad Sahroni

“Kita sepakat dengan publik, bahwa itu tidak pantas!*” tegasnya di Gedung DPR/MPR RI, Senayan.

Ia mengingatkan bahwa Kementerian Agama telah menetapkan pedoman lingkungan ramah anak di madrasah dan pesantren untuk mencegah kekerasan atau pelecehan. “Anak-anak madrasah, anak-anak pesantren harus mendapatkan pemenuhan haknya sebagai peserta didik dan jauh dari tindak kekerasan yang tidak seharusnya mereka terima,” ujarnya.

Pernyataan ini menunjukkan bahwa kasus Gus Elham bukan sekadar persoalan individu, melainkan cermin dari lemahnya sistem pengawasan terhadap praktik dakwah yang melibatkan anak-anak.

Kemenag sendiri mengakui, kasus seperti ini mungkin “tetap ada,” tetapi perlu pengawasan yang lebih ketat. Artinya, masih ada ruang abu-abu dalam regulasi dan praktik sosial di lingkungan pesantren yang membuat potensi kekerasan simbolik terhadap anak sering kali dianggap “hal biasa.”

Gus Elham: Dari Pesantren ke Panggung Digital

Lahir di Tarokan, Kediri, pada 8 Juli 2001, Gus Elham adalah putra dari KH. Luqman Arifin Dhofir dan Hj. Ernisa Zulfa Al Hafidz pengasuh Pondok Pesantren Al Ikhlas 1 Kediri. Ia juga cucu dari KH. Mudhofir Ilyas, ulama pendiri Pondok Al Ikhlas Kaliboto.

Dengan latar keluarga ulama, gelar “Gus” otomatis melekat pada namanya—gelar kehormatan bagi putra kiai yang diharapkan melanjutkan estafet dakwah keluarga. Setelah belajar di Pondok Pesantren Lirboyo, Elham mulai dikenal lewat gaya dakwahnya yang “santai” dan dekat dengan anak muda.

Ia sering tampil dengan gaya akrab: bercanda, duduk lesehan, sambil menyapa jamaah dengan bahasa sehari-hari. Pendekatan ini membangun kedekatan emosional, namun juga memperkecil jarak simbolik antara dai dan jamaah. Di sinilah letak persoalannya: kedekatan tanpa batas kadang menumpulkan rasa waspada terhadap etika interaksi, terutama dengan anak-anak.

Fenomena ini bukan hanya milik Gus Elham. Banyak pendakwah muda hari ini terjebak dalam logika “personal branding” di media sosial, di mana kehangatan dan keakraban dipentaskan demi engagement. Namun, dalam proses itu, batas etis kerap kabur.

Baca Juga:  Ngeri! Detik-detik Pemotor dan Pejalan Kaki di Cimahi Nyaris Tertemper Kereta, Petugas Sampai Lari

Antara Cinta, Kekhilafan, dan Kekuasaan Simbolik

Apa yang disebut “kekhilafan” oleh Gus Elham sesungguhnya membuka ruang diskusi lebih dalam: tentang bagaimana relasi kuasa bekerja dalam dunia dakwah.

Seorang dai muda, apalagi yang bergelar “Gus,” berada pada posisi simbolik yang tinggi di mata jamaah. Ia dihormati, dipercaya, bahkan kadang dipuja. Dalam relasi semacam ini, batas antara otoritas spiritual dan kontrol sosial menjadi tipis. Anak-anak yang dicium bukan sekadar objek kasih, tetapi juga simbol penerimaan—dan ketika tindakan itu terjadi di ruang publik, dengan kamera menyorot, ia berubah menjadi tontonan kekuasaan simbolik.

Dengan kata lain, kasus ini tidak hanya soal individu yang khilaf, tetapi juga tentang struktur sosial yang terlalu mudah memaafkan perilaku pemuka agama tanpa refleksi kritis.

Refleksi: Saat Keteladanan Kehilangan Wibawa

Publik mungkin akan melupakan nama Gus Elham dalam waktu dekat, tetapi kasus ini meninggalkan pertanyaan yang lebih besar: apa makna keteladanan ketika seorang dai muda terjerembab oleh perilakunya sendiri?

Dalam tradisi pesantren, seorang guru disebut “mursyid”—pembimbing spiritual. Namun di era digital, peran itu bergeser menjadi “influencer agama.” Dakwah bukan lagi ruang sunyi untuk merenung, melainkan panggung visual yang menuntut ekspresi dan kedekatan emosional.

Di titik inilah, etika sering kali kalah oleh performa. Kasus Gus Elham seolah menjadi peringatan bahwa karisma tanpa kesadaran etika hanya akan melahirkan krisis moral baru di ruang dakwah.

Gus Elham memang telah meminta maaf, dan masyarakat berhak memaafkan. Namun, tanggung jawab moralnya belum selesai. Ia—dan para dai muda lain—perlu menyadari bahwa dakwah bukan sekadar menyampaikan pesan agama, melainkan juga menjaga martabat manusia, terutama anak-anak yang menjadi amanah semua umat.

Sebagaimana katanya sendiri, “Menjatuhkan tidak membuat kita lebih tinggi, menghujat tidak membuat kita lebih hebat.”

Kini, yang diuji bukan kata-kata itu—melainkan kesungguhannya untuk benar-benar belajar dari kekhilafan yang menjadi cermin bagi banyak pihak.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

berita terkini klarifikasi video viral
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Sempat Terkendala Alat Berat, Crossing Drainase Ibrahim Adjie Akhirnya Rampung

10 Pasangan Nikah Gratis di MPP Bandung, Dapat KTP, KK hingga Voucher Hotel

Sumber Air Menyusut Drastis hingga Ratusan Lahan Terbakar, Bupati Bandung Keluarkan Instruksi Darurat Hadapi Kemarau

Ngeri! Bentrokan Berdarah Diduga Ormas di Sukalarang Sukabumi, Polisi Turun Tangan

Layanan Gigi Gratis Sambangi 22 Kecamatan Bandung, Ini Jadwal dan Lokasi Lengkapnya

Kolaborasi Berkelanjutan AQUA dan DMI: Hadirkan Kebahagiaan Umroh bagi Garda Terdepan Pelayanan Umat

Terpopuler
  • Proyek Kabel Gatot Subroto Bandung Amburadul, Internet IndiHome Mati Nyaris Sepekan dan Bikin Rugi
  • Bukan Uang Biasa? Jejak Tanda Tangan Purbaya di Rp100 Ribu Mulai Dicari Kolektor
  • 118 Gempa dalam 38 Hari, Apa yang Sebenarnya Bergerak di Bawah Kabupaten Bandung?
  • Unjani dan Djarum Foundation Kolaborasi Dorong Green Campus dan Green Leadership
  • Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa
    Bursa Pilgub Jabar: Nama Purbaya Yudhi Sadewa Mulai Diperhitungkan, Parpol Pilih Wait and See
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.