bukamata.id – Video viral bertajuk “Ibu Tiri vs Anak Tiri” dengan latar kebun sawit kembali menyita perhatian publik di media sosial, khususnya TikTok dan X (Twitter).
Lonjakan pencarian terhadap video ini semakin meningkat setelah muncul klaim adanya “Part 2” yang disebut-sebut berlokasi di dapur.
Namun di balik viralnya konten tersebut, pakar keamanan digital mengingatkan adanya potensi ancaman serius yang mengintai pengguna internet.
Strategi Clickbait dan Dugaan Rekayasa Konten
Video berdurasi sekitar 7 menit itu menampilkan dua sosok di area perkebunan sawit dengan narasi dramatis yang memancing rasa penasaran. Seiring viralnya video tersebut, muncul berbagai klaim lanjutan dengan judul provokatif seperti “Ibu Tiri vs Anak Tiri Part 2 di Dapur”.
Penggunaan label “Part 2” hingga caption seperti “day 1 nyawit” atau “drama ibu tiri di kebun sawit” diduga merupakan strategi clickbait untuk meningkatkan interaksi dan jumlah klik.
Sejumlah warganet juga mulai mencurigai keaslian video tersebut. Ada yang menilai bahwa pola kontennya mirip dengan video viral sebelumnya yang berujung pada jebakan tautan palsu.
Selain itu, ketidakkonsistenan latar, perbedaan kualitas gambar, hingga perubahan detail visual menjadi indikasi kuat bahwa video tersebut kemungkinan merupakan hasil editan atau gabungan dari beberapa klip berbeda.
Ancaman Link Palsu dan Risiko Keamanan Digital
Di tengah tingginya rasa penasaran publik, banyak tautan yang beredar dan mengklaim menyediakan video full durasi. Namun, link tersebut justru berpotensi menjadi jebakan berbahaya.
Para ahli mengingatkan bahwa tautan semacam ini sering dimanfaatkan untuk:
- Phishing: mencuri data pribadi seperti akun media sosial hingga perbankan
- Malware: merusak perangkat atau mengambil alih sistem
- Scam klik: hanya mengejar klik tanpa menyediakan konten asli
Artinya, niat mencari video justru bisa berujung pada kebocoran data hingga kerugian finansial.
Imbauan Waspada dan Bijak Bermedia Sosial
Pihak berwenang mengimbau masyarakat untuk tidak mudah tergiur dengan tautan yang menjanjikan video lengkap dari konten viral.
Selain risiko kejahatan siber, penyebaran konten yang belum jelas kebenarannya juga berpotensi melanggar hukum, terutama jika mengandung unsur hoaks atau melanggar norma kesusilaan sesuai Undang-Undang ITE.
Fenomena ini menjadi pengingat penting bahwa tidak semua konten viral dapat dipercaya. Masyarakat diharapkan lebih kritis, selektif, dan bijak dalam mengonsumsi maupun membagikan informasi di ruang digital.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










