bukamata.id – Di tengah ketegangan yang membara antara Iran dan Israel, publik Indonesia justru dihebohkan oleh kemunculan ulang video lawas budayawan Emha Ainun Nadjib atau yang akrab disapa Cak Nun. Video yang direkam sekitar tahun 2012 itu kembali viral di media sosial karena dianggap “memprediksi” konflik yang saat ini sedang terjadi di Timur Tengah.
Dalam potongan video yang beredar luas di platform X (dulu Twitter), Cak Nun menyampaikan analisis mendalam yang kini dianggap seperti ramalan akurat. Ia menyebut bahwa suatu saat Iran akan menjadi sasaran serangan dari Israel dan Amerika Serikat. Bahkan, menurut Cak Nun saat itu, Arab Saudi kemungkinan besar akan berdiri di belakang Israel.
“Suatu hari Iran akan diserang oleh Israel dan Amerika. Dan nanti Arab Saudi dipastikan akan membela Israel,” ujar Cak Nun dalam tayangan tersebut.
Lebih mengejutkan lagi, ia juga mengangkat pertanyaan besar soal posisi Indonesia dalam konflik ini. “Indonesia akan membela siapa? Iran atau Israel?” tanyanya retoris. Ia memprediksi bahwa rakyat Indonesia akan terpecah dalam menyikapi konflik, sebagian mendukung satu pihak, sebagian lainnya bingung atau memilih untuk netral.
Pernyataan tersebut sontak memicu perdebatan hangat di jagat maya. Banyak warganet mengaku merinding dengan ketepatan analisis Cak Nun yang seolah mencerminkan situasi geopolitik terkini.
Pemerintah Indonesia Tetap Konsisten di Jalur Non-Blok
Di tengah berbagai spekulasi publik, hingga kini belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Indonesia terkait posisi dukungan terhadap salah satu pihak dalam konflik Iran-Israel. Namun, Presiden Prabowo Subianto baru-baru ini menegaskan bahwa Indonesia akan tetap konsisten menjalankan politik luar negeri bebas aktif dan prinsip non-blok.
“Kami ingin menjaga hubungan baik dengan semua pihak dan percaya bahwa di dunia yang semakin menyatu ini, tidak ada ruang untuk persaingan destruktif yang berujung pada konfrontasi,” ujar Presiden Prabowo dalam pidatonya di Forum Ekonomi Internasional St. Petersburg (SPIEF) yang ditayangkan melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden.
Ia menambahkan bahwa Indonesia menjunjung tinggi prinsip damai dan menjalin persahabatan seluas mungkin. “Seribu teman terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak,” tegasnya.
Konflik Iran-Israel Masih Bergolak, Isu Gencatan Senjata Belum Jelas
Sementara itu, situasi di kawasan Timur Tengah masih belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Meski kabar mengenai proses diplomasi dan upaya gencatan senjata terus beredar, hingga saat ini belum ada konfirmasi resmi terkait kesepakatan damai antara Iran dan Israel.
Konflik ini menyoroti pentingnya diplomasi dan netralitas dalam hubungan internasional. Indonesia, sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar dan komitmen kuat terhadap perdamaian dunia, tampaknya tetap berada di jalur yang hati-hati dan penuh pertimbangan.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










